Senin, 18 April 2011

"NONG"

Loretta terbangun dengan wajah pias. Pandangannya menyapu seluruh dinding kamar dan plafon. Tak ditemui sosok sahabatnya yang selalu menemani harinya. 
"Nong, muncullah...aku sangat merindukanmu !"
Loretta berteriak dalam hati diiringi lelehan air matanya.
Sejak mamanya mengecet ulang dinding kamar dan plafonnya, sahabat yang selalu dipanggilnya Nong, raib menghilang. Padahal mereka sudah berteman sejak lama sekali, sejak Loretta masih mengenakan seragam TK.

Loretta memang tak mempunyai banyak teman, di lingkungan sekitar dia selalu dijuluki "anak bawang" karena cenderung penakut dan pembawaannya yang pendiam. Tapi Loretta tak pernah mempersalahkannya, selama Nong sahabat sejatinya selalu ada untuk menemani hari-harinya dan meredakan sedihnya. Loretta memang suka sekali berdiam dalam kamarnya, karena dia selalu bisa menjumpai Nong disana. Nong selalu muncul pada retakan dinding kamarnya atau pada sisa rembesan bocor di plafonnya.  Nong pun bisa muncul dalam berbagai bentuknya yang lucu, hingga sering sekali Loretta tertawa-tawa senang jika Nong muncul dalam bentuknya yang baru. Terkadang Nong menyerupai peri lengkap dengan kedua sayap dan tongkat kecilnya, lain waktu berubah jadi sosok kakek tua dengan janggut yang menjuntai lengkap dengan kerut-kerut di wajahnya. Pernah pula Nong menyerupai boneka teddy bear kesayangannya, dan seribu bentuk lainnya. Namun Loretta selalu senang dan gembira karena Nong selalu menghiburnya dan menemaninya bermain sambil bercakap-cakap seru. 

Tapi mama nya tak mengerti itu, mamanya hanya mendelik galak setiap kali Loretta menceritakan tentang sahabat baiknya dan menyuruhnya tutup mulut hingga Loretta tak berani untuk bercerita apa-apa lagi pada mamanya. 
Hari demi hari dilalui Loretta dengan kesedihan yang mendalam, prestasi sekolahnya menurun drastis sejak Nong hilang. Loretta makin menarik diri di lingkungan, dia merasa makin kesepian dan tak ada lagi tempat untuk mengungkapkan sejuta gundah yang menghinggapinya. Sampai suatu ketika papa nya memberikan komik Nina, dan sewaktu membacanya di temuinya Nong disana jadi seorang tokoh dalam komik tersebut dengan rambut tergerai hitam panjang dan satu jumput rambut berwarna putih di sisi kirinya. Tapi dalam komik tersebut Nong sebagai nenek sihir yang baik hati dan dijauhi lingkungan karena dianggap penyebab timbulnya segala macam malapetaka hingga Nong pun di kejar dan diburu oleh penduduk desanya.
Nong pun sembunyi dalam kamar Loretta, karena dia nenek sihir dia bisa memasuki ruang paralel yang tidak dimengerti oleh orang kebanyakan. 
Loretta pun riang bukan kepalang, dia berjanji akan selalu menjaga Nong dari siapapun yang jahat bahkan dengan nyawanya sendiri dia akan pertaruhkan. Namun nong dengan lembut membelai rambutnya.

"Loretta, kau makin menanjak dewasa dan tak perlu kehadiranku lagi di sisimu karena masih banyak anak-anak kecil lain yang butuhkanku, lihatlah dunia luar begitu berpelangi dan berwarna. Kelak kau akan jatuh cinta pada seorang pria dan mungkin akan patah hati tapi jangan bersedih karena semua itu hanya lika liku hidup yang mesti kau jalani. Berbuat baiklah pada semua orang yang kau temui, betapapun mungkin mereka telah menyakiti hatimu."
"Tidak Nong, dunia luar amat kejam padaku, mereka selalu mengolok-olok dan menghinaku tidak seperti kau yang selalu baik padaku!" kedua bola mata Loretta mulai berkaca-kaca. Tak diinginkannya Nong kembali pergi dari hidupnya.

"Loretta sayang, ingat satu hal bahwa aku akan selalu menemanimu disini dalam hati dan pikiranmu setiap kali kau berbuat baik pada dirimu, dan sesamamu. Tapi aku akan langsung menghilang kalau kau berbuat jahat..ingat itu." Nong berkata sambil memeluknya hangat hingga Loretta tertidur dalam dekapannya.

