Minggu, 02 Januari 2011

KASIH MURNI


Seperti biasa, Mama melotot garang pada Ola.
"Ola,mana buku yang katanya hendak kau beli kemarin ? kamu lagi-lagi membohongi mama,keluyuran kemana lagi semalam ? mau jadi apa kamu kalau tak kuliah,mau jadi tukang sayur ?"
"Mama berisik amat sih,bukunya aku taruh di loker,mama..kan berat harus bawa buku segala kerumah"
"Awas kamu kalo bohong sama mama,jangan menyesal kalo nanti hidupmu kacau..tugas mama hanya menghantarkanmu menjadi seseorang,tak selamanya mama hidup dan terus-terusan membenahi kelakuanmu,Ola !"
"Jangan berlebihan,mama ! siapa bilang hidupku kacau,kalo beberapa kali aku kabur dari rumah itu kan karena mama terlalu mengekang aku. Aku butuh teman,Mama..kayak gak pernah muda aja siih !"

Lona mendengarkan semua omelan mamanya dari balik pintu kamar," Mama selalu saja memarahi Ola,dia pasti akan tambah membangkang."batin Lona menjerit sedih.

Ola menggerutu panjang pendek sambil masuk kekamar dan bergegas mengganti pakaian. Lona duduk dan terdiam memandanginya. Sementara Indy masih bergelung dengan selimutnya dengan damai.

"Ngeliatin apaan sih,Lona...kamu enak ya gak pernah dimarahin mama,tapi kan karna kamu selalu aja dirumah dan termenung sendirian,betah amat sih..ikut aku yuuk !" 
"Gak,Ola..aku dirumah aja mau baca novel yang kemarin kubeli mumpung lagi libur kuliah."
Tiba-tiba Ola mengernyit tampak sesuatu tersentak dalam sadarnya. Dan mendelik kearah Lona.
"Kau masih saja memikirkan perkosaan itu,Lona ?! lupakan,okay..tak ada yang tau tentang hal ini kecuali kita dan pemerkosa sialan tersebut,kau kan tau si Brengsek itu sudah aku umpankan pada Bang Wedi,bandar narkoba brutal sahabatku yang sudah menikam sampai mampus si Brengsek itu di kampung rambutan,ingat ? kau baca koran yang aku tunjukkan,bukan ?" Berhenti menangisi ke apesanmu dan pergi 'hang out' bareng aku,biar kau ga selalu merasa sedih dan bermuram durja kayak orang sinting aja,huh!"
"Nantilah,Ola..aku beneran mau baca novel kok."
"Okay,whatever..aku jalan dulu deh...tha...tha...jangan pernah menangis,ingat itu,Lona !"
Ola bergegas merisleting celana jeans dan mengikat rambutnya asal-asalan sambil menyambar beberapa lembar uang pecahan 50 ribuan dari dompet Lona. Lalu berlari keluar rumah menyongsong teman lelaki yang sudah menunggunya di balik kaca mobil VW kodok butut.
"Ola..jangan bawa duit aku !" teriakan Lona hanya menghilang tertiup angin.

"Whoaaam....Lona ! jam brapa ini,kok gak bangunin aku sih ? Tabe pasti udah kesel setengah mati nungguin aku !" Indy terbangun dari tidurnya dan serta merta menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi.

Lona menggeleng sedih,mengapa mereka selalu saja tak betah dirumah dan ngobrol denganku. Aku selalu saja kesepian. Batin Lona merintih.
Sehabis mandi,Indy merias wajahnya dengan sempurna. Dikenakannya dress kesayangannya sambil menyemprotan parfum ke sekujur tubuhnya. Mematut dirinya di cermin sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang selesai di blow.
"Lona,aku pantes gak pake baju ini atau rok sama tank top aja ? gimana menurutmu ? aku mau ketemuan sama Tabe,ooooh...aku cinta sama dia Lona." 
Wajah Indy bersinar-sinar bahagia dengan senyuman yang selalu saja tersungging dibibir,khas orang yang sedang jatuh cinta. Indy terbilang cerdas,namun selalu saja mendadak tolol jika sedang jatuh cinta. Dan Lona faham betul sifatnya.
"Indy,kumohon berhati-hatilah..kau belum mengenal Tabe cukup lama,jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi,please !" Lona berucap lirih.

