Atlantic Bar and Resto. Kalau menilik dari namanya otakku langsung membayangkan menu makanan dan minuman yang mahalnya ampun-ampunan, untungnya aku hanya diajak kekasihku yang datang kesana untuk melobi klien-kliennya.
Di sudut bar yang lumayan gelap,aku duduk berusaha tak menarik perhatian siapapun. Aku tau persis bagaimana watak kekasihku yang cemburuannya kadang bikin kepala bertanduk. Kembali kulihat Rara,begitu nama yang tertera di 'name card'nya. Ayu dan ramah,tapi sering kuperhatikan dia akan melotot garang manakala ada pengunjung mabuk yang iseng menjawil tubuhnya. Tidak seperti kebanyakan pelayan di tempat itu yang akan berpura-pura tersenyum karna tuntutan pekerjaan.
Setengah jam berlalu,aku mencium kedatangan Ray,kekasihku. Dengan bau parfum menyengat yang harganya konon cukup untuk menggaji satu orang pelayan di Cafe ini selama sebulan. Sungguh menyebalkan,manakala bangsa ini tertimpa bencana tak berkesudahan,dia malah asik-asik beli parfum sialan itu,mending kalo wanginya menebarkan bau surga,hidungku hanya mencium wangi daun busuk saja yg mengoar.
"Halo sayang,lama amat sih...aku kan udah cape nunggu daritadi." tuturku sambil memeluk tubuhnya dan memutar bola mata.
Bukannya aku tak cinta atau apa,Ray sangat perhatian,lumayan tampan,dan dia juga yang membiayai kuliah adikku di perguruan tinggi. Dan satu yang bikin aku mabuk kepayang,dia suka menulis catatan kecil berisi perasaan cintanya padaku, yang sungguh langka ada di jaman sekarang yang kebanyakan prianya menganggap pernyataan cinta melalui surat adalah kegombalan yang'lebay'.
Makin malam suasana makin 'panas' . Dan aku yang sudah tak lagi suka dengan dunia malam terpaksa lebur dengan suasana dengan memesan Black Russian,campuran antara vodka dan kahlua yang rasanya mirip-mirip kopi dan aku tau persis macam-macam minuman karena pernah satu tahun selepas kuliah bekerja di bar,dan sebenarnya sudah hampir muak dengan suasana tempat hiburan malam karena yang terpancang di otakku semua pengunjungnya membawa sepasukan setan dalam diri mereka,mungkin juga aku salah satunya pada malam ini. Berhubung semua biaya pengeluaran untuk melobi di keluarkan kantor,aku sekalian pesan steak saja pada malam itu,agar tak perlu lagi makan nanti di kost-an sepulangnya dari tempat ini.
"Ling!" Ray memanggilku dengan sebutan sayangnya yang senenarnya sangat aku benci. Namaku adalah Delia,tapi Ray lebih senang memanggilku dengan 'ling' singkatan dari hitam keling. Yang memang kulitku rada hitam manis,tapi menurut sebagian orang eksotis entahlah hanya upaya untuk menyenangkan hatiku saja atau memang aku ini eksotis dengan hidung mancung bak Helena,kekasih Don Vito dalam film Godfather. Aku selalu menekan rasa sebalku dengan panggilan itu dengan membayangkan aku adalah Helena dimana aku sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan mobster,gangster mafia Itali.
Selagi Ray melobi kliennya,yang aku pun bingung dengan apa yang bisa mereka perbincangkan di tempat sebising ini,aku berusaha menikmati suasana dengan sesekali turun ke dance floor yang tentunya dijaga oleh beberapa teman Ray yang aku sudah kenal dengan baik. Sekilas pandang ekor mata ku melihat ke arah Rara yang sibuk membawa minuman kesana kemari sambil sesekali tangannya masuk kekantong menerima tips dari pengunjung bar tersebut. Entah mengapa aku tertarik dengan perempuan itu,usianya hampir sebaya denganku,namun aku melihat kematangan dan kearifan dari wajahnya yang jarang sekali ditemui pada perempuan seusiaku yang kebanyakan hanya memikirkan karier dan main saja.
Keesokan harinya di halte tempat aku biasa menunggu bis untuk bekerja pada salah satu Hotel di bilangan Sudirman, aku bertemu dengan Rara. Ditempat seterang ini kulihat wajahnya cantik sekali dengan kulit kuning langsat bercelana jeans dan tas ransel dipundaknya. Sementara aku berpakaian blazer,pakaian kebesaranku untuk pergi ke kantor.
"Hai,kamu Rara,kan ? " Masih ingat aku ? "Semalam kita bertemu,lupa yaa?"
"Eh,Mbak Delia ngapain di sini ? tanya Rara sambil tersenyum ramah.
"Nunggu bis,Ra..aku mau berangkat kerja."
"Loh kok gak dianter pacarnya?" Gak bawa kendaraan,Mbak ?
"Rara..rara..meskipun aku berpakaian blazer gini,gajiku gak jauh beda sama kamu,Ra..hanya tampilan luarnya aja yang beda,seolah aku ini bergaji besar atau apa,hehehe.."Aku tertawa kecil meski dalam hati miris.
Sambil menunggu bis kami berbincang-bincang seru tentang suasana heboh semalam,dan aku bertukar nomor handphone dengannya sambil berniat dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan suatu ketika,karena menurutku Rara sangat menyenangkan dan hangat.

0 komentar:
Posting Komentar