Violet terkenal dengan julukannya si gila pesta, tak ada satu cafe atau "crowd" di bar manapun tanpa ada "guest list" dengan nama Violet di dalamnya. Meski kelihatan selalu riang gembira namun jauh "didalam" jiwanya sesungguhnya dia amatlah rapuh, Violet selalu saja memikirkan cintanya yang tak pernah kesampaian pada Randy, pria pendiam yang berada jauh di kota Semarang.
Violet bersahabat baik dengan Tari, perempuan santun dan cantik juga amat baik hati yang selalu meredakan galaunya dan menjadi pelipur lara nya kala risau di hati Violet datang menyerang. Satu lagi dedengkot dalam segitiga persahabatan mereka yaitu Dhee, perempuan ganas dan galak dalam bercanda maupun bertutur hingga memberikan kesan judes dan sangar bahkan tak jarang sok-sok pelit. Namun jauh di dalam hatinya sesungguhnya jiwa Dhee amatlah murni, dia tak suka kepura2an dan seringkali melontarkan apa yang ada dalam pikirannya tanpa saringan. Tembak langsung tak perduli lawan bicara mau marah atau tersinggung, hal itu yang menyebabkan Violet betah berkawan dengannya, karena Violet tak suka kepura-puraan yang menjijikkan. baginya kejujuran yang menyakitkan jauh lebih baik di banding dusta berlapis madu.
Suatu ketika Tari menghilang dari peredaran, Violet dan Dhee kelabakan tak karu-karuan. Dihubungi di ponselnya tak aktif, di sms tak di balas.
"Dhee, menurutmu kemana si Tari, kok gak biasanya dia bagai lenyap di telan bumi. Tari kan biasanya tak pernah melepas ponsel dari genggaman tangannya, bahkan ketika tidur sekalipun !" tanya Violet pada Dhee.
"Memang Vio, gue juga lagi mikirin tuh anak...tumben-tumbenan amat menghilang, pasti ada "something wrong" nih, gw yakin seribu persen !" dengan sotoynya Dhee menjawab.
Di hari minggu yang panas itu, Dhee dan Violet langsung menuju ke kota Bogor mengunjungi rumah Tari. Padahal Tari sudah mewanti-wanti sebelumnya agar tak usah berkunjung ke rumah Tari walau apapun yang terjadi, waktu itu Tari bilang pada mereka berdua agar dia saja yang menyusul mereka ke Jakarta, tak usah mereka repot-repot menyambangi kediamannya.
Sesampainya mereka pada alamat yang dituju, keraguan menerpa di hati Violet dan Dhee. Berhubung masih lelah karena menempuh perjalanan jauh. Mereka akhirnya memutuskan untuk berteduh sejenak di sebuah rumah makan yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah Tari, sambil menikmati segelas es kelapa muda yang dibuatkan oleh penjualnya yang ganteng bak Justin bleber, mereka cengengesan sambil sikut-sikutan tangan mencoba mencari perhatian. Yang sayangnya, si Justin bleber gadungan itu malah berlagak "cool" sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya dengan penuh gaya.
Ketika es kelapa yang ketiga sudah tandas mereka minum, akhirnya Violet dan Dhee menyadari bahwa percuma saja mati-matian menggoda tukang es kelapa itu karena di bilik belakang ternyata ada seorang wanita bertubuh gempal dan berwajah selalu "menya-menye" sama siapa saja itu ternyata adalah tunangannya.
"Apes emang!" sahut Violet dan Dhee hampir berbarengan.
"Woi Dhee, daripada kita duduk-duduk aja di sini kayak anak ilang, mending kita coba selidiki rumah Tari siapa tahu kita dapat petunjuk kenapa dia menghilang!" Violet mengajukan usul yang langsung diiyakan oleh Dhee.
Dengan langkah panjang-panjang Violet dan Dhee bergegas menuju rumah Tari, dan setibanya disana mereka hanya melongok-longok pada daun jendela yang tertutup rapat. Pun daun pintu yang terkunci dengan kokoh, seolah menampik kedatangan siapapun yang hendak bersilaturahmi.
