Minggu, 02 Januari 2011

Perbatasan Mimpi


Malam mengusung riang.
Sudah tiga purnama berlalu sejak ku tinggalkan dirinya. Ada lega yang tak terkatakan kala hari itu tiba,aku bebas menari sesuka hatiku,yaa..kekasihku dulu selalu saja bertindak otoriter. Dianggapnya aku serupa boneka yang bisa dia bentuk sekehendak inginnya,tapi aku mencintainya. Setidaknya pernah mencintainya sebelum peristiwa penghianatan itu terjadi dan cintaku pelan-pelan menguap tertiup angin,entah mengapa aku sanggup bertahan dengannya,mungkin karena aku telah terbiasa ada didekatnya hingga kebersamaan kami hanyalah sebatas kebutuhan ragawi saja. Masih jelas tergambar dalam ingatan,tatkala dia dengan penuh penyesalan berjanji untuk tak lagi menyakitiku dengan segala tingkah bejat nya. Namun janji seolah hanya penghias bibir.

Puncaknya beberapa bulan lalu,kala aku asyik menari di sanggar bersama beberapa sahabatku. Dengan angkuhnya dia berteriak lantang agar kuhentikan saja kegilaanku terhadap tarian yang dia sadar betul adalah jiwaku,satu-satunya yang membuatku tertawa bahagia. Saat itu aku hanya menangis,seolah kata-katanya adalah bilah pedang yang memenggal leherku. Aku butuh menari seperti juga aku butuhkan makan dan minum. Dan kala hal itu tercerabut paksa dari diriku,hanya tetes bening tanpa sedikitpun isak yang menemani dalam duka. Tak kugubris semua penghiburannya,kuacuhkan semua tawaran untuk menukar kesukaanku dengan hal lain yang aku sama sekali tak butuh. Jiwaku mati suri,namun bibit pemberontakan tumbuh subur dalam diriku. Aku mengalah saat itu,untuk memikirkan ulang apakah yang kulakukan salah adanya. Kupanjatkan serangkaian doa mengadukan segala kesah pada Sang Penentu segala. Terdiam dalam gelap untuk melihat segala ikhwal agar lebih benderang. 

Aku putuskan untuk tak lagi tertindas,aku manusia merdeka,berdiri sejajar dengannya bukan didepan ataupun dibelakang. Ku setel kidung tarian jiwaku dengan volume yang memekakkan telinga. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan aku,yang baginya hanya berupa patung yang tak lagi bisa dipahat sekehendak hatinya. 

Kuakui sedih itu ada,dia selama ini yang menjagaku mengaku mencintaiku dengan segenap jiwanya. Tapi apakah cinta namanya jika tanpa penerimaan dan penuh keegoisan ?

Hari itu dedaunan bergerak bersamaku mengikuti irama yang terlantun,angin bertiup sejuk seolah merasakan keteduhan yang seketika singgah. Aku kian meliuk merasakan bahagia yang membuncah dalam dada,tarianku menyatu berselendang semesta mimpi menepis segala duka. Jemariku mengayun lentur,tubuhku berlenggok riang dibarengi langkah nan gemulai. Sahabatku menari bersamaku,bersama kami satukan gerak dengan lagu,tak ada lara berani mendekat hanya bahagia menyambut mesra.

Tin..Tin...troooooot....troootttt....
Suara klakson mobil membuyarkan angananku," Brengsek ! " Kekasihku datang ngapel malam minggu lebih cepat dari yang kuduga,dan pontang panting ku bubarkan seluruh sahabat jiwaku,kumatikan suara lantunan musik yang tadi membahana. Saatnya kembali ke realita yang ada,tergopoh-gopoh kubuka pintu pagar dan memasang wajah sepolos malaikat.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog