Senja merangkum kelam.
Seminggu berselang sejak pertemuanku dengan Rara,kami menjadi semakin dekat. Rara sahabat yang sangat perhatian dan penyayang. Aku bersyukur telah mengenalnya. Sampai pada suatu ketika kami bertandang kerumahnya,dan aku menemukan seorang laki-laki kumal setengah baya yang diakuinya sebagai ayahnya tengah marah-marah di teras depan. Matanya memancarkan sorot mata bengis dan mengerikan ditengah teriakannya yang membuat tetangga sekitar menengok ingin tahu.
"Dasar,Kau perempuan lacur tak tahu diuntung ! Sudah sukur kau kuangkat dari jalanan,sekarang kau tak mau menjual emasmu buat aku..istri macam apa kau !" Plaakkk!
Didepan laki-laki itu terduduk sesosok wanita lusuh dengan air mata berderai ia mohon pada suaminya untuk tidak menjual satu-satunya harta benda yang mereka miliki.
Rara seketika lari tergopoh-gopoh dan memberikan sejumlah uang pada lelaki itu dan kulihat seringai lebar di wajahnya yang memuakkan. Dengan wajah yang rikuh Rara mempersilahkan aku masuk seraya minta maaf atas kejadian barusan.
"Maafkan aku Ling..Bapak memang tabiatnya seperti itu,jangan kaget ya !"
"Ah,gapapa Ra..nyantai..".lagakku sok 'cool' padahal hati ketar ketir takut kalau-kalau lelaki beringas itu datang lagi dan mencak-mencak kayak orang gila.
Baru kemudian aku tahu bahwa lelaki itu hanya Bapak tirinya,namun yang buatku tak habis fikir kenapa Rara tak berani marah pada lelaki itu. Padahal biasanya kulihat Rara bukan perempuan lemah.Ketika hal itu kutanyakan padanya Rara hanya menjawab enteng seolah tanpa beban.
"Ibuku mencintainya,Ling..dan bagaimanapun dia tetap ayahku,aku harus tetap menghormatinya.
Saat itu aku hanya terdiam sambil memaki dalam hati.
Malamnya Ray menjemputku sambil membawakan sekotak kecil bungkusan dengan pita merah jambu diatasnya,aku pun melirik bungkusan itu dengan perasaan sebal. Ray tahu persis bahwa aku membenci warna pink dan pernak pernik kekanakan.
"Met ulang tahun sayangku,Ling..ayo dibuka kadonya..pasti kamu suka !"
Meskipun sedang sebel namun aku toh tak mampu sembunyikan cengiran kuda dari wajahku,yah..kadang kuanggap berkah sekaligus kutukan Tuhan buatku. Yang mudah sekali lumer oleh kebaikan sekecil apapun.
Bagaimana tidak mendongkol aku,sudah berselang satu minggu sejak hari ulang tahunku yang ke 25,Ray baru mengucapkan selamat padaku,bahkan aku hampir telah lupa akan hari berkurangnya umurku itu. Tapi tak apalah,toh tak ada kata terlambat buat sebongkah kebaikan dan secuil perhatian yang tulus,itupun jika desakanku pada Rendi,sahabat baik Ray untuk berkali-kali mengingatkan tentang hari jadiku,adalah ketulusan dalam kurung yang dipaksakan tentunya. Aku memang mudah sekali dipuaskan ternyata.
Dalam perjalanan menuju tempat biasa kami nongkrong ketika weekend,Rara menelpon. Suaranya terdengar amat menyedihkan sehingga aku tak mungkin menolak untuk bertemu dengannya.
Sampai di tempat kos Rara,aku terkejut melihat wajahnya yang demikian pias,pucat,seolah tanpa darah.Kulihat tangannya bergetar kala memegang gelas air putih,air mata tampaknya sudah mengering,namun kulihat kepedihan yang amat jelas tergambar di wajah cantiknya.
"Ada apa,Ra ? kamu sudah sholat isya ? ayoo ambil air wudhu kita sholat berjamaah yaa,mintalah petunjukNya atas semua beban hidupmu,Ra.
Rara hanya mengangguk pelan sambil membiarkan tangannya kugandeng untuk berwudhu.
Usai sholat dan memanjatkan doa,kulihat wajah Rara lebih tenang..tak kulihat lagi sorot kebencian dan kesedihan yang tadi sempat membuatku tercengang.
Lalu kami berdua sepakat untuk menghabiskan malam itu di Bar tempat Rara bekerja,dengan syarat aku tak boleh minum alkohol. Dia selalu menekankan padaku untuk tidak mencampuradukkan antara 'hitam' dan 'putih' yang memang agak ironis memang mengingat Rara kerja ditempat yang boleh dibilang tempat maksiat.
Kali kedua aku bertanya ada apa dengannya barusan,dia hanya menggeleng dan berkata bahwa saat ini bukan saat yang tepat untuknya bercerita.
Selagi Rara sibuk bekerja dan aku duduk disudut sofa yang mengarah ke air terjun buatan,sambil menunggu Ray menyusul ke Atlantic Bar and Resto dimana aku berada,diam-diam aku memesan satu picher illussion,yaah...sungguh bising rasanya telingaku berada ditempat hiburan malam dalam kondisi 'normal'.
Sempat terfikir bagaimana jika nanti Rara atau Ray marah melihat aku nekad minum sendiri tanpa dikawal siapapun,tapi rupanya setan-setan dalam diriku lebih kuat berteriak lantang menyuruhku untuk melanggar laranganNya.
Irama techno dan progre menggelegar seolah menantangku untuk cepat terhanyut dalam kemabukan yang semu. Sekali lagi aku memberi perkecualian atas malam ini saja. Seperti yang juga kemarin malam aku lakukan. Hati kecilku tak kalah garang berteriak-teriak menyuruhku berhenti mengikuti bujuk rayu setan dalam diri,tetapi lagi lagi kalah oleh keimananku yang masih sangat lemah.
Dalam kondisi yang sudah tak lagi stabil dan pandangan yang semakin mengabur,ada seorang lelaki bertubuh lumayan atletis mendekatiku,dalam samar kuingat ia bernama Abi. Dalam kemabukan yang tanpa kontrol sesaat sebelum jatuh terlelap sekilas kuingat Abi memapahku ke mobilnya,dan kulihat di jendela atas restoran Rara berteriak-teriak histeris,namun kepalaku saat itu sudah terlalu berat mencerna akan apa yang sebenarnya terjadi.

0 komentar:
Posting Komentar