Belum genap 7 bulan sejak kejadian Indy memotong urat nadinya sendiri lantaran diputuskan pacarnya ,yang untung saja waktu itu Lona memergokinya dan membawanya ke Rumah Sakit hingga nyawanya dapat tertolong. Namun sifat Indy yang ceria dan mudah bergaul memudahkannya untuk melupakan sakit hatinya pada laki-laki.
Lona amat khawatir pada Indy, bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi dan dia tak ada disana untuk menolongnya. Lona sungguh khawatir.
"Lona,tolong deh berhenti mengkhawatirkan aku...kau tahu kan hidup ini memang tak selamanya indah,suka dan duka pasti datang silih berganti,justru aku yang amat mengkhawatirkanmu,Lona..keluar rumahlah sesekali,cari seorang pacar untuk membuatmu bahagia dan rasakan apa yang di ceritakan oleh novel-novelmu itu,kenyataan lebih indah dari buku-buku yang kau baca,tau ..." Indy berkata sambil mengedipkan matanya,seolah tak pernah ada beban berat dalam hidupnya. Lona bangga dengan sikap Indy,meski rasa takut masih menjalari perasaannya,toh dia tetap tersenyum dan memperingatkan Indy untuk selalu berhati-hati.

Malam merangkak naik,di sudut Bar di atas gedung Wisma Metropolitan, terlihat Ola sedang asik tertawa bersama kelima sahabat-sahabatnya,dua laki laki dan tiga perempuan. Berbotol-botol Chivas dan Tequila dituang menemani keliaran pesta yang sedang berlangsung. Richard,salah seorang sahabat Ola yang konon anak salah seorang mentri di era Soeharto, sedang berulang tahun yang ke 22 dan berniat mengajak semua sahabatnya naik kapal pesiar menuju kepulauan seribu selepas malam nanti. 
"Ola sayang,kau terlihat cantik malam ini..mana temanmu si cupu yang mengendarai VW kodok itu,kok gak diajak ?" Richard yang sedang mabuk menceracau tak jelas sambil memeluk tubuh Ola.
"Apa-apaan sih,Richard..dia mana mau diajak party party kayak begini,bisa langsung kejang-kejang nanti..hahahha !" Ola tampak limbung,tampaknya minuman beralkohol tersebut sudah bereaksi membuatnya gembira.

Di toko buku Gramedia,Indy sepakat bertemu dengan Tabe. Sambil mencari-cari buku karangan Timothy Freke yang berisi ajaran Rumi,Indy tersenyum-senyum sendiri membayangkan pertemuannya dengan Tabe nanti. Tabe pemuda yang lumayan pintar dan berpengetahuan luas serta berfikiran terbuka,Indy tak pernah merasa bosan didekatnya. Pemuda-pemuda lain yang tak kalah ganteng tetapi tolol hanya akan membuatnya jemu setengah mati. Tabe berbeda,dia tak pernah secara terang-terangan merayunya,hingga membuat Indy selalu ingin berdekatan dengan Tabe. Saat kebersamaannya dengan Tabe Indy selalu dihinggapi rasa sayang yang berlebih hingga membuatnya rindu selalu.

Hujan merintik perlahan,angin dingin berhembus memasuki kisi jendela dimana Lona sedang asik terbenam dengan novelnya. Tubuh Lona sontak menggigil,jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Ola dan Indy. Lona selalu saja khawatir,di benaknya kerap bergelayut berjuta-juta pertanyaan tentang bagaimana jika Ola hilang kendali,atau Indy kembali tersakiti, bagaimana dengan kondisinya yang sudah tak perawan lagi akibat perkosaan tersebut,masihkah ada yang mau mempersuntingnya kelak ? Lona selalu saja termenung,betapapun kuat usahanya untuk mengenyahkan kejadian tragis yang menimpanya,selalu saja muncul bayangan tentang pemerkosa tersebut yang tak lain adalah teman lamanya sewaktu SMU. Saat dimana harga dirinya musnah seketika,merasakan ciuman yang memuakkan dan benda keras yang menghantam selangkangannya tanpa ampun. Buliran bening jatuh membasahi bantalnya,hatinya sungguh terasa nyeri.