Sekian tahun berlalu dan Loretta beranjak dewasa, seorang om nya tinggal bersamanya. Om Adi, begitu dia memanggilnya, adik dari papanya. Sering sekali mereka ditinggal berdua dalam rumah karena mama dan papanya sibuk bekerja, dan Loretta lebih sering menghabiskan waktu dengan Om Adi. Sampai pada suatu ketika sewaktu Loretta bercanda sambil main kelitikan dengan Om Adi, tiba-tiba Om Adi menindih tubuhnya dan menciuminya dengan nafas yang memburu. Loretta hendak protes tetapi bibir Om adi yang basah melumat habis bibirnya. Kedua tangan dan kaki Loretta memberontak namun tenaga Om adi lebih kuat, sampai Loretta menyadari ada benda keras yang menikam selangkangannya hingga bibirnya menjerit tertahan. Terus dan terus om Adi menghujamkan benda keras itu tanpa memperdulikan tangisannya bahkan terlihat menyeringai penuh hasrat. Beberapa menit berlalu dan om Adi terkulai lemas diatas tubuhnya.
"Jangan kau ceritakan hal ini pada siapapun, Loretta..atau aku akan membunuh mamamu yang pelit itu." desis om Adi pelan sambil mengancingkan bajunya dan melotot ke arah Loretta.

Loretta merasa terhina, tak disangka nya om Adi yang awal mulanya begitu baik dan sering sekali memberikan hadiah-hadiah kecil padanya bisa begitu amat jahat dan menyakiti fisik dan jiwanya.
Loretta marah dan menaruh dendam pada om Adi, tapi dia kembali terngiang ucapan Nong di telinganya. 

Suatu ketika om Adi memasuki kamarnya kembali sambil menenteng senapan angin dan memamerkan burung mati hasil buruannya. 

"Lihat burung ini, Loretta..mamamu akan bernasip sama jika kau berani lancang mengadukan perbuatanku kemarin !"
"Duduk sini cantik, oh Loretta tubuhmu makin indah saja !" sambil berkata begitu om Adi meraih pinggangnya dan menyurukkan kepalanya ke arah dadanya. Spontan Loretta menendang om Adi dan berlari keluar kamar. Tapi om Adi tak kalah cepat, ditarikya kaki Loretta hingga tubuhny jatuh berdebum ke lantai.
"Om, aku mau keluar..mengapa kau selalu menggangguku !" Loretta merasa bahwa om Adi akan mengulangi perbuatannya kemarin. Dan terjadilah peristiwa serupa, kebenciannya pada om Adi makin besar. Loretta harus menghentikan perbuatan om Adi.

Waktu terasa lama sekali berjalan, Loretta penasaran apakah racun tikus yang dibubuhkannya pada juice sirsak yang di minum om Adi akan bisa mengakhiri nyawanya. Sehari berlalu dan tak terjadi apa-apa,tiba-tiba Loretta menangis tersedu.
"Nong, apakah aku jahat karena membalas perbuatan om Adi padaku ?" Loretta menyesal dalam hati dan berharap racun tikus itu tak membuat om Adi meninggal, namun dia pun tak ingin om Adi terus menerus melakukan perbuatan laknatnya. Loretta berharap saat itu Nong muncul di depannya dan memberitahu apa yang harus dilakukannya. 
"Datanglah Nong, aku tak bisa atasi ini sendiri !"

Minggu, 17 April 2011

Derai di Sudut Mata

betapa derai
mengaliri sudut mata hanya sebuah noktah merah pengharapan
meski tau tak membendung laku
hempaskan beban seolah tak ada lagi nyanyian sunyi
mungkinkah aku berpura
sementara cinta yang kudamba tak lagi ada
dia hanya jelma dari setiap sosok yang kukira ada
berjalan ringkih meski tak lagi merintih
mengisi hampa dalam setiap rongga nyeri
hanya bercengkrama dengan asap rokok
dan bersandar pada ilusi

tepian galau

tlah kusisihkan
galau yang hinggap dengan namamu yang selalu ada
di tepian nista bersandingkan cinta tanpa warna
tak ada sepotong sajak mampu bersuara
selain torehan bertinta duka
yang kau pilin dalam tiap lembarnya

aku hanya berdiam di sudut
rasakan rindu dengan bibir tergigit pilu
karena ku tau tak semestinya rasa ini ada
biarlah jadi sepenggal kisah 
yang tersimpan rapi
dalam mimpi tanpa pejamnya mata

