Sabtu, 15 Januari 2011

damailah dalam tidur panjangmu


seketika bening itu meluruh
tergenang meluap mengisi dada yang kalap
namamu masih terpatri dalam hati
sesakkan diri dalam rindu mati

Tuhan..
selubungilah dia dengan bahagia
agar ku rasa lega dan turut tertawa
ikhlaskan dirinya kembali pada semesta
biarlah  aku yang tanggung nestapa

damailah dalam tidur panjangmu,kasih
kubawa kenangan itu sampai akhir
jejakmu meski tlah tertiup angin 
masih mewangi merangkul sukma

kau tetap matahariku
selamanya
ya 
selamanya !

JANGAN SALAHKAN

Usah sesali seruan
Takkan hilang di tepian
Seolah tunduk dihadapan raja
Namun hati bersikukuh

Jangan salahkan;
Bukan aku sebermula carut
Dan aku kini enggan tuk turut

HILANG


Ada yang hilang 
Dipelataran mimpi
Tergolek penuh luka nganga
Terbekap dalam nyata tiada

Hari yang kian menyempit 
Berkejaran dalam asa yang menyipit
Hati yang terbelah dan terjepit
Terbenam dalam cinta yang sulit

Aku masih disini;
Menatap nanar pada nisan berisi namamu
Berharap kau bangkit dan raih tanganku
Membangkang pada harap yang hilang

Dan selalu akan disini
Sampai mati menggiringku pergi

Biarlah sayang
Mata kita yang berbicara dalam bisu
Menepuk angin meski itu buat kita tersungkur dalam lara
Mendulang derita meski mereka bilang sia-sia

Kurawat kasih
Meski sayatan pilu terasa kian memerih
Kujaga cinta
Meski ikatannya kian mencekik leherku

PEREMPUAN BERSANGGUL NESTAPA;CERITA OLEH THERADEWI 4


Dug. Jantung Ling berdetak kencang,tubuhnya menggigil hebat. 
Seumur hidupnya tak pernah dia merasakan ketakutan yang begini rupa. Ling mendelosor di sudut kamar yang dingin,bibirnya bergetar merasa panik dan terancam. Waktunya kian sempit,dia tak tahu saat ini jam berapa,hanya satu yang dia sadari betul malam nanti mungkin adalah hari dimana masa depannya kan hancur total.

Terdengar suara mesin mobil diluar rumah,lalu perlahan menghilang. Seketika Ling tersadar,dia harus bergegas mencoba menyelamatkan diri dengan keluar dari tempat ini. Matanya nyalang menyapu seluruh ruangan,lemari dan laci dibukanya satu persatu mencari benda apa saja yang bisa digunakan untuk membuka pintu kamar tersebut,diingatnya film Mc.Gyver yang ditontonnya sewaktu kecil juga novel-novel lima sekawan,yang sering menggunakan pisau atau besi tajam untuk membuka kunci,tampaknya mudah saja yang dia tonton di televisi ataupun yang dia baca di novel-novel,tapi tidak pada kenyataannya. Di lemari itu Ling hanya menemukan beberapa potong piyama sutra,handuk bersih,lotion wanita,beberapa botol parfum dan jepit rambut ! 
"Mudah-mudahan bisa membuka pintu brengsek ini !" gumamnya pelan.
Diluruskannya jepit itu,kemudian dibengkokkannya dan dimasukkan kelubang kunci seraya mengucapkan segala doa pada TuhanNya.
"triiiiiiing !!!" Ling sontak melompat terkejut," oh,shit !" dasar telpon sialan ! bikin kaget orang aja sih,uh!" 
Selagi Ling sibuk mengutak katik lubang kunci tersebut,di kamar sebelah sepasang mata mengawasi segala tindak tanduknya dari cc tv,sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya. " Teruskan Ling,aku suka semangatmu,cantik !" orang tersebut mendesis pelan.