"Tuh kan, Vio..si Tari pasti lagi konsentrasi untuk membuat puisi-puisi yang aduhai makanya sampe bersemedi gitu, coba ngintip yuuk !" dengan semangat 45 Dhee sekonyong-konyong menjulurkan kepalanya kedalam daun jendela yang tak terkunci.
"Plokkk !" dengan emosi Violet menggaplok bahu Dhee.
"Lo oneng amat yaak, kita menyelidiki kerumahnya bukan berarti melanggar privasinya dia..cukup obrak abrik aja tong sampah di belakang, kalik-kalik aja dapet petunjuk. Lo kan gak mau nanti dia manyun kerna kita ceroboh masuk rumah orang tanpa permisi!" dengan sewot dan setengah berbisik Violet menggiring Dhee menuju tong sampah di belakang rumah Dhee, sambil sesekali bertubrukan dengan tikus nying-nying yang dengan genit minta perhatian.
Setelah hampir setengah jam bergulat dengan Tong sampah berbau bacin itu, akhirnya Dhee mendapat petunjuk sebuah robekan buku diary yang terkena tumpahan sisa kopi.
"Horee...horee...gue dapet petunjuk nih, Vio !" dengan berisik Dhe jingkrak-jingkrakan.
Dengan geram serta merta Violet langsung menjambak rambut bondol Dhee.
"Waddduuuuh, lo berisik amat sih..kan udah gue bilang jangan berisik, kalo Tari ternyata ada di rumah dan mergokin kelakuan sinting kita, gimana coba !"
"Awww....maap Vioooo, lo kasar amat sih..pan gue lupa, dodol !" sambil merengut gak jelas Dhee menunjukkan sobekan buku diary Tari yang berbunyi :
"Hidupku hampa tanpa pulsa"
"Iewww...WHATTT...!!!!" ternyata dia ngilang ga ngasih kabar hanya karena gak ada pulsa !!!" Dhee berkata sambil mata nya melotot kayak kucing garong.
"Ah, tapi gue masih gak percaya..mungkin coretan ini hanya iseng belaka, tak membuktikan apapun!" dengan sok optimis Violet berujar.
"yaudeh kalo lo gak percaya sama kertas ini, coba kita bongkar lagi tuh tong sampah sialan!"
Mereka pun akhirnya membongkar-bongkar tong sampah itu dengan harapan akan menemukan petunjuk sekecil apapun tentang menghilangnya Tari, kebanyakan hanya kertas-kertas berupa rayuan dari sejumlah pria yang memang sudah di prediksi akan ditemukan disana.
Selagi mereka tengah asik dengan perkerjaan sok detektifnya, tiba-tiba pintu dapur terkuak. Sontak mereka bertiga terkejut bukan kepalang.
"VIOLET ! DHEE !" sedang apa kalian berdua ngobrak abrik tong sampahku !"
Dengan muka malu-malu seperti banci habis terjaring razia, Dhee akhirnya angkat bicara.
"Begini Tari, kami berdua khawatir tentang kamu makanya mau repot-repot menyambangi rumahmu, kami berdua mau mengetuk pintu tapi terlalu takut karena kamu kan pernah nge-"warning" untuk tak datang kesini walau apa yang terjadi !" Dhee berseru sambil pasang muka memelas.
Violet hanya diam saja sambil memperhatikan daster lusuh yang di kenakan Tari, benaknya sibuk mencari tau kenapa sampai Tari rela memakai daster lusuh itu, padahal biasanya dia amat modis.
"Sebenernya aku malu mau bilang sama kalian, bahwa aku belakangan gak onlen karena gak punya uang buat beli pulsa." Ucapan Tari terdengar lirih sambil tersenyum manis sekali
"HAHHH !" jadi benar, kamu gak kelihatan selama ini karena ga bisa beli pulsa ! " sontak Violet dan Dhee berpandang-pandangan dengan heran, lalu mereka berdua langsung terkulai lemas ke lantai.
"Naseeep...naseep....ternyata gak enak juga yaa jadi manusia sotoy !" dengan muka lesu Violet dan Dhee mendesah lirih sambil rebah dengan letoy pada sandaran kursi.
*********The End***********
inspired by; gina gie dan dieth tatipata....telah kutunaikan janjiku pada diri sendiri untuk menulis cerita tentang kesintingan kalian berdua....:D