Segitiga Acak Episode Ulang Tahun Si Bengal ( I Wayan Suardika ) ; Cerita Oleh D'Lebayz ( Dieth, Petir, Gie )

Dengan langkah gontai dan pesimis yang mengental, Violet mulai mengumpulkan ingatan tentang seorang sosok yang berarti besar pada perkembangan jiwa, dan hasratnya untuk menulis. Entah apa kado yang pantas di berikan untuk seorang yang dianggap Violet pahlawan, guru, sahabat, dan kakak laki-laki yang selama ini selalu memompa semangatnya untuk meluapkan emosi Violet yang kadang tak terkontrol. Bli Wayan, begitu Violet memanggilnya telah mendorongnya sampai batas maksimal untuk menorehkan berjuta-juta aksara lewat puisi, cerpen maupun cerbung.

Meski pada awalnya Violet sempat kepincut dengan pesona si Bulukan ( ..ups...panggilan sayang Vio, Tari dan Dee) tapi semua kisah berakhir tanpa siapapun merasa tersakiti ataupun ditampik, dengan bijaknya Bli Wayan mengayomi Vio lewat janjinya bahwa dia akan menjadi sahabat sejati Vio, yang saat-saat itu merupakan masa yang dianggap Vio adalah yang paling berkesan. 

Pernah suatu ketika Vio membuat puisi yang ada kata petir nya, serta merta Bli Wayan mengolok-oloknya dengan memanggilnya Dewi Petir, meski awalnya agak sebal dengan kekejamannya, namun lama kelamaan Vio entah mengapa mulai menyukai nama itu.

BLETOKKKK...!!!
Sebuah bakiak mendarat mulus di kening Vio.
"Colmeett...Lo ngelamun aja sih, buruan bikin kado buat Bli...muke gile lo, liat noh fans nya die udah bererot ngasih ucapan selamat, masa kita sebagai penghuni lawas pondok merana santai-santai aje sih !" Dee menggerutu sambil manyun lebay.

"Somprettttt ....dasar kudanil centil, kodok bangkong, upil kera !!!
"Lo kagak tau apa gue lagi setengah mampus nih mikirin kado yang tepat buat Bli, malahan di timpuk bakiak. Sesekali timpuk pake dollar kek biar gue nyengir...rrggghhhh!" dengan muka merah padam menahan geram Violet berlari ke dapur dan sibuk mencongkel hidung dalam-dalam seraya bertekad kali ini tidak boleh gagal untuk memasukkan gumpalan upil yang menjijikkan yang baru saja diperoleh dari hidungnya kedalam gelas kopi Dee.( sukuriiin......wkwkwkkwk )

"Ada apa sih ribut-ribut, gimana udah selesai belum rembukan bikin kado buat Bli !" dengan langkah ringan Tari duduk manis sambil memamerkan rangkaian puisi dan cerita mini pribadinya kepada Dee dan Vio.

"HAAHH !!! udah selesai bikinnya nih, trus kita berdua gimana dong, Tari ?"
Dengan muka pucat Dee dan Vio saling berpandang-pandangan dongo.

Seketika itu juga Dee dan Vio langsung lari tergopoh-gopoh untuk menyelesaikan kado terbaik yang bisa dipersembahkan kepada Bli mereka, meskipun mereka tau persis bahwa Bli amat mengharapkan kado yang berupa uang tunai, konon untuk menambah modal produksi untuk buku novel teranyar dan perdana dari anak didik beliau yang paling disayang, yaitu D'Lebay. *siap2 dijutekin fans Bli yang lain*

Apalagi yang paling pantas untuk sebuah kado ulangtahun, selain doa yang tulus dari sahabat terbaik di seluruh semesta, tentu butiran doa yang tak putus-putus, bukan. Seperti itu pula, Dewi petir ngeles dalam hatinya ketika otaknya menyuruh untuk pergi ke mall dan membeli kado untuk Bli. GUBRAAAAakkkksss...