Di kamar tidurnya yang sempit,Ra menangis sesegukan..sudah dua hari Ling menghilang,orang tua Ling pun sedang ada di luar negri hingga mungkin mereka tak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah seharusnya aku bilang pada Ray perihal Abi,dia pasti akan marah besar jika tahu bahwa aku tahu namun tak memberitahukannya. Apa yang harus kulakukan Tuhan." batinnya pilu
Ra mengenal Abi sejak kecil,dia dan Abi boleh dibilang "sahabat jiwa" nya. Mereka saling menyayangi dan sering berbagi rahasia. Abi kerap menceritakan penyiksaan yang diterimanya dari Ayahnya dan sering menunjukkan padanya bilur luka dan biru lebam di sekujur tubuhnya dan anehnya Abi kerap menceritakannya sambil tertawa terbahak-bahak penuh dendam. "Kau tahu Ra,Ayahku kini kehabisan akal untuk melukaiku,aku tak lagi merasakan sakit,malah kini menikmatinya. bagaimana denganmu,Ra..bukankah kau pun sering disiksa oleh Ayah tirimu....ya,Ayah tiri bagaimanapun masih masuk akal jika melukaimu,bukan berarti dia pantas..namun coba bayangkan Ra..Ayah kandungku sendiri yang menganiaya aku,AYAH KANDUNGKU SENDIRI,RA !" saat itu,setelah Abi mentertawakan nasib jeleknya,seketika dia menangis pilu,dan Ra merasa sungguh bisa mengerti bagaimana perasaannya,karna dia pun sering terima segala macam penyiksaan dari ayah tirinya. dan tampaknya rasa senasib yang membuat mereka sangat dekat.
Ra masih ingat jelas saat duduk di bangku SMP,pada waktu pelajaran matematika,Abi menimpuk secarik kertas yang dibundel kepunggungnya berisi "Aku bosan ,Ra..Mister Cosinus itu tambah tolol aja tampaknya, Aku ingin bersenang-senang sedikit, lihat dan jangan mencoba untuk tertawa sedikitpun !!!" saat itu aku tersenyum girang,selain genius Abi pun memiliki keahlian Ventriloquist atau yang sering dikenal dengan suara perut,dia bisa mengubah suaranya jadi siapapun dan menirukan bunyi apapun sekehendak hatinya. Saat itu Abi menirukan suara anak kucing yang seolah berada di lemari kelas,sampai guru matematika kami pada waktu itu berkali-kali terlihat terkejut dan mengecek kedalam lemari untuk memeriksanya. 
Abi makin terihat 'menyimpang' kala duduk di bangku kuliah,dia sering mengajak kencan perempuan-perempuan yang entah asalnya dari mana dan selalu berakhir dengan tangisan histeris dari perempuan tersebut yang dengan lihaynya Abi selalu menawarkannya sejumlah uang yang cukup besar,cukup untuk menutup mulut perempuan yang telah di'pakai' dan disiksanya hingga babak belur. Awalnya Ra amat terkejut dan menangis karna takut pada Abi,namun Abi selalu menenangkannya dan berkata padanya,"Perempuan kotor itu pantas mendapatkan hajaranku,Ra..mereka hanya mengincar uangku,cintanya palsu. lain dengan kau Ra,kau agung bagiku dan aku takkan pernah menyakitimu..kau adalah aku,Ra ! berjanjilah untuk selalu ada di dekatku dan tetap menyayangiku!" sesudah itu Abi selalu mencumbunya dengan mesra dan penuh kelembutan,hingga Ra pun terhanyut dan seiring rasa sayangnya yang demikian besar pada Abi,mereka pun terhanyut dalam gejolak masa remaja yang penuh letupan,hingga di suatu malam naas mereka akhirnya menyatu dalam gairah yang seolah tak terpuaskan. Kala sebercak darah keperawanan Ra membasahi seprai,Abi terlihat mengejang dalam panik." Maafkan aku,Ra..aku tak bermaksud menyakitimu,sungguh ! dan Abi seketika mengamuk menghantamkan kepalanya berkali-kali pada tembok kamar. Ra meringkuk di sudut sambil menangis pelan." Tak apa,Abi..aku sayang kau,aku rela kehilangan keperawananku demi mu,Abi..tak usah gusar."
"BANGSAT ! SETAN ALAS ! BRENGSEK AKU RA,AKU TELAH MENYAKITIMU !"
"KAU ADALAH AKU,HIDUPKU,KEAGUNGANKU ! DAN AKU MERUSAKNYA,RA !"
"KAU ADALAH AKU,DAN AKU ADALAH KAU ! " Abi meraung-raung histeris sambil menghantamkan kepalanya berkali-kali di tembok kamar yang keras itu dan Ra yang mencoba menahannya sampai terjungkal karna amukan Abi yang begitu kuat. Ra sesungguhnya telah lama menyadari jika Abi sudah "sakit jiwa" sejak lama,namun Ra tak ambil perduli karna Abi selalu baik padanya dan satu satunya yang faham tentangnya,batinnya menjerit pedih. "Ya Tuhan,sayangi Abi..sembuhkan dia dari kegilaannya aku sungguh tak mampu melihatnya hancur sia-sia,Tuhan." Ra terduduk bisu di sudut kamar. Diamatinya Abi yang tertidur kelelahan sehabis mengamuk. Wajahnya yang tampan kekanakan selalu menerbitkan rasa sayang di hatinya.
Sejak saat itu mereka jarang lagi terlihat bersama,hanya beberapa pesan singkat dari Abi yang sampai kini terus diingatnya.
AKU ADALAH KAU,RA ! DAN AKAN TERUS MENJAGAMU ! AKU TAK MAU MENYAKITIMU LAGI,KEMANAPUN KAU MELANGKAH,PADA APAPUN KAU MELIHAT,DISITU ADA AKU YANG MENJAGAMU.YAKINILAH ITU.
Ra tak pernah meragukannya sedikitpun.Sering Ra mendapati Abi sedang mengamatinya dari kejauhan,dan Ra merasa tenang karenanya,meski mereka tak lagi pernah saling sapa,hati mereka berdua yang seolah telah berbicara dan saling menyayangi dengan cara yang tak lazim menurut kebanyakan orang,juga sering ketika Ra kalang kabut mencari uang untuk biaya Rumah Sakit adiknya,kerap didapatinya sebungkus amplop putih berisi uang yang lumayan besar yang dijejalkan lewat kisi jendela yang diyakininya adalah pemberian Abi.. Namun kini Abi mungkin tengah berhasrat untuk menyakiti sahabatnya Ling,dan Ra tak tahu harus kemana mencari Abi untuk mencegahnya melakukan hal yang akan juga menyakitinya karna Ra sungguh sayang pula pada Ling. Ra menghadapi dilema yang teramat pahit bagai buah simalakama ,pasti selalu ada yang dikorbankan. Dan Ra tak mau satupun dari sahabatnya terluka. Detak jam didinding seakan mengejek nestapa yang menimpanya.



( BERSAMBUNG )

PEREMPUAN BERSANGGUL NESTAPA;CERITA OLEH THERADEWI 3


Sinar matahari menyembul dari kisi jendela.
Pagi telah datang. Ling perlahan membuka matanya yang terasa berat dan kepalanya yang terkena'hang over' terasa berdenyut sakit tak tertahankan. Pasti akibat minuman setan yang dihabiskannya semalam. Sontak dia terkejut,mata nya melotot lebar,didapatinya tubuhnya hanya terbelit selimut tanpa sehelai benangpun ! Dengan tergesa-gesa panik Ling terburu-buru memakai pakaiannya yang terlipat rapi di nakas samping tempat tidur itu sambil berfikir,Ray kah yang mengajaknya ketempat ini. Tapi dia menggeleng kuat-kuat,biarpun Ray 'ndableg' setengah mati,dia tahu persis bahwa Ray tak akan berani menjamah tubuhnya. Lalu Ling berlari kearah pintu,dicobanya membuka kenop pintu kamar tersebut,dan terperanjat manakala didapatinya pintu terkunci dari luar,spontan dia menggedor-gedor pintu tersebut dengan panik. "Ya Tuhan,apa yang terjadi denganku..mungkinkah dia diculik ?"batinnya amat frustasi.

Di sudut kota yang lain,Ray dan Ra terlibat percekcokan yang sengit.
"Kenapa tak kau jaga dia,Ra ! bukankah kau yang menelponnya dan mengajaknya pergi !"
"Ray,aku tidak mengajaknya pergi kemarin,dia sendiri yang menawarkan dirinya untuk bertemu denganku karna dia bilang kau sedang berkumpul sama teman-teman kantormu yang cowo semua,dan dia gak mau jadi kambing congek ditengah-tengah kalian !"
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang ? menelpon polisi ? sementara belum 24 jam Ling menghilang,dan pasti akan cuma ditertawakan saja sama polisi,karna semalam Ling habis mabuk !" 

Kembali Rara terdiam penuh sesal,seharusnya dia menjaga Ling,bukannya malah menyeretnya kedalam persoalan yang seharusnya dia saja yang merasakannya.
Handphone seluler Rara bergetar,buru-buru diangkatnya karena diharapkan Ling yang menelpon dari suatu tempat. Setelah terjadi perbincangan yang cukup serius,Ra kembali terkulai lemas..salah seorang sahabatnya mengabarkan bahwa minggu lalu di Cafe sebelah ada juga seorang perempuan yang menghilang setelah diajak pergi oleh seseorang bertubuh atletis yang ciri-cirinya mirip dengan lelaki semalam. Dan plat mobilnya pun sama 1377 DC. Diberitahukannya Ray perihal telpon dari temannya tersebut,terlihat otot rahang Ray menegang menahan amarah.
"Awas kalo aku sampai bertemu lelaki sontoloyo tersebut,akan ku habisi dengan tanganku sendiri !" sahutnya geram.
Rara tak mampu lagi menahan air mata yang sejak tadi ditahannya keluar. Tubuhnya tergoncang menahan isakan serta sesal yang menghimpit dadanya.
"Maafkan aku,Ray..memang ini semua salahku. Aku memang hanya perempuan pembawa sial saja,hikz !"
"Ssst,udah Ra..maafkan aku ya,aku sungguh tak bermaksud menyalahkanmu,memang aku sendiri yang terlampau egois,seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ling." Ray mencoba menghibur Rara dengan mengusap bahunya pelan.

Di kamar tempat dimana Ling berada,terlihat Ling dilanda ketakutan yang amat. Sungguh menyesal dia tadi malam tidak mendengar suara hati kecilnya untuk tidak mengkonsumsi minuman beralkohol. Tampaknya penyesalan selalu datang diakhir cerita ketika segala ikhwal sudah sedemikian terlambat. Batinnya ngeri membayangkan apa yang terjadi semalam atas dirinya,mungkinkah dia diperkosa ? Seribu tanya hanya menggantung di langit-langit kamar. Air matanya bercucuran menangisi kebodohannya sendiri,padahal Ibunya sudah sering mengingatkan supaya dia jangan terlalu gampang percaya dengan orang lain.Hati-hati,nak dengan yang namanya lelaki,kamu ini perempuan yang sedang mekar-mekarnya. Siapapun pasti ingin memetikmu dengan segala rayu dan goda,kalau mereka sudah mendapatkan satu-satunya kehormatan dan kebanggaanmu yakinlah nak,mereka akan meninggalkanmu dalam duka lara. Tak ada satupun laki-laki yang mau memperistri perempuan yang terlampau gampangan,camkan itu baik-baik." Sampai semalam masih diikutinya semua nasihat ibunya meskipun mereka sering bertengkar masalah sepele,namun ia sangat mempercayai ibunya. "Ya Tuhan,maafkan aku yang sering melupakanmu. Semua rasa bersyukurku tak diimbangi oleh perbuatan yang baik. Diucapkannya istigfar dan mohon ampun atas dosa-dosanya,seraya berdzikir dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara anak kunci diputar,dan pintu terbuka lebar. Memperlihatkan seorang lelaki bertubuh kekar,berkulit putih dengan rambut cepak dan air muka kekanakan.
"Halo manis,sudah terbangun kau rupanya..kepalamu pasti amat pusing dan perutmu juga pasti lapar. Aku bawakan burger dan kentang,makanlah sayang." Abi mengatakannya dengan lembut,namun sorot mata jahat,culas dan dingin terlihat jelas dari sinar matanya yang setajam elang.
"Apa yang kau lakukan semalam,Abi..kenapa aku terbangun dengan tidak mengenakan apapun !" Ling berteriak panik. Kemudian dia berlari kearah pintu dan dengansatu sentakan Abi menangkap lengannya kuat-kuat dan Ling meringis kesakitan.
"Tenang,cantik..kita semalam tak berbuat apapun. Aku bukan jenis lelaki tolol yang mau bercinta dengan perempuan yang sedang tidur. Kita akan segera bercinta,dengan kehendaak dan gairahmu tentu saja,sekarang jadilah anak manis dan makan ini,sayang..aku ingin kau cukup punya tenaga untuk melayaniku nanti malam !"
"Tidak !" Biarkan aku pergi,bangsat ! Ling meronta-ronta dalam bekapan tangan kekar Abi.
"Sabar sayang,mungkin kau kini masih pusing..tapi nanti malam kau pasti akan memohon untuk bercinta denganku sampai pagi menjelang. Kau lihat cairan bening ini,ini obat perangsang yang akan buatmu menggigil penuh damba padaku,hahahaha !" 
Suara tawa abi menggema di rumah besar yang kosong tersebut. Kemudian Abi menghentakkan tangannya dengan kasar dan melemparkannya ketempat tidur. Lalu mengunci pintu dari luar.




Jumat, 14 Januari 2011

PEREMPUAN BERSANGGUL NESTAPA; CERITA OLEH THERADEWI 2 5


Senja merangkum kelam.
Seminggu berselang sejak pertemuanku dengan Rara,kami menjadi semakin dekat. Rara sahabat yang sangat perhatian dan penyayang. Aku bersyukur telah mengenalnya. Sampai pada suatu ketika kami bertandang kerumahnya,dan aku menemukan seorang laki-laki kumal setengah baya yang  diakuinya sebagai ayahnya tengah marah-marah di teras depan. Matanya memancarkan sorot mata bengis dan mengerikan ditengah teriakannya yang membuat tetangga sekitar menengok ingin tahu.
"Dasar,Kau perempuan lacur tak tahu diuntung ! Sudah sukur kau kuangkat dari jalanan,sekarang kau tak mau menjual emasmu buat aku..istri macam apa kau !" Plaakkk!

Didepan laki-laki itu terduduk sesosok wanita lusuh dengan air mata berderai ia mohon pada suaminya untuk tidak menjual satu-satunya harta benda yang mereka miliki.

Rara seketika lari tergopoh-gopoh dan memberikan sejumlah uang pada lelaki itu dan kulihat seringai lebar di wajahnya yang memuakkan. Dengan wajah yang rikuh Rara mempersilahkan aku masuk seraya minta maaf atas kejadian barusan.
"Maafkan aku Ling..Bapak memang tabiatnya seperti itu,jangan kaget ya !"
"Ah,gapapa Ra..nyantai..".lagakku sok 'cool' padahal hati ketar ketir takut kalau-kalau lelaki beringas itu datang lagi dan mencak-mencak kayak orang gila.

Baru kemudian aku tahu bahwa lelaki itu hanya Bapak tirinya,namun yang buatku tak habis fikir kenapa Rara tak berani marah pada lelaki itu. Padahal biasanya kulihat Rara bukan perempuan lemah.Ketika hal itu kutanyakan padanya Rara hanya menjawab enteng seolah tanpa beban.
"Ibuku mencintainya,Ling..dan bagaimanapun dia tetap ayahku,aku harus tetap menghormatinya.

Saat itu aku hanya terdiam sambil memaki dalam hati.
Malamnya Ray menjemputku sambil membawakan sekotak kecil bungkusan dengan pita merah jambu diatasnya,aku pun melirik bungkusan itu dengan perasaan sebal. Ray tahu persis bahwa aku membenci warna pink dan pernak pernik kekanakan.
"Met ulang tahun sayangku,Ling..ayo dibuka kadonya..pasti kamu suka !"
Meskipun sedang sebel namun aku toh tak mampu sembunyikan cengiran kuda dari wajahku,yah..kadang kuanggap berkah sekaligus kutukan Tuhan buatku. Yang mudah sekali lumer oleh kebaikan sekecil apapun.
Bagaimana tidak mendongkol aku,sudah berselang satu minggu sejak hari ulang tahunku yang ke 25,Ray baru mengucapkan selamat padaku,bahkan aku hampir telah lupa akan hari berkurangnya umurku itu. Tapi tak apalah,toh tak ada kata terlambat buat sebongkah kebaikan dan secuil perhatian yang tulus,itupun jika desakanku pada Rendi,sahabat baik Ray untuk berkali-kali mengingatkan tentang hari jadiku,adalah ketulusan dalam kurung yang dipaksakan tentunya. Aku memang mudah sekali dipuaskan ternyata.

Dalam perjalanan menuju tempat biasa kami nongkrong ketika weekend,Rara menelpon. Suaranya terdengar amat menyedihkan sehingga aku tak mungkin menolak untuk bertemu dengannya.
Sampai di tempat kos Rara,aku terkejut melihat wajahnya yang demikian pias,pucat,seolah tanpa darah.Kulihat tangannya bergetar kala memegang gelas air putih,air mata tampaknya sudah mengering,namun kulihat kepedihan yang amat jelas tergambar di wajah cantiknya.
"Ada apa,Ra ? kamu sudah sholat isya ? ayoo ambil air wudhu kita sholat berjamaah yaa,mintalah petunjukNya atas semua beban hidupmu,Ra.
Rara hanya mengangguk pelan sambil membiarkan tangannya kugandeng untuk berwudhu.

Usai sholat dan memanjatkan doa,kulihat wajah Rara lebih tenang..tak kulihat lagi sorot kebencian dan kesedihan yang tadi sempat membuatku tercengang.
Lalu kami berdua sepakat untuk menghabiskan malam itu di Bar tempat Rara bekerja,dengan syarat aku tak boleh minum alkohol. Dia selalu menekankan padaku untuk tidak mencampuradukkan antara 'hitam' dan 'putih' yang memang agak ironis memang mengingat Rara kerja ditempat yang boleh dibilang tempat maksiat.
Kali kedua aku bertanya ada apa dengannya barusan,dia hanya menggeleng dan berkata bahwa saat ini bukan saat yang tepat untuknya bercerita.

Selagi Rara sibuk bekerja dan aku duduk disudut sofa yang mengarah ke air terjun buatan,sambil menunggu Ray menyusul ke Atlantic Bar and Resto dimana aku berada,diam-diam aku memesan satu picher illussion,yaah...sungguh bising rasanya telingaku berada ditempat hiburan malam dalam kondisi 'normal'.
Sempat terfikir bagaimana jika nanti Rara atau Ray marah melihat aku nekad minum sendiri tanpa dikawal siapapun,tapi rupanya setan-setan dalam diriku lebih kuat berteriak lantang menyuruhku untuk melanggar laranganNya.
Irama techno dan progre menggelegar seolah menantangku untuk cepat terhanyut dalam kemabukan yang semu. Sekali lagi aku memberi perkecualian atas malam ini saja. Seperti yang juga kemarin malam aku lakukan. Hati kecilku tak kalah garang berteriak-teriak menyuruhku berhenti mengikuti bujuk rayu setan dalam diri,tetapi lagi lagi kalah oleh keimananku yang masih sangat lemah.
Dalam kondisi yang sudah tak lagi stabil dan pandangan yang semakin mengabur,ada seorang lelaki bertubuh lumayan atletis mendekatiku,dalam samar kuingat ia bernama Abi. Dalam kemabukan yang tanpa kontrol sesaat sebelum jatuh terlelap sekilas kuingat Abi memapahku ke mobilnya,dan kulihat di jendela atas restoran Rara berteriak-teriak histeris,namun kepalaku saat itu sudah terlalu berat mencerna akan apa yang sebenarnya terjadi.



PEREMPUAN BERSANGGUL NESTAPA;CERITA OLEH THERADEWI 1


Atlantic Bar and Resto. Kalau menilik dari namanya otakku langsung membayangkan menu makanan dan minuman yang mahalnya ampun-ampunan, untungnya aku hanya diajak kekasihku yang datang kesana untuk melobi klien-kliennya.
Di sudut bar yang lumayan gelap,aku duduk berusaha tak menarik perhatian siapapun. Aku tau persis bagaimana watak kekasihku yang cemburuannya kadang bikin kepala bertanduk. Kembali kulihat Rara,begitu nama yang tertera di 'name card'nya. Ayu dan ramah,tapi sering kuperhatikan dia akan melotot garang manakala ada pengunjung mabuk yang iseng menjawil tubuhnya. Tidak seperti kebanyakan pelayan di tempat itu yang akan berpura-pura tersenyum karna tuntutan pekerjaan.

Setengah jam berlalu,aku mencium kedatangan Ray,kekasihku. Dengan bau parfum  menyengat yang harganya konon cukup untuk menggaji satu orang pelayan di Cafe ini selama sebulan. Sungguh menyebalkan,manakala bangsa ini tertimpa bencana tak berkesudahan,dia malah asik-asik beli parfum sialan itu,mending kalo wanginya menebarkan bau surga,hidungku hanya mencium wangi daun busuk saja yg mengoar.
"Halo sayang,lama amat sih...aku kan udah cape nunggu daritadi." tuturku sambil memeluk tubuhnya dan memutar bola mata.
Bukannya aku tak cinta atau apa,Ray sangat perhatian,lumayan tampan,dan dia juga yang membiayai kuliah adikku di perguruan tinggi. Dan satu yang bikin aku mabuk kepayang,dia suka menulis catatan kecil berisi perasaan cintanya padaku, yang sungguh langka ada di jaman sekarang yang kebanyakan prianya menganggap pernyataan cinta melalui surat adalah kegombalan yang'lebay'.

Makin malam suasana makin 'panas' . Dan aku yang sudah tak lagi suka dengan dunia malam terpaksa lebur dengan suasana dengan memesan Black Russian,campuran antara vodka dan kahlua yang rasanya mirip-mirip kopi dan aku tau persis macam-macam minuman karena pernah satu tahun selepas kuliah bekerja di bar,dan sebenarnya sudah hampir muak dengan suasana tempat hiburan malam karena yang terpancang di otakku semua pengunjungnya membawa sepasukan setan dalam diri mereka,mungkin juga aku salah satunya pada malam ini. Berhubung semua biaya pengeluaran untuk melobi di keluarkan kantor,aku sekalian pesan steak saja pada malam itu,agar tak perlu lagi makan nanti di kost-an sepulangnya dari tempat ini.

"Ling!" Ray memanggilku dengan sebutan sayangnya yang senenarnya sangat aku benci. Namaku adalah Delia,tapi Ray lebih senang memanggilku dengan 'ling' singkatan dari hitam keling. Yang memang kulitku rada hitam manis,tapi menurut sebagian orang eksotis entahlah hanya upaya untuk menyenangkan hatiku saja atau memang aku ini eksotis dengan hidung mancung bak Helena,kekasih Don Vito dalam film Godfather. Aku selalu menekan rasa sebalku dengan panggilan itu dengan membayangkan aku adalah Helena dimana aku sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan mobster,gangster mafia Itali.

Selagi Ray melobi kliennya,yang aku pun bingung dengan apa yang bisa mereka perbincangkan di tempat sebising ini,aku berusaha menikmati suasana dengan sesekali turun ke dance floor yang tentunya dijaga oleh beberapa teman Ray yang aku sudah kenal dengan baik. Sekilas pandang ekor mata ku melihat ke arah Rara yang sibuk membawa minuman kesana kemari sambil sesekali tangannya masuk kekantong menerima tips dari pengunjung bar tersebut. Entah mengapa aku tertarik dengan perempuan itu,usianya hampir sebaya denganku,namun aku melihat kematangan dan kearifan dari wajahnya yang jarang sekali ditemui pada perempuan seusiaku yang kebanyakan hanya memikirkan karier dan main saja.

Keesokan harinya di halte tempat aku biasa menunggu bis untuk bekerja pada salah satu Hotel di bilangan Sudirman, aku bertemu dengan Rara. Ditempat seterang ini kulihat wajahnya cantik sekali dengan kulit kuning langsat bercelana jeans dan tas ransel dipundaknya. Sementara aku berpakaian blazer,pakaian kebesaranku untuk pergi ke kantor.
"Hai,kamu Rara,kan ? " Masih ingat aku ? "Semalam kita bertemu,lupa yaa?"
"Eh,Mbak Delia ngapain di sini ? tanya Rara sambil tersenyum ramah.
"Nunggu bis,Ra..aku mau berangkat kerja."
"Loh kok gak dianter pacarnya?" Gak bawa kendaraan,Mbak ?
"Rara..rara..meskipun aku berpakaian blazer gini,gajiku gak jauh beda sama kamu,Ra..hanya tampilan luarnya aja yang beda,seolah aku ini bergaji besar atau apa,hehehe.."Aku tertawa kecil meski dalam hati miris.
Sambil menunggu bis kami berbincang-bincang seru tentang suasana heboh semalam,dan aku bertukar nomor handphone dengannya sambil berniat dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan suatu ketika,karena menurutku Rara sangat menyenangkan dan hangat.




Rabu, 12 Januari 2011

kau cemburu


kau jentikkan rayu 
pada kelopak bunga yang termangu
kilatan dendam terhampar 
di sejauhnya pandang

usahamu sia belaka, sayang
aku tak lagi cemburu
meski harumnya terus kau buru
ku hanya senyum tersipu

masihkah kau ragu akan ada mu 
di dada ini yang meski ku cungkil tetap slalu disini
rasa ku telah kurejam hingga tak tersisa setitik arang
tuturmu beralaskan pilu tentang aku dimana kau menuju

sudahilah sahaja
pengingkaran yang buat kita sama terkapar
di jurang penantian akan rindu membatu
bukankah kau aku telah ikat simpul mati padi

takkan pernah terlerai 
meski darah telah kau muntahkan
meski kenang telah kau tepiskan
aku bersiteguh semayam dalam sukmamu !

theradewi: Kau hidupku,Jenny

theradewi: Kau hidupku,Jenny: "Siang berpayung mendung.Aku menangis disudut kamar. Merutuki kebodohanku yang lemah dan selalu saja mengalah pada keadaan. 'Jenny,dimana ka..."

Senin, 10 Januari 2011

kubiarkan kau


kubiarkan kau menjejak inginmu
menjemput mimpi yang tak pernah bisa kupenuhi untukmu
mengabaikan luka seolah hadirnya tak pernah ada
bercangkir-cangkir kopi itu jadi saksi penantian kita untuk saling menemu
meski tahu dengan pasti hanya saling mendulang semu
kau aku menatap bisu takdir yang memukul koyak batin kita
membiarkan saja segala sumpah serapah hiasi bibir seolah akan mematikan cinta 
tapi tidak,cinta itu tetap bersemayam dalam dada 

kala malam itu kau serahkan separuh hatimu untukku
masih tetap kujaga hingga kini
kutempatkan dalam bejana suci kudekap tak kubiarkan seorangpun hampiri
kubiarkan separuh jiwaku kau wadahi pahit getirmu
yang kau selubungi gelak namun tak mampu duka kau elak

disini aku mengukir doa untuk menumbuhkan akar bahagiamu
hingga suatu saat nanti dahannya akan terjulur meneduhkan semesta
dan pahit yang kita berdua rasa kini akan berubah jadi madu dikehidupan yang lain
bercahayalah,sayang..
jadilah sangga untuk istana yang kau bangun
teguhkan pancangmu untuk mencengkram cakrawala