Dipelataran Taman Suropati, terlihat Indy menangis sesegukan. Tabe juga terlihat amat tidak bahagia. Orang tua Tabe menyuruhnya melanjutkan studi nya ke negri kangguru,Aussy. Dan memang itu yang di cita-citakan Tabe sejak lama,ada salah seorang kerabat Tabe yang bersedia membiayai semua kebutuhannya selama disana. 
"Indy,mengertilah..aku akan kembali untukmu dan bukankah aku selalu ada di hatimu,Indy ? percayalah padaku sekali ini saja."
"Pacaran jarak jauh itu bullshit,Tabe ! kau pasti akan melupakan aku,hikz."
Indy berlari mengejar taksi dan meninggalkan Tabe termangu sendiri. "Maafkan aku,Indy..aku harus mengejar cita-citaku dulu. I love u,Indy. " Tabe berbisik pilu.

Lorong Sanatorium di bilangan Kebayoran Baru itu terlihat lengang. Seorang Dokter sedang menjelaskan sesuatu pada keluarga salah seorang pasiennya.
"Ibunda Olly, anak Ibu mengidap Dissociative Identity Disorder dengan kata lain alter ego atau yang sering disebut dengan kepribadian ganda yang terjadi akibat adanya trauma psikis yang terjadi karna penyangkalan atas kejadian buruk yang menimpanya. Setelah dilakukan terapi hipnotis terhadap anak ibu Olly,kami menemukan tiga kepribadian yang berbeda, yaitu Lona,si pendiam yang banyak merenung dan berfikir,Ola yang tangguh,kuat dan sadis. Kemudian Indy yang cerdas,ceria dan selalu saja menuntut yang terbaik dalam hidupnya. Ketika kemarin Indy sekali lagi diputuskan pacarnya dan meminum 20 butir obat sekaligus. Itu adalah puncak dari ketidak stabilan mentalnya yang bertubi-tubi mendapatkan masalah dalam hidupnya. Diawali dengan trauma masa kecil akibat dianiaya secara seksual oleh kakak dari temannya hingga perkosaan yang dialaminya baru-baru ini hingga kemudian rasa takut yang berlebih akibat ditinggalkan seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya. Dia berusaha menghibur diri sendiri dari sesuatu yang menyakitkan dengan menciptakan kepribadian yang lain guna menampung semua perasaannya dan melindungi dirinya dari hal buruk yang pernah dialami. Malahan Indy sama sekali tak tahu tentang perkosaan yang dialaminya sendiri,yang tahu hanya Lona dan Ola. Kepribadiannya yang lain. Disini terlihat Olly menciptakan Indy yang sempurna sampai tak bisa sedikitpun mengingat akan perkosaan tersebut.. Tapi tak usah khawatir,Perusahaan obat dari Australia telah menciptakan alat simulasi audio visual dan dengan minum obat secara teratur Olly dapat hidup normal seperti orang kebanyakan.

Ibunda Olly hanya mampu menangis berlinang air mata tanpa sedikitpun mampu berbicara,anak kesayangannya tak disangka mengidap kelainan jiwa.
"Ibu tak perlu merasa berkecil hati,satu dari seratus orang di dunia berpeluang mengidap kelainan tersebut. Masih beruntung cepat ketahuan,banyak pasien disini yang malah sudah mempunyai hampir seratus kepribadian yang berbeda-beda. Dengan selalu minum obat dan terus dipantau perkembangannya,saya optimis anak ibu akan bisa hidup layak seperti manusia normal lainnya.
Di balik jendela kaca ruang Dokter tersebut, terlihat Tabe menguping pembicaraan. Rahangnya mengeras menahan kesedihan yang tak tertahankan. 
"Aku akan menunggumu dan merawatmu sampai kau sembuh,Indy..berapa lamapun waktu yang diperlukan untuk itu. Meski kau tak sembuhpun aku takkan bisa mencintai sesiapa,hatiku telah kau curi sayangku..meski tak di dunia ini kita bisa bersama kuyakin di kehidupan yang lain kita akan tetap bergenggaman." Tabe berbisik lirih sambil mengucap janji dalam hatinya.
Matahari bersinar lembut,setulus kasih murni Tabe pada Indy.

2 komentar:

Sulis Gingsul mengatakan...

Ikut bersukacita atas Blogmu ini. kita follow-folloan yuk :)

dewi_petir mengatakan...

wakakakaka....kukira pantasnya berduka cita, secara masih buta banget ttg blog, mas Sul.....xixixi

Posting Komentar

About this blog