Selamat Ulang Tahun Bli Wayan sahabat sejatiku, semoga kesuksesan, kesehatan dan kebahagiaan selalu menaungi langkahmu :)

Mundur kebelakang
Berhelai halaman tak terbilang kenang
Kutemui kau bermendung awan gelap
Duka berkelambu tawa

Berpegang erat jantung burai darah luka
Kau genggam hati cerabut mimpi
Sodorkan pena tuk aku papar segala
Jadikan abjad pengobat nestapa

Tunjuk jalan lurus;daki angan ke puncak asa
Meski getir pahit nyinyir renda setiap langkah
Padiku selalu merunduk tak pernah ia berpongah

Jumat, 08 April 2011

"V"

Ada suatu perbincangan menarik yang tertangkap telinga, " Jeung, sialan banget deh laki gue, sehabis ML semalem laki gue kepergok sedang kumur-kumur pake coca cola, katanya untuk menghilangkan bau dimulutnya karena habis melakukan oral."

Banyak perempuan yang sadar atau tidak telah melalaikan kebersihan organ kewanitaannya, padahal untuk yang sudah menikah hal itu amat perlu dijaga karena bukan tidak mungkin seorang suami akan melirik wanita lain karena "gatal" ingin mencoba "rasa" yang berbeda, yang tidak berbau dan seharum bunga. Perasaan bahwa tidak ada masalah dalam organ kewanitaannya membuat  para wanita kurang memperhatikan kesehatan organ kewanitaan dan lebih suka merawat wajah, padahal keduanya sama pentingnya. Banyak penyakit serius seperti kanker, keputihan, bau tak sedap, infeksi vagina dan kandung kemih yang disebabkan oleh bakteri salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya perawatan

Ada berbagai macam solusi yang bisa di coba, salah satunya Ratus. Biasanya tersedia paket-paket menarik dari salon kecantikan dengan harga yang beragam, mulai dari puluhan ribu sampai berjuta-juta rupiah. Perawatan Ratus sendiri bisa dilakukan dengan dua metode yaitu dengan penguapan dan pengasapan. Metode dengan penguapan hanya meminta kita untuk duduk diatas bangku khusus yang bagian tengahnya berlubang, dibawah lubang diletakkan air hasil rebusan rempah-rempah yang masih panas. Jangan lupa untuk meregangkan kaki ke sisi kiri dan kanan agar uap dari rempah tersebut tepat mengenai sasaran tembak. heuheu...

Selain daun sirih yang memang populer diketahui untuk membersihkan organ intim, manjakani (oak galls) juga dikenal sebagai "herbal ajaib" kaya akan tannin untuk mengencangkan otot miss "V" , vitamin A dan C, kalsium, protein serta mengandung elemenastringen untuk menghilangkan bakteri dan jamur penyebab keputihan juga menambah daya "cengkram". 

Beberapa khasiat manjakani diantaranya menghilangkan gatal-gatal, keputihan, bau yang kurang menyenangkan, mencegah penuaan dini, meningkatkan hormon estrogen,mengobati sakit maag , megurangi sellulit, mencegah kanker serviks dan kanker payudara. Manjakani juga aman diminum dan bebas efek samping karena alami. Ada juga penggunaannya selain diminum juga bisa dioles atau dimasukkan ke dalam organ kewanitaan sesaat sebelum berhubungan suami istri.

Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah perawatan dari dalam, bisa berupa kunyit asem dan sirih. Dan hal lain yang juga penting adalah perlunya mencukur bulu di sekitar organ intim secara teratur, meskipun jangan terlampau gundul karena selain nanti tumbuhnya akan terasa gatal dan iritasi, bulu juga menjaga agar kuman yang ada didalam maupun diluar tak leluasa keluar masuk miss V. Cukup cepak, jangan terlampau gondrong. ( wakakakaka)



ps; berhubung tak ada inspirasi untuk menulis puisi, sesekali mencoba menulis essai..essai bukan nih yaak namanya, atau hanya artikel gak jelas....bodo ah....:D :D :D

Senin, 04 April 2011

Berbilas Busa

: dosa
harap (ku) berbilas busa
agar tak lagi bernoda
pun tak tersaru tawa
singkir (ku) segera

: kenang
tak mesti jadi lamunan
harusnya ada dalam buaian
saring emas buang pias
gelontor deras tak buang nafas

: cinta
antara ada dan tiada
rangkum mimpi dulang nestapa
mengapa tak belajar jua
hidup cuma sementara

: kasih
ada di tiap hati yang rintih
memerih oleh pucat yang memutih
elak suka bermandikan air mata
tak sadar tlah hilang warna

: sayang
terlukis di segala tatap wajah
merupa bayang ikuti langkah (ku) terbang
hati meluap tak habis (ku) jelang
tak lekang oleh sebab jalang

: rindu
berpayung teduh paras (mu) tuju
tak hilang akal hanya tumit terpancal
berbisik tanya di segala yang ada
harap temu sosok di balik perunggu

noda di wajah malam

betapa noda tetaplah hitam
takkan terhapus meski larut dengan garam
takkan menepi meski renda dengan tawa
tak pantas diri menerima bahagia

kulihat ke sebalik cermin 
diriku lebih cemar dari air comberan
busuk lelakon lebih bacin dari sampah jalanan
tak sanggup aku menatap kedepan

ajari aku berani tatap matahari
tuk meraup malam sepeninggal dia pergi
sudahi saja mimpi buruk sampai disini
bilakah itu mungkin 
atau hanya asa tertiup angin

atau inilah hukuman 
bagi jemariku yang jalang
rangkul bulan seolah keindahan
tak sadar itu hanya merupa bayangan

padamu

ku serahkan kau pada semesta 
dimana kau terlahir kala itu
ku kemas rapat hati tuk gamit luka 
berharap tawa kan terlukis kembali

pada angin kulihat secercah senyummu
pada hujan kulongok masih berupa riuhmu
pada tanah yang kuinjak kuraba hadirmu mengabu
pada mendung yang menggulung ku cari arti hadirmu dulu

kutunaikan janji pada matahari
kibaskan derai perih yang mengerak dalam nadi
dan entah dimasa nanti
bilakah aku tak mengingatmu kembali

dalam tiap bait doa masih namamu 
yang bersandar memeluk hatiku
dalam tiap tarikan nafas
masih saja namamu yang mengalun

ikhlaskan aku, Tuhan

Bocah Kecil

Bocah kecil itu masih asyik melihat ke ujung jalan, diingatnya ucapan ibunya malam tadi, "Ayahmu kan datang nak, tunggulah sebentar dan bersabarlah !"

Mata nya  berbinar penuh harap dan sejuta mimpi gelayuti akar pikirannya. dibenaknya terhampar berlembar-lembar tanya, " seperti apa rupa ayahku, apakah mirip denganku atau aku lebih menyerupai ibuku.."

tatapannya menerawang jauh ke sudut cakrawala, dalam otaknya tergambar sosok ayahnya yang pastilah sangat luar biasa kerna ibunya amat mencintainya, tak ada hari yang dilewatinya sejak kecil tanpa kisah-kisah tentang kepahlawanan ayahnya dan welas asihnya terhadap mereka yang kurang beruntung,  dan air mata yang menetes dari dua bola mata dan bibir ibunya yang bergetar menahan rindu akan hadirnya sang ayah.

pernah bocah itu menanyakan kepada ibunya, " jika ibu mencintai ayah dan ayahpun sayang pada ibu, mengapa ibu selalu menangis, bukankah cinta seharusnya membuat bahagia ?"
ibunya menjawab dengan senyum yang di kulum dan mata yang berkaca kaca, " anakku sayang, tangisan ibu tak melulu tentang kesedihan ataupun kedukaan, ia lahir dari rasa syukur yang berlebih kerna ibu bisa tetap merasakan cinta dari ayahmu meski sosoknya tak lagi ada di samping kita, nak.."

si bocah dengan kepolosannya menukas, " apakah ibu tengah berbohong padaku ? karena aku tak pernah menangis jika aku bahagia, aku tertawa-tawa dan tersenyum pada semua temanku dan aku pasti menangis jika lututku terluka ataupun  ada teman teman yang mengejek atau menggangguku. aku tak percaya, bu !"
bocah itu merajuk sambil mencebikkan bibirnya yang semerah delima.