tercenung


tercenung
dalam lautan rindu yang menggantung
memapah asa yang kukira telah binasa
terseret kenang hingga ku berkubang
memerah terkapar di timbunan cintamu

letih aku kian ringkih
sejauh mata memandang hanya dirimu membayang
dengan dagu membeku pilu
keraskan hati terima takdir ilahi

ku letakkan diatas kepala


pilihanmu,kasih
kuletakkan diatas kepala
kuhias bunga melati suci
kuronce desir-desir mimpi

kau ada di balik kaca
kuraba namun hanya gema membahana
kusentuh namun hanya bisu jawab segala
teriakanku tertelan gemuruh ombak angkasa

dan aku
terduduk di tepian jurang menanti angin
hempaskanku jatuh dan terserak luluh lantak
sinarmu menembus palung jiwaku di kesunyian
tatapanmu menyembuhkan pun memerihkan

sekelebat hadirmu memberi arti di sepanjang perjalananku
senyummu adalah kiriman terindah dari Penguasa Jagat raya
dalam lara kutemukan cahaya cintaNya
buatku belajar akan arti sebuah keikhlasan

Kau hidupku,Jenny


Siang berpayung mendung.
Aku menangis disudut kamar. Merutuki kebodohanku yang lemah dan selalu saja mengalah pada keadaan. "Jenny,dimana kamu..aku rindu ,kau pasti dengan mudah bisa membesarkan hatiku kala ku sedih. Namaku Jenna,dan kembaranku Jenny. Aku lahir lebih dulu dari Jenny,selisih 7 bulan. Menurut orang-orang yang lahir lebih dulu adalah adik,sementara yang lahir belakangan adalah kakak. Aku dan Jenna sangat bertolak belakang. Sifatku selalu saja mengalah,pendiam,cenderung tertutup dan nilaiku di Sekolah biasa-biasa saja. Sementara Jenny keras kepala,pembangkang,mudah bergaul dengan siapa saja dan tergolong anak yang cerdas. Kami saling menyayangi,jarang sekali berselisih faham. Kalaupun ribut,itu hanyalah sebatas kekesalan Jenny yang melihatku diam saja kala ada orang yang menjahiliku. 
"Kamu gak boleh diam saja kalo dijahatin orang,Jenna..kamu akan diinjak-injak mereka kalau hanya selalu diam dan membisu,bahkan melototpun kau tak berani. Aku tak selalu ada disampingmu untuk membelamu !" Jenny kembali memarahi aku untuk yang kesekian kali.
"Dia gak jahat,kok Jenny..hanya jahil sedikit,aku yakin hatinya baik kau kan tahu dia kerap membantu anak-anak jalanan itu dengan mengajarkan mereka baca tulis, aku yakin hatinya sungguh mulia." Aku berdalih membela Ariel,pacarku kala itu.

Jenny hanya mendengus kesal mendengar pembelaanku. Hanya kepada Jenny aku berani sedikit marah,itupun karena aku yakin dia takkan balik melotot padaku. Tapi kepada siapapun diluar Jenny,aku selalu saja melempem. Mama yang bertabiat galak menyayangiku karna aku sangat penurut,sementara Papa yang penyabar cenderung memanjakan Jenny.

Selepas SMU,kami berdua melanjutkan kuliah. Jenny sebenarnya enggan kuliah di Universitas yang sama denganku. Dia sangat tertarik pada psikology,sastra dan filsafat. Sementara aku masih bimbang tentang apa yang paling kuinginkan dalam hidup. Namun akhirnya kami berdua tak bisa mengelak manakala kedua orang tua kami mendaftarkan pada Universitas yang sama,supaya kami bisa saling menjaga. Begiitu kata Papaku.
Jenny selalu terlihat berbeda denganku,dia bersikeras tak mau ada yang tahu kalau kami kembaran. Jika aku menguncir rambutku,Jenny langsung menggerai rambutnya dan menutupi mukanya dengan make up tebal,dengan nuansa gothic. Hingga terlihat amat beda denganku yang terkesan sangat 'perempuan' dengan make up tipis dan lipstik berwarna pink. Kami selalu bertukar peran,hingga teman-teman di luar lingkungan kampus sering terkecoh. Baru saja perkuliahan berlangsung satu semester,Jenny terlibat adu mulut yang cukup serius dengan mama, Jenny merasa terkekang jika jam malam untuknya di berlakukan. Sementara kegiatannya diluar amat padat,mulai dari sanggar seni dan bergabung dengan aktifis kampus semuanya ia lakoni tanpa kenal lelah. Jenny memang senang bergaul selalu berfikiran maju,tak seperti aku yang hanya suka berdiam diri dirumah menghabiskan waktu dengan sederet novel Shidney Sheldon atau Sophie Kinsella.

Di malam ketika Jenny memutuskan untuk hengkang dari rumah,Aku hanya bisa terisak pelan. Percuma saja membujuk Jenny tetap tinggal dirumah,betapapun aku yakin dia menginginkannya. Aku membantunya mengepak sebagian bajunya dalam koper,dan ijazah untuk nanti Jenny mencari pekerjaan. Dia sudah tak mau lagi melanjutkan kuliah,dan memutuskan untuk mencari pekerjaan apapun yang dia bisa lakukan untuk bertahan hidup jauh dari kekangan orang tua. Seraya berjanji untuk terus berkirim kabar.
"Sekarang atau nanti kita tetap akan berpisah,Jenna..tak usah bersedih,aku kan selalu ada untukmu dan menyayangimu meskipun hanya dari jauh. Jangan lagi jadi Jenna yang cengeng,berjanjilah kau akan membuat mama dan papa bangga." Jenny memelukku erat dan kami saling berurai air mata,menangisi perpisahan yang terasa sangat berat buat kami berdua.

Jenny kabur dari rumah dan aku memaksanya untuk membawa seluruh uang tabunganku untuk bekalnya hidup sementara belum mendapatkan pekerjaan,awalnya Jenny menolak tegas,dia tak mau merepotkan aku tapi kali itu aku mengancamnya tak akan membiarkannya pergi dan akan mengadukannya pada orang tua kami kalau dia sampai tak menerimanya. Aku tahu persis dia hanya punya sedikit tabungan,dia selalu royal pada teman-temannya dan sering pergi ketempat-tempat baru yang bahkan namanya saja aku baru mengetahuinya dari majalah.

