Kamis, 31 Maret 2011

dua sisi

Diregangkannya mimpi, 
hingga butiran butiran asin meluruh diantara porinya
bertanya ia
"pada siapa aku kan bersandar, jika pijakan tlah patah diujung lelap"
gadis kecil dengan kamboja di helai rambutnya
tertunduk menatap tanah
menanti asa yang tak kunjung menepi
ibu tlah jauh meninggalkannya di sudut kamar sepi
ayah tak pernah lagi menepuk pundaknya dan berikan kehangatan
langkah kecilnya tertatih dari rumah ke rumah
mencari belahan jiwanya yang hilang
tak jua bertemu
hanya bersiborok pandang
dengan dua sisi mata logam
dingin dan tak berperasaan
di kibasnya angan hingga hilang dari ujung dedaun
tak lagi hijau beralaskan embun
hanya busuk melesak jauh ke dasar bumi
mencari kesejatian diri

R.A.S.A

dalam rimpang rasa mu cabang
tak kutemukan cintamu julang
hanya warna yang kaburkan gulita
bilakah cinta itu tlah sirna

kutuntaskan inginmu
menampik pilu di kisaran waktu 
sergah hanya angan yang mematah
oleh pijar bernafaskan derai

segelintir tanya berwajah pucat pasi
torehkan badai  tersaruk asa yang memburai
pantaskah diri rangkul pelangi hiasi helai mimpi
sementara dirimu dalam hati telah lepuh bersimbah peluh

tangisi rentang jarak rutuki bilangan angka
membuat harap hanya omong kosong belaka
ku bersandar pada lembar kisah
dimana dulu senyum masih bergelayut mesra

dan kini sepi begitu merangkul jiwa
rona merah wajah kehilangan bentuknya
hingga cermin menggulungnya pergi
bersama kenang yang panggil untuk ku datangi

rasa ku mati tertimbun hujat dan maki
dan gelak tawa tak kukenali lagi
hanya hening hujam ulu hati
benakku mencari siapa diriku tanpa hadirmu

my "mind"

kau datang ke hidupku
meski hanya sekejap pandang
merangkul hati bertilam emas murni
lalu hilang tinggalkan aku sepi sendiri

"menjadi dewasa adalah perjuangan seumur hidup dan itu sakit"

katamu disuatu malam lewat inbok seseorang
bolehkah aku menjadi anak kecil saja agar tak perlu berjuang atas apapun
kerna aku butuh kau "mind"
tuk jadi sangga dalam tiap lembar luka
tuk jadi tawa dalam tiap kekonyolan laku

kutunggu saat kau kan hadir kembali
dan bawakan aku pelangi di genggaman
penuh warna dengan binar keceriaan
cepatlah kembali, aku kian tak sadarkan diri

hilang arah
hilang tuju

aku rindu, "mind"

Rabu, 30 Maret 2011

sebuah nama

susurilah sebuah nama dalam lingkar hidupmu
ada aku disana
meski tak nampak oleh mata yang membuta
sedianya kau eja oleh hati
usah kau singkap
dia menyerupai alap-alap
takkan terlihat lebarkan sayap diangkasa
hanya cicit buat sesiapa mengernyit
tunggulah saat matahari terbit
dia datang sodorkan bibit
yang pancangnya pernah kau tanam di beranda
aku disini menanti secercah sadar yang rasuki kening
tuk bisa jangkau hatimu

senja di balik lekuk senyummu

senja ini kasih
bolehkah kukecup riak tawa dalam serpihan rindumu
biar tenggelam jiwa ini ke dasar hatimu
biar gaung dentum rasa di sebalik senyummu

percikan mimpi yang kau bawa masih merdu di telinga
bukanlah air yang padamkan bara
tapi asap nirwana yang redakan sangka
ku usap sketsa wajah bermandikan luka

mengalirlah pada sungai tempat bidadari bawakan pelangi
biar sirna cinta ini di bawanya pergi
biar derai larutkan janji
biar semesta melahap beribu nyeri
dan kurejam mimpi sebatas mata kaki
biarlah

@___@ my 'mind' :'(

Fajar belumlah menyeringai dengan sinarnya, aku terdiam di kesunyian. Setelah 3 minggu lamanya terbebas dari Xanax, pagi ini aku kembali mengkonsumsinya. Aku butuh, untuk menjaga setitik kewarasanku. Kalau saja ada my 'mind' dia pasti bisa menenangkanku, mengembalikan sedikit saja nalarku...membuatku tersenyum bahwa semua akan baik2 saja, tapi dia tak ada disini. Mungkin sedang bergelung di balik selimutnya memikirkan hal2 hebat yang takkan pernah terjangkau oleh rendahnya pengetahuanku atas sesuatu. 
My'mind' selalu bisa menyentil sadarku, menggugah rasa inginku untuk bangkit dan bertegak diatas kakiku. mendorong semangatku untuk mau melangkah dan melakukan apa yg paling kuingini dan terpenting dalam hidupku...
Maafkan aku my'mind'...bahwa aku telah mengecewakanmu, atas lautan yang kau percaya bahwa aku akan bisa menyelaminya malah kini aku hampir tenggelam di kedalamannya...i don't believing my fuckin' self anymore, and now i need to hide from anyone...try to figure it out. i've lost my soul....crush so hard into the stones....
what should i do ...i need u here :'(

@#$%^&*()_+@#$%^&*()_@#$%^&*()@#$%^&*#$%^&*(#$%^&*(@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*(@#$%@#$%^&*()@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*(@#$%^&*(#$%^&*@#$%^&*(#$%^&*%^&*(@#$%^&*(@#$%^&*@#$%^&*(@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#$%^&*@#

Senin, 28 Maret 2011

sunyi

terbukalah mata
atas semua simpul di dada
angin tlah bawanya berlari
dari cangkang yang penuh duri

menepilah sejenak
biar redam memuai cinta dalam relung sukma
meski samar sembunyi senyum, juntai rindu masih teraba
kutanya matahari
teriknya tetap mengiris iris nadi

batang telah mematah, meski sulur masih saling menjangkau
lupakanlah
lupakanlah
lupakanlah
biar hijau segala bentuk dalam purna rupa
biar tangis masih mengaliri darah
aku masih genggam cinta meski belati tancap di tengkuknya
sempurnalah dalam pedihmu, aku tetap disini
memelukmu dalam liang sunyimu
selalu, sayang

titik

titik ini
getar menjalar selubungi ujung jari hingga kepala
mendera takut juga tepis saling tarik menarik
bocah kecil itu berjongkok di sudut
ditutupnya rapat rapat telinga dengan dua belah tangannya

"pergilah !" 
hatinya berbisik, getar ini kan buatnya berdarah kelak
kini sudah nyeri menusuk nusuk pori

buliran asin meleleh di dua bola matanya
"mengapa aku tak sempurna !"
benaknya riuh oleh tanya yang mengemuka
apa yang mereka bicarakan, 
aku hanya ingin di mengerti
atas secuil ketidaktahuanmu atasku(mu)

dia ada disana lambaikan tangan dan tersenyum julurkan luka
berganti ganti antara dasamuka dan zarathustra

Sabtu, 26 Maret 2011

kala aku

tuturmu meradang
kala  membolak balik aksara
pun dedaun rebah ke tanah
kala hujan menerpa bumi

usah bibir uraikan berhelai jumawa
kain kusam sadar diri tak berpunya
rongga dada biar mengembang sendirinya
tak perlu lakon kau tancap dimuka

tak perlu !

ganesha pun tunduk kala hisap ilmu dari mangkuknya
di engkau yang nyalakan sekam dalam api nirwana
tak perlu cahaya kau sebar dia akan bias dengan sinarnya
tetesi satu bercak dalam suci lenggam jumput padi

sungguh sayang

Segitiga Acak

Violet terkenal dengan julukannya si gila pesta, tak ada satu cafe atau "crowd" di bar manapun tanpa ada "guest list" dengan nama Violet di dalamnya. Meski kelihatan selalu riang gembira namun jauh "didalam" jiwanya sesungguhnya dia amatlah rapuh, Violet selalu saja memikirkan cintanya yang tak pernah kesampaian pada Randy, pria pendiam yang berada jauh di kota Semarang. 
Violet bersahabat baik dengan Tari, perempuan santun dan cantik juga amat baik hati yang selalu meredakan galaunya dan menjadi pelipur lara nya kala risau di hati Violet datang menyerang. Satu lagi dedengkot dalam segitiga persahabatan mereka yaitu Dhee, perempuan ganas dan galak dalam bercanda maupun bertutur hingga memberikan kesan judes dan sangar bahkan tak jarang sok-sok pelit. Namun jauh di dalam hatinya sesungguhnya jiwa Dhee amatlah murni, dia tak suka kepura2an dan seringkali melontarkan apa yang ada dalam pikirannya tanpa saringan. Tembak langsung tak perduli lawan bicara mau marah atau tersinggung, hal itu yang menyebabkan Violet betah berkawan dengannya, karena Violet tak suka kepura-puraan yang menjijikkan. baginya kejujuran yang menyakitkan jauh lebih baik di banding dusta berlapis madu.