"ayo ikut ibu nak, akan ibu tunjukkan sesuatu."
di gandengnya jemari kecil bocah itu, dibawanya menyusuri pantai dan dipungutnya sebuah kerang.
mereka berdua duduk di bawah pohon kelapa di pesisir pantai itu, rambut ibunya meriap-riap terbawa angin dan mengenai mata bocah itu.
"ibu, mataku kelilipan, perih sekali !"
bocah itu meringis dan matanya berkerjap kesakitan.
"maafkan ibu, nak."  diikat dan disanggul rambutnya, di kecup kening bocah itu sambil di elusnya kedua pipinya yang ranum.
"kau lihat kerang ini, dia pun kerap menjerit kesakitan kala sebutir pasir mengoyak dagingnya yang lembut. namun kerang selalu bersabar hingga air mata yang membalut pasir itu merubahnya jadi sebutir mutiara yang mahal harganya, begitupun dirimu anakku. kesabaran tidaklah berbatas, bertahanlah semampu tubuhmu bisa menahannya dan biarkan Tuhan yang memberikan upah atas semua kesabaranmu dan jangan mengeluh atas semua sakit yang kau derita kerna sesudahnya kau akan menerima kebahagiaan yang tak terhingga bahkan tak pernah di bayangkan oleh manusia lainnya."

"tapi anak-anak lain sering mengejekku, ibu...mereka bilang aku tak punya ayah, dan aku tak layak bermain dengan mereka." bocah itu terisak sambil memeluk tubuh ibunya.

"anakku sayang, kerang mutiara pun sering diejek oleh kawan-kawannya kerna mau saja bersabar oleh tikaman pasir yang mencolok matanya, tapi lihatlah yang terjadi..kerang-kerang yang tak sabaran itu hanya jadi santapan manusia di kedai-kedai seafood pinggir jalan. dan mutiara yang bertahan oleh kesabarannya akhirnya berbuah sebutir mutiara yang berkilau dan mampu membuat senang siapapun yang memandangnya, hidupmu adalah pilihanmu anakku."

terbitlah senyum bocah itu seterang sinar matahari pagi, difahaminya kini mengapa ibunya selalu menangis. ditatapnya lautan yang seolah tak bertepi dan diyakininya kini ayahnya kan datang bersama gulungan ombak samudra, berdua mereka berangkulan menatap ujung semesta raya, sebutir doa dan sebaris pengharapan menggelinding dari bibir ibunya. bocah itu bernama 'puisi' yang tak sempat mengenal ayah kandungnya.

selepas dini hari

kaca dua arah
cerita kisah memerah
dua pasang mata saling tatap tanpa bicara
hanya senyum penuh makna

apakah kau masih ingat itu, kasih ?
ruang hening dimana aku bertopang dagu kini
jadi saksi oleh riuhnya misteri
tentang aku, kau, dan hati yang saling menyenggamai

bahagia berpelangi di angkasa
pendar rasa berkilau di segala warna
jantung  melonjak oleh sapa hangatmu nan manja
rajuk kau pilin bersamaan detak jam yang selalu menggoda

batang rokok terhisap tuk redakan gemuruh dalam dada
sesap kopi pelan di teguk tuk sekedar tutupi buncah jiwa
raga kita berdua berselimut cinta yang dikira rayuan semata
dan hadir tanpa di duga rasuki pori susupi lembar asa

dan kini
rinduku tenggelam dan lontar keangkasa
memaki, tangisi, tertawai, lalu diam seribu bahasa
getar jemari dan kernyit kening kian sakit
cacah otak hingga terdampar pada kelopak kamboja 

selepas dini hari lima bulan yang lalu
seretku pergi dari warasnya diri
terantuk pada lubang tanpa tepi
janjiku dulu kan selalu kupenuhi

untuk takkan pernah bosan padamu !

pilihan

ranting kanan pegang kelewang
ranting kiri pegang parang

kanan di titah tuk bunuh kenang
kiri di perintah tuk bunuh bayang

suara bising itu menguburhidup
kecoa busuk yang hanya berupa letup

gadis kecil menggenggam setangkai melati
disimpan bersama untaian basa basi
dikunjunginya ruang sunyi yang iris nadi
dia tahu dia selalu akan kembali

untuk mati

Minggu, 03 April 2011

merah dadu

jikapun dunia menenggelamkanku
tak apa
selama aku tahu di dasar lautan 
ada kau yang menungguku
dengan senyum tersimpul rindu
bersama hati semerah dadu

meski bukit luas menutupi pandang
tak apa
kerna kutahu kau selalu kenang
dan tak pernah bimbang
bertegak diatas yakinmu
pada aku yang bukan sesiapa

pada akhirnya aku[kau]
saling berbicara antar hati
meski mulut kita selalu ingkar kata
bergurat tawa menutupi isak tangis
memaki kotak yang halangi tindak laku
pun sembunyi di ke empat sudutnya
terpojok oleh telunjuk yang hujami kening


you're always on my 'mind' |

About this blog