Rabu, 04 Mei 2011

Bakiak Versus High Heels

Maatahari menggantang semesta. 
Bakiak butut terseok-seok menyusuri gang-gang buntu, sekedar mencari es kelapa untuk menuntaskan dahaganya.
"Dasar sompreett, mentang-mentang gue butut dan produk jadul..kagak ada lagi yang mau make gue kecuali Dee sontoloyo itu, gue sampe heran knapa juga sih tuh anak setia banget sama gue..padahal udah berkali-kali gue sengaja bikin jatoh dia di jalanan berlumpur, masih aja gue dipelihara, sial emang !" dengan wujud penyak penyok bakiak butut itu mengeluh pada rerumputan yang eneg liat tingkahnya.

Dari arah jalan raya yang penuh jeglongan, terlihat High heels mengkilap sibuk ngebacot sambil ngomel gak jelas, memaki pemerintah yang gak becus benerin jalan raya.

"Setan alas, wewe gombel...percuma aja gue bayar pajak, kalo jalanan kagak keurus kayak gini...sialan !"

Bakiak butut memperhatikan tingkah High heels itu sambil terkikik-kikik kegirangan, dia selalu saja kesetanan hepi kalo temennya yang sok "up to date" itu kena musibah.

"Knapa lo High heels sarap...ngomel-ngomel aje kayak petasan orang kawinan...bhuahahahaha !" 
"Eh Bakiak somplak, lo kagak makan bangku sekolahan yee, orang susah bukannya dibantu malah di ketawain...dasar kodok budug !" High heels makin dongkol melihat Bakiak itu mentertawakan dirinya.

"Makanya...udah gue bilang ngapain lo operasi plastik jadi High heels segala, mending wujud lo yang dulu itu..sendal jepit emak-emak..lebih keren dan asik di mata gue, murah pula..bisa dibeli dan di senengin siapa aja !" Bakiak tiba-tiba curhat colongan, mumpung lagi ada kesempatan mematahkan argumen si bakiak yang membanggakan dirinya sebagai produk paling okay sejagad.

High heel langsung melengos pura-pura budeg.
"Bakiak colmet gue tersayang, sini gue kasih tahu ya...jaman sekarang emang gak kayak dulu lagi, kalo dulu sah-sah aja lo kemana-mana bawa wujudlo yang tersohor itu, Bakiak jaman emak gue muda emang lagi naik daun, tapi coba deh lo ke mall-mall atau ke gedung-bertingkat di daerah Sudirman, apa lo kagak jengah dianggap makhluk langka !" dengan sotoynya High heel menukas.

"Halah, kagak pake ! sekali bakiak tetep bakiak ! hidup bakiak ! " Bakiak teriak-teriak persis penghuni RSJ.
High heels cuma bisa mengurut dada melihat tingkah teman sekaligus musuh bebuyutannya itu.

"Terserah lo ajalah, kalo lo bahagia dengan wujud Bakiak bututlo, silahkan aja..tapi jangan sirik kalo gue diidam-idamkan sama semua perempuan, lo tau kan...Violet seleb dadakan itu cinta mati sama gue...weeee !"
High heels sibuk membanggakan dirinya yang udah dilamar sama Violet untuk jadi pasangan hidupnya sampe ajal memisahkan mereka. Terbayang di pelupuk matanya, Violet akan menguras dompet dalam-dalam untuk perawatan dirinya agar tak bocel.

Hari berganti malam, dari rumah Dee juragan becak yang meditnya tiada duanya, terdengar suara gaduh.
"Dasar Bakiak jelmaan setan !" kagak tau diuntung lo yee, gue udah setia sampe modyiaar sama lo.. tapi lo bikin pacar gue kesandung sampe babak belur, mulai sekarang gue kagak mau pake lo lagi...silahkan lo bermukim di tong sampah !"
"Tuiiiiiiing.....Glotakk!!!" dengan tubuh berkelontangan kena hantam tong sampah, Bakiak menjerit pilu..tak disangkanya Dee sahabat jiwanya dan satu-satunya harapannya di masa depan untuk menaikkan pamornya lagi agar bisa disukai masyarakat, dengan kejam membuangnya hanya lantaran kejailan dirinya bikin perhitungan pada pacar Dee yang di ketahui persis emang buaya darat.

"Dee..Dee..kalo aja lo tau siapa pacar lo yang sesungguhnya, lo gak bakalan tega menelantarkan gue kayak gini...mana tong sampah ini bau banget , belom lagi kalo tikus-tikus berkumis itu datang..bakalan habis tubuh semok gue kena perkosa gigi-gigi runcingnya...apes bener nasip gue!"  suara ratapan Bakiak terdengar membelah malam dengan riuhnya.

Tak berapa lama kemudian terdengar deru mesin mobil di jalan raya.
"Weeeesss...Klonteng!!!" tiba-tiba High heels mendarat dengan mulus di samping Bakiak butut dengan wajah merah padam menahan jengkel sambil mengaduh ngelus-ngelus body ringseknya.

Serta merta Bakiak butut terbahak-bahak melihat High heel yang senasip dengan dirinya.
"Bhuahahahaha...knapa lo High heels, katanya udah dilamar sama Violet untuk nemenin dia sepanjang hidupnya, ngapain lo nyangsang di sini ?" Bakiak bertanya dengan wajah sumringah sambil diam-diam mengucap sukur karena ada yang menemaninya di tong sampah berbau bacin tersebut.
"Bakiak, emang bener katalo waktu itu yaak...mau apapun bentuk alas kaki, tetap aja tempatnya di bawah, begitu ancur, udah pasti dibuang...salah gue juga percaya aja sama bacotnya si Violet itu...huhuhu!" sambil menangis lebay High heels menyusut air matanya.
"Pan udah gue bilang, lo sama gue tuh selevel martabatnya...sama-sama bikin orang kejengkang dengan sol kita yang tebel...kagak percaya sih lo !" dengan lugas dan penuh keyakinan diri, Bakiak sekonyong-konyong menoyor High heels dengan gemasnya.

"Iya deh Bakiak, mulai sekarang gue mau percaya kata-kata lo...daripada puyeng,mending kita ke pabrik sendal jepit di Bekasi yuuk, kali-kali aja pemiliknya mau merubah wujud kita jadi sendal jepit kayak dulu lagi, hidup kita pasti akan lebih nyaman dan kurasa tak ada manusia yang tak membutuhkannya !" ujar High heels.

"Tumben otaklo encer, High heels...biasanya lo bloon kayak si Violet, kesambet setan apaan lo ?" tanya Bakiak.

Dengan hidung kembang kempis menahan geer, High heels berkata dengan malu-malu.
"Ah, Bakiak jangan gitu dong...jelek-jelek gini kulit gue impor dari Jepang loh, pastinya pinter...kan tau makanan orang jepang adalah ikan yang mengandung omega buat pertumbuhan otak, emangnya lo makanannya tempe mlulu !" High heel berkata setengah meledek.
"Halaah, gausah banyak cingcong deh...brangkat sekarang aja yuuk, keburu malem !" sahut Bakiak.
"Yuukmareee...kita kemon !"

Sambil bergandengan tangan, Bakiak butut dan High heels  bernyanyi-nyanyi riang menyusuri jalan raya sambil berharap keajaiban terjadi dan tubuh mereka kembali menjadi sendal jepit yang disukai semua kalangan. 
Suara gaduh mereka berdua membuat pohon-pohon di sekitar muntaber saking muaknya melihat dua alas kaki itu berjalan bersisian, pemandangan yang langka di tengah semaraknya ibu kota Jakarta.
Sesampainya di Jalan Thamrin, terlihat demo memacetkan jalan raya. 
"Oiya, gue lupa kalo hari ini hari buruh..pastinya pabrik-pabrik pada tutup semua takut di demo!" kata Bakiak dengan muka pucat.
"Hah!" kenapa lo gak bilang daritadi !" sia-sia dong perjalanan kita barusan !" sontak High heels menghempaskan tubuhnya tiba-tiba pada halte terdekat. Mereka berdua terduduk lemas menyadari kenyataan pahit tersebut.. Dengan wajah putus asa keduanya saling terdiam sambil berharap ada tukang beling yang lewat dan berbaik hati mau memelihara mereka.


---------------------------------------THE END--------------------------------------------------


ps; cerita ini di buat  atas usul colmetku tercinta OEDIE JOHN, yang masih setia dengan bakiak brengseknya.....penyebab utama benjol dan memar di jidat penulis

Kasih Sayang

biar semua mantra menjadi mentah
biar tajamnya tutur menyadap getah
kubiarkan kau meledak oleh amarah

namun jangan kau tahan lajunya tumit
jika aku berlalu tanpa berkernyit
semata hindari penyakit
usah kau kuntit

kunikmati pawai keheningan
rasuki diri mengayunkan sepi
di belahan dada sang malam

ku sibak kasih sayang bunda 
lingkupi semesta
dengan ikhlasnya

High Heels

High heels atau sepatu bertumit tinggi memang menjadi benda yang wajib dimiliki wanita di perkotaan. Meski memakainya sedikit tak nyaman, dengan memakainya membuat wanita lebih percaya diri karena membuat kaki lebih jenjang dan terlihat anggun ketika berjalan. Tak perduli ketika sampai di rumah merasakan pegal-pegal bahkan lecet-lecet. Konon para lelaki pun senang melihat wanita yang memakai sepatu high heels karena terlihat lebih seksi.

Pada pemakaian jangka panjang tentu saja dapat mengakibatkan efek yang kurang baik bagi kesehatan, yang paling sering dijumpai adalah keseleo, persendian tulang nyeri dan kaku, sakit punggung, nyeri lutut , kapalan, hingga sakit kepala. Sebaiknya pilih high heels dengan hak tebal karena bisa menopang tubuh dengan seimbang, juga pilih yang model depannya terbuka hingga mengurangi tekanan pada jari-jari kaki dan tumit.

Disarankan ketika memutuskan untuk memakai high heels diusahakan kaki diistirahatkan setiap dua jam sekali untuk mencegah kaku nya otot-otot kaki. Salah satu efek buruknya yaitu bentuk kerangka kaki bisa berubah permanen ( deformasi ) sehingga membentuk cekungan. Penyakit yang bisa di mungkinkan oleh pemakaian yang terus menerus adalahhallux falgus yaitu perubahan struktur telapak kaki dimana tulang ibu jari kaki menyimpang ke arah luar dan dapat menyebabkan infeksi , dan solusi satu-satunya hanya lewat jalan operasi.

Namun penelitian terbaru di amerika justru menyebutkan kebiasaan memakai high heels justru membawa banyak manfaat karena para pengguna high heels dapat membuat otot luar dan dalam lebih aktif saat berjalan hingga betis terlihat lebih kencang.

Seorang ahli urologi asal itali, Dr.Maria Cerruto mengungkapkan bahwa sepatu tersebut dapat mendongkrak gairah seksual penggunanya bahkan dapat memperbaiki otot dasar panggul. Kaum wanita yang cenderung merasa kesulitan melakukan olahraga dengan benar di daerah sekitar otot panggul bisa mulai menggunakan high heels sebagai salah satu solusinya. Namun penemuan ini tidak mengacu pada Stiletto ( sepatu hak tinggi dan runcing dengan tinggi lebih dari 5 cm ). 

Pilihan ada di tangan anda, ingin terlihat menawan dengan resiko dan keuntungan diatas atau tetap mengenakan sepatu datar dengan alasan nyaman.

Bagi wanita yang kehidupan seks nya kurang "bergejolak" bisa mulai diupayakan memakai high heels dari sekarang. Selamat mencoba.  :D

Belum Genap

belum genap satu hari
rasakan cinta datang payungi
lewati alur melesat di gema tanpa janji

bukanlah sekedar kata
atau pertalian dua jiwa
guncang ini hanyutkan bara

resapkan risau hingga ke hulu letupan dada
meregang berbulir kristal
sampai pejam sewarna buaian

di keping segala bercak tertumpah dan membiak
poriku mengerjap jentikkan rasa di tiap kecup dan usap
kau alunkan nada menyatu dengan harmoni tubuh

tetaplah sayang
semaikan sepi berjajar dengan detaknya kasih
dalam pualamnya hati bersisian dengan mimpi

biarkan aku lesap di dalammu
menguak rindu hingga berbalut madu
tepiskan sedih hingga jejaknya tak lagi terpatri

rinduku kan renggut tengkukmu 
hingga berbalas api mengganyang nyeri
mencatut waktu tanpa sesiapa bisa hakimi

I Miss U

tahukah sayang
kala senja hendak berpulang kepelukan malam
aku disini dinaungi tetesan rindu
geletar oleh ribuan semut yang seolah kerubung jemari
dan gelitik linu selubung tubuh saat kau ucap
"i miss u"

terasakah sayang
nyeri ini begitu nikmat menyeret hasrat
ingin ku tarik bayangmu dan lalu kudekap
hingga diri terlelap dengan sepenuh usap
terpilin jadi satu oleh denyar yang bertaut
"i love u"

Sosok Samar di balik Jeruji

Bukan kali pertama Laura mengamati gerak gerik Sophie, perempuan kurus bermata teduh namun tak pernah sekalipun terlihat senyuman di wajahnya. Baru sekitar lima bulan lalu Sophie pindah ke sebelah rumahnya, dan selama itu pula tak pernah di dapatinya seorangpun teman yang bertandang, bahkan sanak saudara pun tidak. 

"Hai Sophie, hendak berangkat kerja ?" 
"Oh, Laura ..masih sibuk memberi minum tanaman-tanamanmu yaa, mereka pasti amat bersyukur karena kau yang memelihara mereka!"  Sophie menjawab seolah bisa menyelami perasaan tanaman yang sedang kusiram pagi itu. 
Salah satu sebab Laura mulai menyukainya. 
Pagi itu Sophie pergi lengkap dengan setelan blazernya warna hitam, tas Guess  merah keluaran terbaru yang kulihat dalam katalog dan stiletto merah dengan tali. Penampilan yang pas untuk membawakan acara berita di televisi. Terlihat pembantunya tergopoh-gopoh membawakan diktat tebal dan satu tas besar yang entah berisi apa ke dalam Cherooke merah. Mobil yang sepantasnya cocok tuk di kendarai laki-laki.

Malamnya Laura memenuhi janji untuk "hang out" bersama teman lelaki yang baru sekitar sebulan di kenal dan sangat gigih melakukan pendekatan dengannya. Mereka janjian di Embrio Bar kemang, Laura menolak untuk di jemput karena belum terlalu bisa mempercayai siapapun yang belum terlalu lama di kenalnya. Pengalaman berpacaran dengan psikopat sinting membuatnya lebih berhati-hati. 
Suasana bar begitu riuh dan menghentak, terlihat abg berpakaian amat minim bertingkah agak menyakitkan mata. Berciuman dengan "panas" di sudut bar. Laura melengoskan pandang, enggan melihatnya.

"Kenapa kau terlihat bete laura, kepingin yaa seperti mereka ?" dengan mendelik jengkel, Laura hanya diam dan mendengus sebal.
Dengan sekali teguk diminumnya bacardi sprite, mengambil rokok dan menghembuskannya lalu gelas kedua berisi kahlua cream diminumnya juga untuk meredakan bosan.
Nat, teman lelaki Laura ternyata adalah sosok yang lumayan kharismatik. Pesonanya lumayan membius Laura pada pandangan pertama. Namun kali kedua ini mulai terlihat membosankan, pembicaraan yang diusung hanya seputar pekerjaannya sebagai pemilik show room mobil dan naik turun penjualannya, juga kerusuhan dan demo-demo yang memacetkan jalan. Nat tidak suka membaca, dia sangat membenci buku. Laura langsung lemas begitu mengetahuinya. Sementara Laura amat menyukai novel. Perbincangan mereka menjadi buntu, syukurlah saat itu didalam bar, setidaknya Laura masih bisa menikmati musik yang memekakkan telinga itu, dengan bantuan alkohol tentu saja.
Gelas ke lima, Laura mulai merasa enteng dan mual. Dengan terhuyung-huyung menuju ke toilet tuk memuntahkan isi perutnya. Nathan mengejarnya dan memapahnya ke toilet. memijat tengkuk laura pelan hingga keluar semua cairan pahit yang memabukkan itu sambil membisikkan kata-kata rayuan yang tak dihiraukan Laura, karena minuman tersebut sungguh membuat kepalanya berputar. 
Dalam toilet yang bersih itu, Nat mulai melakukan "flirting" pada Laura. Menciumi tengkuknya, pipi dan mendaratkan ciuman basah yang sama sekali tak dinikmati Laura. Betapa ingin Laura menyuruhnya untuk enyah saja, namun tubuhnya terlalu lemas untuk itu. Sampai ketika Nat mulai membuka kancing dadanya, Laura tersentak dan menguatkan diri keluar dari toilet itu. 
Makin merah padam muka Laura ketika ternyata di luar pintu toilet sudah ada sekitar lima orang yang menunggu dengan pandangan sebal. 
"Get a room!" salah satu dari mereka berkata dengan setengah teriak.
Laura tak ambil perduli, langsung berlari keluar dari bar itu dan mencegat taksi untuk pulang.
Tanpa membersihkan make up seperti yang biasa dilakukannya sebelum tidur, Laura langsung merebahkan diri di kasur dan tertidur dengan lelap.
Sinar matahari mengintip dari kisi jendela dan aroma kopi buatan mbok paryem membangunkan Laura dari tidurnya. Dirasakannya kepalanya masih "hang over" sisa alkohol semalam, Laura langsung bergegas ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi lalu pergi keteras sambil menenteng laptop dan kopi di kedua belah tangan.

Terdengar suara motor di hidupkan, rupanya Sophie tengah memanaskan mesinnya. 
"Hai Sophie, sudah mau berangkat lagi..kau amat sibuk rupanya ya ?"
"Ah, tidak laura..hanya mau melakukan survey ke beberapa tempat, kulihat kau pulang sendirian subuh tadi tapi tampaknya terlalu mabuk untuk melihatku yang sedang duduk di teras sini !" 
Sophie berkata sambil menaikkan satu alisnya dengan sedikit senyum misterius di wajahnya.
"Ya, seorang cowo brengsek mencoba mengambil keuntungan dari mabukku semalam, tapi aku berhasil kabur dan bersyukur bahwa ternyata dia bukan pria yang tepat !" 
Laura menyahut enteng sambil meredakan emosi yang sebenarnya mulai menghinggapinya jika mengingat kejadian semalam.

Jelang siang itu Sophie terlihat bercelana jeans dan kaos hitam dengan tas ransel, sepatu sneaker, dan berambut cepak setengah basah. Penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Mobilnya pun tak ada, hanya sepeda motor butut dengan suara yang meraung-raung. Laura terperangah, betapa mudah Sophie berganti penampilan seperti itu.
"Kamu kerja dimana, Sophie ?
"Kerjaku di semesta, membantu kaum pinggiran untuk mendapatkan apa yang selayaknya mereka dapatkan. Sesekali membuat artikel di majalah dan koran, apa saja untuk menyambung hidup dan menggaji pembantu !" Sophie berkata dengan sedikit senyum di bibirnya, pemandangan yang langka buat Laura

"Keluargamu dimana, Sophie ?
"Keluargaku di Semarang, dan aku pindah ke Jakarta karena mamaku meminta untuk segera menikah sebab menurutnya anak perempuan kodratnya harus di rumah dan mengurus suami dan anak-anak, sementara aku belum siap untuk itu, kau lihat sendiri aku lebih senang hidup sendiri tanpa beban mental yang mungkin buatku jadi gila nantinya. 

Laura menemukan sesuatu yang di sembunyikan di mata Sophie, kesedihan yang samar. 
Hari berjalan dengan lambat, Nat kembali mendekati Laura dan melakukan seribu cara untuk meminta maaf. Laura akhirnya mau memaafkan, karena menurutnya jika seseorang telah meminta maaf maka tak ada alasan untuk tak memaafkan. Kesalahannya yang kedua.

"Laura, kau cinta padaku ?" Nat bertanya sambil menggenggam tangan Laura.
"Entahlah, menurutmu bagaimana ?" Laura balik bertanya sambil melemparkan pandangan kosong ke arah pohon palem di teras.
"Boleh aku mencium bibirmu, Laura ?"
Laura mendengus kesal.
"Kenapa sih kaum laki-laki selalu saja membuat pernyataan cinta di akhiri dengan pertukaran air liur di bibir, dan kurasa akan berlanjut ke situasi yang kalian inginkan !" 
"Apa maksudmu Laura ? " Aku mencintaimu, sayang...mengapa kau selalu berfikiran buruk tentangku, jika tak bolehpun tak apa, aku tak memaksamu, honey !" Nat menukas sambil memasang muka polos seperti anjing yang kehilangan tulang, dan Laura jatuh iba.
"Oh, sorry Nat..hanya saja pengalaman burukku dengan sejumlah pria memaksaku tuk selalu waspada, wajar saja, kan ?"
"Ya, aku mengerti, honey....tapi kau harus berusaha mempercayai seseorang, apakah kau tak bisa lihat kesungguhanku ?" Nat melepaskan genggamannya, sorot matanya memancarkan pandangan geram dan dingin.
"Jika kesungguhan yang kau maksud adalah mencoba mencumbuiku di tiolet bar, kurasa sudah sepatutnya aku tak mempercayaimu !" 
"Padahal aku mulai mencintaimu, Laura..kalau saja kau tak menolakku begitu rupa, kurasa kita bisa sama-sama menikmati permainan ini!" 
"Permainan apa maksudmu, Nat ?" 
 Tiba-tiba Nat membekap mulut Laura, menamparnya hingga terhempas di sofa dan menindih tubuhnya.
Laura terkesiap dengan darah yang membasahi bibirnya. Tangan kanannya refleks menjangkau vas bunga yang terletak di meja tamu, dengan sekuat tenaga dihantamkannya ke kepala Nat, hingga membuat kening Nat robek dan sedikit berdarah.
"PEREMPUAN SUNDAL !" kau kira tubuh lemahmu bisa melawanku, heh !"
"DUGHH !"
Nat meninju rahang dan wajah Laura berkali-kali sambil menyeringai lebar.
"Hayo, lawan aku perempuan setan !" 
Laura sudah tak punya tenaga, kepalanya terasa limbung dengan kerlap-kerlip bintang yang seolah mengitarinya.

Tanpa di duga darimana datangnya, Sophie terlihat merenggut tubuh Nat dan memakinya dengan suara yang tak pernah di dengar Laura sebelumnya.
"LELAKI BIADAB, MAU APA KAU BANGSATT !!!"
"Oh, ada satu lagi bunga yang ingin kuhisap rupanya, kemari manis..kau ingin merasakan juga kejantananku, heh!" dengan senyum bengis Nat berkata dengan suara pelan tapi menakutkan. Dicengkramnya leher Sophie, lalu Sophie menendangnya di selangkangan hingga Nat mengaduh kesakitan. Tapi tak mengurangi kekuatannya, di hajarnya Sophie berkali-kali dan Laura dengan kepala masih pening spontan mengambil pisau yang terletak di meja makan lalu mendekat ke arah Sophie dan menikam pinggang Nat dengan seluruh kekuatannya. Nat pun tumbang sambil mendesis kesakitan, Laura yang diliputi emosi mencabut pisau itu dari pinggang Nat dan menghujamkan sekali lagi ke jantungnya. 
"Mati kau bangsat !" dengan tangan masih memegang pisau yang berlumuran darah Laura mendekati Sophie sambil terisak.
"Sophie, mengapa kau tak lapor polisi dan malah melawan Nat sendirian ?" 
Terlihat senyum di wajah Sophie, terlihat cantik lebih dari biasanya.
"Laura, aku bangga padamu..jangan sekali-kali kau biarkan siapapun menyakitimu, bahkan orang terkuat dan berkuasa sekalipun !"
"Tapi Sophie, aku mungkin tlah membunuhnya, masuk penjara dan semua akibat kebodohanku yang begitu mudah mempercayai laki-laki !"
"Segala sesuatu terjadi karena memang terjadi Laura, kau hanya membela dirimu !"

Kemudian Sophie menggenggam tangan Laura yang masih gemetar memegang pisau dan berlumuran darah, dilemparnya pisau itu jauh-jauh.

Tiga bulan berlalu, setelah kejadian itu Sophie mendekam di penjara karena ngotot bilang kepada pihak yang berwajib bahwa dia yang membunuh Nat karena marah melihat kejahatannya. Dengan teratur dan rasa bersalah yang terus menghinggapi, Laura rutin mengunjungi Sophie di rumah tahanan. 

"Mengapa kau lakukan itu Sophie, mengapa kau mengakui kejahatan yang tak kau lakukan ?" tak sanggup Laura menahan laju air matanya jika menjenguk Sophie di penjara.
"Stop crying, Laura...aku bosan hidup di luar sana, semua penuh kemunafikan..kuharap di dalam sel ini aku bisa mencari makna hidup yang sesungguhnya, toh aku bisa setiap saat berhubungan dengan dunia luar melalui laptop dan hape, tak ada bedanya Laura !"

Sepulangnya dari rumah tahanan itu, Laura mendapat berita yang mengejutkan. Ternyata Sophie adalah seorang anak Danjen Kopassus tapi sudah lama memutuskan untuk hengkang dari keluarganya karena tau betul seluk beluk pemerintahan yang membuatnya muak, dari penyerobotan tanah milik perorangan bahkan suatu kelembagaan semua bisa terjadi karena ada pertalian kepentingan yang sudah mengakar kuat. Sophie sangat membenci ayahnya, yang pernah masuk berita sampai koran mancanegara perihal membungkuknya ayahnya di hadapan seorang anak penguasa negri ini yang bahkan sudah berpulang.  Terlihat jelas bagaimana kehormatan dan kewibawaan seseorang jatuh karena balas budi, karena konon ayahnya dulu di biayai pendidikannya oleh salah satu bekas penguasa negara ini. Sungguh menyedihkan.

Laura tak mengerti mengapa Sophie sampai bertindak sefrontal itu dan mengingkari keluarganya. Tapi yang Laura mengerti kini adalah betapa Sophie perduli padanya dan bersedia berkorban untuknya. Laura mulai mencintainya, ada perasaan hangat ingin selalu memeluk tubuh Sophie meski dia menyadari bahwa Sophie adalah seorang perempuan, sama seperti dirinya.

Deretan Abjad

kau ada disana
hidup dalam deretan abjad yang ingin ku lupa
menggeser pancang 
yakinku atas diri
tak lagi ku berharap
namun tak jua ku hilang ingat
kelebatan tawa yang pernah kita nikmati 
di sisipkan nyeri hingga membirahi
bayangmu lesap di balik kerudung kemaslahatan
tertunduk peruh risau
bersama bening yang mengkristal
hening ini membingkai jiwaku dan jiwanya
cinta yang dibaluri air mata
bermahkota pengorbanan 
adalah kotoran kerbau belaka !
kutunggangi pegasus 
kucambuk hingga melesat jemput matahari
tak di sangka hanya pekat yang menyapa
empat sudut kembali membayang

Tamak

siang ini tlah kucampakkan ketamakanku
tuk hamba cinta dari sesiapa
kubiarkan diri meretas sepi 
jadi pematah duri luka
bersama salam teriring kasih yang tertuai
keajaiban terjadi
aku lebih bahagia dari sebelumnya !

Serentak Rinai

pernahkah kau dengar, desir angin yang bertiup kala bunga menunduk khidmad terhunus rindunya pada kumbang yang lahap habis sari madunya. bertolak dari buaian menuju sangkar penjelmaan tetirah para dewa yang berasik mashuk menggulung sahaya nya tuk tunduk di ujung telapak mereka.  sebut saja ia tuli atau membuta pada jeritan hatinya sendiri, diabaikannya khianat yang tebas kerongkongan dan sumbat aliran udara hingga buatnya tersungkur dalam tangis tak berkesudahan.
serentak rinai hujamkan perih di tiap pori melesak jauh iris iris nadi hingga yang tertinggal hanyalah nyeri di ulu hati. mengapa tak bisa, sejenak tinggalkan saja lara itu di belakang, toh ia tak lebih dari alang alang yang halangi pandang. saat kelopak membuka, disana ada cahaya berpelangi ribuan cerita. hujan tahta kan janjinya pada bumi tuk selalu mendinginkan suasa

April Biru

Siang terik jelang senja, batinku tertikam sembilu luka. 
Sahabat jiwaku,  yang di pundaknya terletak segala legamnya kesedihan. Adakah pernah ditularkannya percikan pedih itu pada sahabatnya, Tidak ! dia selalu mendongkel semangat, betapapun jiwa mungkin tersayat oleh cinta yang tak pernah hampiri tuk sekadar susut peluhnya.

Dengan santainya, seorang durjana dengan tutur seolah dewa kabarkan petualangan bakaran syahwat sahabat jiwaku. Dan aku tersentak, mengapa bisa seorang manusia hakimi tindak lelakon tanpa mengenal siapa sahabatku sesungguhnya, lepas dari salah atau benar yang dilakukannya pada ujung selangkangannya sendiri.

Sebengal dan senista apapun, sahabatku tetaplah sahabat. Kan kuperjuangkan kehormatannya semampu nyawaku menyangganya. Karena ia telah ajarkan bagaimana perih bersanding dengan ketabahan, bagaimana luasnya hati bisa mengalahkan rimbunan dengki. 

Duhai sang pencela, kusodorkan leherku tuk kau tebas dan gelindingkan sesukamu tuk gantikan martabat sahabatku yang kau injak tanpa berkaca siapa sejatinya dirimu sendiri di balik mulut harimaumu.

Sahabatku terkasih, usahlah segala sedih kau simpan dalam rongga dadamu sendiri, yang kini kutahu semakin tanak oleh pendar segala uji yang hunuskanmu dari empat penjuru bumi, ada aku disini bawakanmu segenggam penerimaan yang usah kau ragu taklah ia kan tercerabut oleh apa yang terjadi saat ini dan di ujung detak nadi. Tetaplah kau sahabat sejatiku, kini dan sampai dunia berakhir nanti. 

About this blog