Jumat, 07 Januari 2011

Keluar dari raga


Hujan jatuh berdenting di taman.
Luzy terbelalak seketika menatap jasadnya yang terbujur kaku. Darah menggenang mendirikan bulu roma. Dari mulutnya sendiri dia lihat busa yang berbuih. Hening melingkupi segala. Apa yang terjadi dengannya,sungguh dirinya tak mengerti. Tak mungkin dirinya mati disaat nafas hidupnya sedang berkobar-kobar. Disekitar kamar itu masih dilihatnya asbak yang penuh puntung, dan satu batang yang masih menyala dengan abu yang terkulai sekarat.

Di ruang sebelah terdengar riuh tawa yang memekakkan telinganya,entah apa yang mereka tertawakan. Luzy tak ingat lagi kapan dia pernah merasakan tawa,apalagi bahagia. Namun Lusy pun tak jua mampu mengingat kesedihannya,seperti apa rasa sakit itu.
Dunia sekelilingnya tanpa warna,hitam putih belaka. Kilasan hidupnya terputar jelas di pelupuk mata,semua penuh dosa penuh aib dan hina. Tergambar buku catatan papa nya yang menuliskan tanggal dan jam berapa dia kabur dari rumah saat itu, juga sakau nya pada bubuk sialan itu, yang menghantarkannya berkali-kali pada jurang kematian dan keberuntungan yang masih setia menemaninya kala itu.
Namun Lusy pun ingat masa itu telah terlempar jauh di belakang. Dia sempat hidup normal,tanpa ada yang tahu siapa dia sebelumnya betapa mereka akan mengejek ketololannya di masa lalu,pernah seseorang berkata dengan santainya, 
"Kalau aku memang badung,tapi gak pernah tuh menyentuh barang begituan !" cibirnya sinis,seolah aku mengidamkan hidup dalam neraka,dasar sial. Namanya Ais,  dan saat itu juga sungguh kepengen memalu kpalanya dengan palu godam hingga sekujur tubuhnya mblesek ke tanah.

Tak  disangka tak dinyana, setelah ejekannya yang memuakkan itu Luzy dan Ais makin dekat seolah ada benang merah yang menghubungkan mereka. Puisinya dahsyat,kata-katanya luar biasa 'luebhay'. Serupa dengan Luzy. Meski Luzy yakin sekali Ais pasti sangat keberatan dibilang berlebihan.

Hari-hari mereka lalui dengan teramat manis,saling puji canda tawa bahagia berjejer langkah dengan keceriaan.  Namun hanya sekejap,seminggu kemudian kenyataan memukul telak. Kala Ais bermain-main dengan perasaan Lucy dan Lucy dengan bodohnya menikamnya ke dalam hati.

"Lucy,kita main gombal-gombalan yuuk !" Ais berkata dengan entengnya.
"Hayuu,aku pun suka di gombalin tanpa merasa dikibulin." Lucy pun menjawab dengan santai.
Suasana mengalir tenang dengan riak rayu puji dan tawa tanpa disadari sukma saling bertukar tempat. Ais ucapkan hal yang selama ini di hindari.
"Lalu aku harus bagaimana, kau kan sudah ada yang punya.
Lucy dan Ais terdiam dalam nyeri yang menusuk. Lucy tak sanggup hadapi kenyataan dan tinggalkan Ais termangu menunggunya di taman. Lucy terisak mengaduh,menangis sejadi-jadinya betapa dia sangat mencintai Ais. Meski tahu hal itu tidaklah mungkin jadi kenyataan.

Ais berteriak-teriak di taman,menyuruh Lucy kembali. Tapi Lucy tak mendengar. dia sibuk dengan galau nya. Hingga Ais pun letih menunggu dan mengancam untuk tak akan menghubunginya lagi lewat pesan singkat.

Esoknya Lucy tersadar, telah tinggalkan Ais sendirian di taman yang dingin dan pekat itu,dan mencoba mencari bayang Ais diantara pepohonan jati. Namun hanya hening yang menjawab panggilan Lucy. Terlambat dia menyadari kepergiannya.

Kepedihan di hati Lucy susul menyusul dengan kerinduan yang makin tanak. Harapannya timbul tenggelam seiring matahari yang selalu bersinar garang. Meski mendung dan gelegar badai menghampiri Lucy. Dia tetap menunggu kedatangan Ais, karna Lucy yakin Ais pun rasakan hal yang sama. Karya-karya Ais yang beredar di majalah langganan mereka berdua semuanya menggambarkan betapa pilu nya rindu yang juga di rasa Ais. Betapa agungnya cinta yang dia punya. 

Ternyata waktu menyembuhkan luka,meski bekasnya masih meninggalkan parut. Saat sakit hati itu hampir sembuh,Ais datang hantarkan senyuman.
"Lucy,apa kabar ? kemarin aku datang ke kotamu."
"Mengapa tak kau hubungi aku,Ais ?" sekuat tenaga Lucy menekan datar suaranya agar terlihat wajar sementara hatinya melontar ke angkasa raya.
"Ah,tidak..Aku tak ingin merepotkanmu." sangat khas Ais yang di rasa Lucy selalu saja kurang 'pede' di balik kehebatannya.
"Mengapa kau bilang begitu,Ais ?" Kau tahu persis bahwa kau selalu kuharapkan." desis Lucy parau tak sanggup lagi menahan air matanya jatuh keluar. Sungguh Lucy amat merindukannya. Lalu Ais pun kembali menghilang, untuk kedua kalinya meninggalkan Lucy dalam kubangan air mata yang entah kapan akan bisa surut.
"Mengapa kau hadir lagi,Ais ? jika hanya untuk menggorok nadiku untuk kedua kalinya." desah Lucy getir.
Lucy pun oleng kehilangan kendali. Dia marah pada Ais, marah pada rasanya sendiri. Marah pada waktu dan jarak yang mencemooh ketidak berdayaan mereka. Lucy tak sanggup hadapi dunia, jika patah hati percaya dirinya menukik tajam didera pertanyaan atas kekurang sempurnaan dirinya yang mungkin mengakibatkan Ais meninggalkannya. Lucy membenci dirinya,hidupnya dan segala tentangnya. 
Namun tak ditampakkannya pada siapapun. Dikuncinya rapat rasa gundahnya. Diselubunginya dengan tawa. Dipermanis dengan senyuman. Tak dihiraukannya lagi 'sakit hati' itu menggerogotinya dari dalam,membunuh dirinya pelan-pelan.
Seseorang muncul,menawarkan rasa yang sama. Menggetarkan cinta yang dulu pernah ada. Meski tak terucap dalam kata namun Lucy mengerti apa yang Udy,nama laki-laki itu inginkan. Lucy sempat berbahagia,dia kembali menemukan cintanya meski dalam sosok yang lain. Tiba-tiba seorang sahabat menyentil sadarnya agar dia tak lagi ceroboh memberikan hatinya cuma-cuma. Bahagia pun sirna,kembali Lucy terjatuh dalam jurang penyesalan,mengapa dia tak pantas merasakan bahagia. Mengapa kesadaran selalu muncul terlambat. Lucy terjatuh dalam pekatnya malam. Dadanya tertancap belati yang teronggok dipinggir kamar. Tepat di jantungnya !
Lucy melangkah keluar dari raganya. Merasa kosong yang tak terhingga,menyadari dia bukanlah apa-apa. Belumlah cukup bekal untuk menghantarkannya ke surga. Memohon agar waktu bisa di putar kembali dan memperbaiki semua kekhilafannya. 
"Maafkan aku Tuhan,selalu saja melupa akan kebesaranMu. Mengabaikan nikmatMu yang berlimpah atas diri,membesar-besarkan rasa yang tak semestinya ada.

GEDUBRAAAAKKKKK !!!!
Lucy terjatuh berdebum dari meja komputernya. Ternyata dia tertidur sewaktu online di situs jejaring sosial "freakbook".
"OH,SHIT !"  Gue rupanya ketiduran lagi sambil nge'freak' !"  
"Bener-bener bikin 'addict' nih !" 
Lucy mati suri dalam mimpinya,dan terhuyung-huyung menuju kamar mandi sambil bersenandung kecil.



                                                        

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog