Jumat, 05 Agustus 2011

Loretta


Thelma jatuh terduduk di taman, ditemuinya Loretta yang sedang menangis tanpa isak.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Loretta...kau sudah pamit suamimu ?"
Loretta menjawab dengan cucuran air matanya.
"Beritahu aku Thelma, apakah layak disebut hidup jika diri hanya menghamba pada manusia lainnya, hingga burung cakrawali mengejekku dengan kepakan sayapnya !"
"Loretta, kau lah tempat angin bertiup, tempat udara menikahi keheningan. dalam derita yang membebani pundak lemahmu aku temukan kecupan dewa dalam tiap kasih sayangmu padaku."
Rerumputan menunduk menjatuhkan embunnya dengan kristalan bening.
Dahan-dahan melengos enggan melihat kesedihan di raut wajah Loretta.
"Thelma, apa bedanya aku dengan pelacur yang menukar tubuhnya demi sekerat nasi yang berlauk peluh dan air mata, menunggu kasih sayang namun hanya biru lebam yang kudapatkan."

Dengan gaun sutra merahnya, Loretta terlihat ringkih dan kurus. Kepedihan merampas gumpalan lemak dalam tubuh sintalnya. Namun Thelma masih saja melihat kepolosan angin dalam pucatnya bibir, dalam sorot mata penuh kemuliaan yang hanya bisa didapatkan oleh manusia-manusia yang mengalami kesengsaraan dan kecantikan serupa bait-bait puisi paling indah. Meski semuanya tersamar dalam bingkai air mata.
Thelma lebih banyak berfikir daripada berbicara. Diamnya adalah orkestra paling indah dalam senandung nyanyian hujan. Loretta mencintai Thelma dalam sucinya janin dalam perut maryam.
"Mengapa cinta kita dipertemukan oleh waktu yang begitu kejam, disaat aku telah menikahi monster buruk rupa dari keraknya neraka !" Loretta bertutur di sela isak tangisnya.
"Bersabarlah Loretta, jika di bumi ini cinta kita tak mungkin dipersatukan, masih ada langit tempat aku kau akan bisa berpelukan. hapus air matamu my love ." Sekuat nafas Thelma berusaha sembunyikan pedihnya dari hadapan Loretta. Dia harus kuat untuk memberi energi pada kelangsungan jiwanya. pada harapan yang entah dimana disembunyikan takdir.

Thelma menggenggam tangan Loretta, diciuminya dengan sayang. 
"Loretta, ikhlaskanlah kepergianku. kau adalah perempuan dan aku wanita. kau takkan sanggup hadapi cemoohan orang jika kau nekat meninggalkan suamimu demi aku."
"Thelmaku sayang, aku lebih rela terhempas di jurang kenistaan demi menyayangimu daripada harus menjadi budak tajamnya kelamin manusia sombong yang orang-orang sebut sebagai suamiku.dinikahinya aku untuk menunggui istana penuh pengkhianatan sementara dia menggauli setiap perempuan yang ditemuinya di jalan dan titahkan aku tuk mencuci lembar celana bekas mani nya tertumpah, lalu di senggamainya aku tanpa bisa membantah, tanpa pernah menanyakan apa aku juga menginginkannya, tanpa cinta yang kukira ada sedikit saja dalam dirinya untukku, beserta cambuk tuk membuatnya lebih berhasrat melihat darah yang mengucur dari pundakku."
Batin Thelma terkoyak, tak pernah dia rela ada satu manusiapun di sakiti begitu kejamnya

Dahan tertunduk oleh muramnya luka yang mereka berdua tabuh di pekatnya malam.
Rembulan merampas awan tuk sembunyikan lara yang tiba-tiba hinggap dalam balutan nestapa

About this blog