Sepeninggal Jenny nilaiku merosot tajam,aku kehilangan pegangan. Bagaimanapun jennny yang selalu mengerjakan semua tugas-tugasku di kampus. Aku semakin menarik diri dari pergaulan,sampai akhirnya bertemu dengan Dhani. Berpacaran selama 3 bulan dan memutuskan untuk menikah. Seminggu sebelum pernikahan berlangsung, aku bertemu dengan Jenny. Dia bekerja disalah satu 'One Stop Entertainment' di Jakarta. Sewaktu aku perlihatkan foto Dhani pacarku,matanya langsung membelalak terkejut.
"Jenna,kau mau menikah dengan orang macam begini ? Hampir tiap malam kulihat dia mabuk-mabukan bersama teman-temannya di Bar Zeus,dan namanya sudah tak asing lagi sebagai playboy cap kadal ! Tolong kau pertimbangkan lagi keinginanmu menikah dengannya,Jenna ..kau toh baru 20 tahun,ngebet amat sih mau kawin segala ! " Jenny mendelik sambil merengut menatapku tajam.
"Aku tahu,Jenny..Dhani pun bercerita kalau dia dulu cowo yang badung,namun dia berjanji untuk berubah,Jenny..karena dia sangat mencintai aku. " Aku berkata tak kalah sengit.
"Duh,Jenna..Jenna..kau masih saja tolol kalau menyangkut urusan cowok,tak semudah itu manusia bisa berubah dari perilakunya yang sudah mendarah daging,Jenna..Aku hanya tak ingin kau disakiti olehnya. Aku pernah mendengar dia mencampakkan begitu saja cewek yang pernah jadi pacarnya karena hamil diluar nikah,dan menurut cerita yang beredar,cewek itu sekarang frustasi berat dan nekat menggugurkan kandungannya yang sudah berusia 5 bulan. Dan kini cewek itu dikeluarkan dari kampusnya dan terlibat narkoba karna patah hati sama si Dhani calon suamimu itu,kamu ingin bernasib sama,Jenna ?"
"Tapi itu kan masa lalunya,Jenny..belum tentu Dhani yang meninggalkannya,kan bisa saja cewek itu yang kegatelan karna bingung anak siapa yang ada di rahimnya,makanya Dhani mencampakkannya." 
"Terserah kau sajalah,Jenna..itu hidupmu,yang jelas kalau sampai Dhani berani macam-macam akan kuhabisi dia dengan kedua tanganku meskipun untuk itu aku harus masuk penjara,aku sangat menyayangimu Jenna lebih dari aku menyayangi diriku sendiri."
"Makasih,Jenny..aku yakin Dhani akan jadi suami yang terbaik buatku kelak." Kami saling berangkulan dan kulihat Jenny tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Berjanjilah kau tak akan melupakan aku,Jenna." bisik Jenny lirih.



"Makanlah sedikit,Jenna...supaya kau bisa cepat sembuh," Mama membujukku untuk makan siang. Seminggu telah berlalu sejak pemakaman Jenny, ternyata dia benar Dhani adalah bajingan yang tak layak untuk aku nikahi, baru dua hari kami menikah dan Jenny memergokinya masuk kamar hotel dengan seorang perempuan indo cantik. Lalu Jenny mengikutinya dan menunggu mereka keluar dari kamar hotel hingga mereka keluar dan Jenny yang kalap memakinya sambil menyambit Dhani dengan vas bunga,namun malang baginya Dhani serta merta menampar dan menendangnya keras hingga Jenny terpelanting dan tubuhnya terjatuh terguling di tangga hingga nyawanya tak dapat tertolong lagi. Berkali-kali aku pingsan di pemakaman Jenny ,sehari kemudian mama terpaksa memeriksakan aku ke Dokter karena tubuhku yang terkena demam tinggi dan selalu saja mengigau memanggil-manggil Jenny. 
Dalam tidurku kerap kali kulihat Jenny tersenyum padaku sambil berkata," Kau kuat Jenna,aku akan selalu ada disampingmu dan menjagamu,jangan khawatirkan apapun." Dan aku berteriak mencoba menggapainya,"Kau hidupku,Jenny..jangan tinggalkan aku lagi." Dan aku terbangun dengan bersimbah keringat diiringi tatapan keprihatinan dari orang tuaku.
"Selamat jalan,Jenny ..kau selalu ada di hatiku meski raga kita terpisah kau menyatu dalam darahku." Sejak hari itu aku berubah,tak lagi jadi Jenna yang lembek. Aku bertekad untuk membuat Jenny bangga dengan kemandirianku.

Jumat, 07 Januari 2011

Keluar dari raga


Hujan jatuh berdenting di taman.
Luzy terbelalak seketika menatap jasadnya yang terbujur kaku. Darah menggenang mendirikan bulu roma. Dari mulutnya sendiri dia lihat busa yang berbuih. Hening melingkupi segala. Apa yang terjadi dengannya,sungguh dirinya tak mengerti. Tak mungkin dirinya mati disaat nafas hidupnya sedang berkobar-kobar. Disekitar kamar itu masih dilihatnya asbak yang penuh puntung, dan satu batang yang masih menyala dengan abu yang terkulai sekarat.

Di ruang sebelah terdengar riuh tawa yang memekakkan telinganya,entah apa yang mereka tertawakan. Luzy tak ingat lagi kapan dia pernah merasakan tawa,apalagi bahagia. Namun Lusy pun tak jua mampu mengingat kesedihannya,seperti apa rasa sakit itu.
Dunia sekelilingnya tanpa warna,hitam putih belaka. Kilasan hidupnya terputar jelas di pelupuk mata,semua penuh dosa penuh aib dan hina. Tergambar buku catatan papa nya yang menuliskan tanggal dan jam berapa dia kabur dari rumah saat itu, juga sakau nya pada bubuk sialan itu, yang menghantarkannya berkali-kali pada jurang kematian dan keberuntungan yang masih setia menemaninya kala itu.
Namun Lusy pun ingat masa itu telah terlempar jauh di belakang. Dia sempat hidup normal,tanpa ada yang tahu siapa dia sebelumnya betapa mereka akan mengejek ketololannya di masa lalu,pernah seseorang berkata dengan santainya, 
"Kalau aku memang badung,tapi gak pernah tuh menyentuh barang begituan !" cibirnya sinis,seolah aku mengidamkan hidup dalam neraka,dasar sial. Namanya Ais,  dan saat itu juga sungguh kepengen memalu kpalanya dengan palu godam hingga sekujur tubuhnya mblesek ke tanah.

Tak  disangka tak dinyana, setelah ejekannya yang memuakkan itu Luzy dan Ais makin dekat seolah ada benang merah yang menghubungkan mereka. Puisinya dahsyat,kata-katanya luar biasa 'luebhay'. Serupa dengan Luzy. Meski Luzy yakin sekali Ais pasti sangat keberatan dibilang berlebihan.

Hari-hari mereka lalui dengan teramat manis,saling puji canda tawa bahagia berjejer langkah dengan keceriaan.  Namun hanya sekejap,seminggu kemudian kenyataan memukul telak. Kala Ais bermain-main dengan perasaan Lucy dan Lucy dengan bodohnya menikamnya ke dalam hati.

"Lucy,kita main gombal-gombalan yuuk !" Ais berkata dengan entengnya.
"Hayuu,aku pun suka di gombalin tanpa merasa dikibulin." Lucy pun menjawab dengan santai.
Suasana mengalir tenang dengan riak rayu puji dan tawa tanpa disadari sukma saling bertukar tempat. Ais ucapkan hal yang selama ini di hindari.
"Lalu aku harus bagaimana, kau kan sudah ada yang punya.
Lucy dan Ais terdiam dalam nyeri yang menusuk. Lucy tak sanggup hadapi kenyataan dan tinggalkan Ais termangu menunggunya di taman. Lucy terisak mengaduh,menangis sejadi-jadinya betapa dia sangat mencintai Ais. Meski tahu hal itu tidaklah mungkin jadi kenyataan.

Ais berteriak-teriak di taman,menyuruh Lucy kembali. Tapi Lucy tak mendengar. dia sibuk dengan galau nya. Hingga Ais pun letih menunggu dan mengancam untuk tak akan menghubunginya lagi lewat pesan singkat.

Esoknya Lucy tersadar, telah tinggalkan Ais sendirian di taman yang dingin dan pekat itu,dan mencoba mencari bayang Ais diantara pepohonan jati. Namun hanya hening yang menjawab panggilan Lucy. Terlambat dia menyadari kepergiannya.

Kepedihan di hati Lucy susul menyusul dengan kerinduan yang makin tanak. Harapannya timbul tenggelam seiring matahari yang selalu bersinar garang. Meski mendung dan gelegar badai menghampiri Lucy. Dia tetap menunggu kedatangan Ais, karna Lucy yakin Ais pun rasakan hal yang sama. Karya-karya Ais yang beredar di majalah langganan mereka berdua semuanya menggambarkan betapa pilu nya rindu yang juga di rasa Ais. Betapa agungnya cinta yang dia punya. 

Ternyata waktu menyembuhkan luka,meski bekasnya masih meninggalkan parut. Saat sakit hati itu hampir sembuh,Ais datang hantarkan senyuman.
"Lucy,apa kabar ? kemarin aku datang ke kotamu."
"Mengapa tak kau hubungi aku,Ais ?" sekuat tenaga Lucy menekan datar suaranya agar terlihat wajar sementara hatinya melontar ke angkasa raya.
"Ah,tidak..Aku tak ingin merepotkanmu." sangat khas Ais yang di rasa Lucy selalu saja kurang 'pede' di balik kehebatannya.
"Mengapa kau bilang begitu,Ais ?" Kau tahu persis bahwa kau selalu kuharapkan." desis Lucy parau tak sanggup lagi menahan air matanya jatuh keluar. Sungguh Lucy amat merindukannya. Lalu Ais pun kembali menghilang, untuk kedua kalinya meninggalkan Lucy dalam kubangan air mata yang entah kapan akan bisa surut.
"Mengapa kau hadir lagi,Ais ? jika hanya untuk menggorok nadiku untuk kedua kalinya." desah Lucy getir.
Lucy pun oleng kehilangan kendali. Dia marah pada Ais, marah pada rasanya sendiri. Marah pada waktu dan jarak yang mencemooh ketidak berdayaan mereka. Lucy tak sanggup hadapi dunia, jika patah hati percaya dirinya menukik tajam didera pertanyaan atas kekurang sempurnaan dirinya yang mungkin mengakibatkan Ais meninggalkannya. Lucy membenci dirinya,hidupnya dan segala tentangnya. 
Namun tak ditampakkannya pada siapapun. Dikuncinya rapat rasa gundahnya. Diselubunginya dengan tawa. Dipermanis dengan senyuman. Tak dihiraukannya lagi 'sakit hati' itu menggerogotinya dari dalam,membunuh dirinya pelan-pelan.
Seseorang muncul,menawarkan rasa yang sama. Menggetarkan cinta yang dulu pernah ada. Meski tak terucap dalam kata namun Lucy mengerti apa yang Udy,nama laki-laki itu inginkan. Lucy sempat berbahagia,dia kembali menemukan cintanya meski dalam sosok yang lain. Tiba-tiba seorang sahabat menyentil sadarnya agar dia tak lagi ceroboh memberikan hatinya cuma-cuma. Bahagia pun sirna,kembali Lucy terjatuh dalam jurang penyesalan,mengapa dia tak pantas merasakan bahagia. Mengapa kesadaran selalu muncul terlambat. Lucy terjatuh dalam pekatnya malam. Dadanya tertancap belati yang teronggok dipinggir kamar. Tepat di jantungnya !
Lucy melangkah keluar dari raganya. Merasa kosong yang tak terhingga,menyadari dia bukanlah apa-apa. Belumlah cukup bekal untuk menghantarkannya ke surga. Memohon agar waktu bisa di putar kembali dan memperbaiki semua kekhilafannya. 
"Maafkan aku Tuhan,selalu saja melupa akan kebesaranMu. Mengabaikan nikmatMu yang berlimpah atas diri,membesar-besarkan rasa yang tak semestinya ada.

GEDUBRAAAAKKKKK !!!!
Lucy terjatuh berdebum dari meja komputernya. Ternyata dia tertidur sewaktu online di situs jejaring sosial "freakbook".
"OH,SHIT !"  Gue rupanya ketiduran lagi sambil nge'freak' !"  
"Bener-bener bikin 'addict' nih !" 
Lucy mati suri dalam mimpinya,dan terhuyung-huyung menuju kamar mandi sambil bersenandung kecil.



                                                        

About this blog