Suatu ketika Tari menghilang dari peredaran, Violet dan Dhee kelabakan tak karu-karuan. Dihubungi di ponselnya tak aktif, di sms tak di balas. 
"Dhee, menurutmu kemana si Tari, kok gak biasanya dia bagai lenyap di telan bumi. Tari kan biasanya tak pernah melepas ponsel dari genggaman tangannya, bahkan ketika tidur sekalipun !" tanya Violet pada Dhee.
"Memang Vio, gue juga lagi mikirin tuh anak...tumben-tumbenan amat menghilang, pasti ada "something wrong" nih, gw yakin seribu persen !" dengan sotoynya Dhee menjawab.

Di hari minggu yang panas itu, Dhee dan Violet langsung menuju ke kota Bogor mengunjungi rumah Tari. Padahal Tari sudah mewanti-wanti sebelumnya agar tak usah berkunjung ke rumah Tari walau apapun yang terjadi, waktu itu Tari bilang pada mereka berdua agar dia saja yang menyusul mereka ke Jakarta, tak usah mereka repot-repot menyambangi kediamannya.

Sesampainya mereka pada alamat yang dituju, keraguan menerpa di hati Violet dan Dhee. Berhubung masih lelah karena menempuh perjalanan jauh. Mereka akhirnya memutuskan untuk berteduh sejenak di sebuah rumah makan yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah Tari, sambil menikmati segelas es kelapa muda yang dibuatkan oleh penjualnya yang ganteng bak Justin bleber, mereka cengengesan sambil sikut-sikutan tangan mencoba mencari perhatian. Yang sayangnya, si Justin bleber gadungan itu malah berlagak "cool" sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya dengan penuh gaya. 

Ketika es kelapa yang ketiga sudah tandas mereka minum, akhirnya Violet dan Dhee menyadari bahwa percuma saja mati-matian menggoda tukang es kelapa itu karena di bilik belakang ternyata ada seorang wanita bertubuh gempal dan berwajah selalu "menya-menye" sama siapa saja itu ternyata adalah tunangannya. 
"Apes emang!" sahut Violet dan Dhee hampir berbarengan. 
"Woi Dhee, daripada kita duduk-duduk aja di sini kayak anak ilang, mending kita coba selidiki rumah Tari siapa tahu kita dapat petunjuk kenapa dia menghilang!" Violet mengajukan usul yang langsung diiyakan oleh Dhee.

Dengan langkah panjang-panjang Violet dan Dhee bergegas menuju rumah Tari, dan setibanya disana mereka hanya melongok-longok pada daun jendela yang tertutup rapat. Pun daun pintu yang terkunci dengan kokoh, seolah menampik kedatangan siapapun yang hendak bersilaturahmi.

"Tuh kan, Vio..si Tari pasti lagi konsentrasi untuk membuat puisi-puisi yang aduhai makanya sampe bersemedi gitu, coba ngintip yuuk !" dengan semangat 45 Dhee sekonyong-konyong menjulurkan kepalanya kedalam daun jendela yang tak terkunci.
"Plokkk !" dengan emosi Violet menggaplok bahu Dhee.
"Lo oneng amat yaak, kita menyelidiki kerumahnya bukan berarti melanggar privasinya dia..cukup obrak abrik aja tong sampah di belakang, kalik-kalik aja dapet petunjuk. Lo kan gak mau nanti dia manyun kerna kita ceroboh masuk rumah orang tanpa permisi!" dengan sewot dan setengah berbisik Violet menggiring Dhee menuju tong sampah di belakang rumah Dhee, sambil sesekali bertubrukan dengan tikus nying-nying yang dengan genit minta perhatian.

Setelah hampir setengah jam bergulat dengan Tong sampah berbau bacin itu, akhirnya Dhee mendapat petunjuk sebuah robekan buku diary yang terkena tumpahan sisa kopi.
"Horee...horee...gue dapet petunjuk nih, Vio !" dengan berisik Dhe jingkrak-jingkrakan.

Dengan geram serta merta Violet langsung menjambak rambut bondol Dhee.
"Waddduuuuh, lo berisik amat sih..kan udah gue bilang jangan berisik, kalo Tari ternyata ada di rumah dan mergokin kelakuan sinting kita, gimana coba !"

"Awww....maap Vioooo, lo kasar amat sih..pan gue lupa, dodol !" sambil merengut gak jelas Dhee menunjukkan sobekan buku diary Tari yang berbunyi :

"Hidupku hampa tanpa pulsa"

"Iewww...WHATTT...!!!!" ternyata dia ngilang ga ngasih kabar hanya karena gak ada pulsa !!!" Dhee berkata sambil mata nya melotot kayak kucing garong.
"Ah, tapi gue masih gak percaya..mungkin coretan ini hanya iseng belaka, tak membuktikan apapun!" dengan sok optimis Violet berujar.
"yaudeh kalo lo gak percaya sama kertas ini, coba kita bongkar lagi tuh tong sampah sialan!" 

Mereka pun akhirnya membongkar-bongkar tong sampah itu dengan harapan akan menemukan petunjuk sekecil apapun tentang menghilangnya Tari, kebanyakan hanya kertas-kertas berupa rayuan dari sejumlah pria yang memang sudah di prediksi akan ditemukan disana.
Selagi mereka tengah asik dengan perkerjaan sok detektifnya, tiba-tiba pintu dapur terkuak. Sontak mereka bertiga terkejut bukan kepalang.
"VIOLET ! DHEE !" sedang apa kalian berdua ngobrak abrik tong sampahku !"
Dengan muka malu-malu seperti banci habis terjaring razia, Dhee akhirnya angkat bicara.
"Begini Tari, kami berdua khawatir tentang kamu makanya mau repot-repot menyambangi rumahmu, kami berdua mau mengetuk pintu tapi terlalu takut karena kamu kan pernah nge-"warning" untuk tak datang kesini walau apa yang terjadi !" Dhee berseru sambil pasang muka memelas.

Violet hanya diam saja sambil memperhatikan daster lusuh yang di kenakan Tari, benaknya sibuk mencari tau kenapa sampai Tari rela memakai daster lusuh itu, padahal biasanya dia amat modis.

"Sebenernya aku malu mau bilang sama kalian, bahwa aku belakangan gak onlen karena gak punya uang buat beli pulsa." Ucapan Tari terdengar lirih sambil tersenyum manis sekali
"HAHHH !" jadi benar, kamu gak kelihatan selama ini karena ga bisa beli pulsa ! " sontak Violet dan Dhee berpandang-pandangan dengan heran, lalu mereka berdua langsung terkulai lemas ke lantai.
"Naseeep...naseep....ternyata gak enak juga yaa jadi manusia sotoy !" dengan muka lesu Violet dan Dhee mendesah lirih sambil rebah dengan letoy pada sandaran kursi.


*********The End***********





inspired by; gina gie dan dieth tatipata....telah kutunaikan janjiku pada diri sendiri untuk menulis cerita tentang kesintingan kalian berdua....:D

seraut wajah yang kupanggil dalam diam

pada malam dengan bujung sangkar
kau ada berpigura senyum
melarung senyum dikulum
menjarah hatiku ke sekian kali

tahukah kekasih,
tak pernah rindu ini padam
meski malam melagukan dendam
meski terik memanah kulit dalam sekam

kubiarkan kau anggapku tak lagi mencinta
agar duka kau aku terlarut tanpa sesiapa saling memagut
agar martabat tetap berada dalam sarangnya
meski ia menjura hendak kita berdua terbangkan

pedih memang kasih
bilangan waktu yang pisahkan tak jua hilangkan rasa sayang
erat mencengkram meski samar di sembunyikan
raut muka tak pandai berdusta

sekali lagi kuredam 
jika benar ini cinta pasti akan temukan sangga
jika benar namanya rindu pasti jua kan menemu
perih ini biarlah ku panggul dalam sepotong kenang

Desir Angin

desir angin sampaikan salam
tentang rindu yang terpaku pada debu
tentang mimpi yang pijarkan detak nadi
dengan engkau berdegub dalam tiap ketuk

bolehkah sayang 
aku tetap menutup dada ini
darimu meski getar selalu inginkan ingkar
meski cinta kerap lupakan dosa

pernah aku menebar
ketelanjangan yang kau inginkan aku tuk umbar
meski enggan hardik lalu ia terjepit
dilema antara cinta atau hanya selibat kelabui angan

mengapa sayang
aku tak boleh cintaimu dengan tirai tutupi raga
sedianya ia hanyalah rangka
takkah kau lihat jauh di dasar jiwa
ada aku terbenam dalam sepi yang kau tuai

Rabu, 02 Maret 2011

Mata Dewa

mata dewa
masih hujam lubangi kening 
ceraikan akal kelilingi mahkota
biaskan rupa bisa berujung lara

selalu saja, kasih
angin bawa serta tumpahan cerita
beranak pinak bernada ragu hanyutkan harap
sedianya bermukim di hati aku kau

mengapa tak bisa
rontokkan saja akar batu 
yang sekam di dasar sukma
dan mulai dari awal jumpa

rinduku
tak berhenti 
di sekejapan mata
abadi di penggal wawangsalan tahta

Ludah di Penjara Diandra

"Kalau kau terus fb-an, aku takkan datang ke rumahmu lagi !"
Paul memaki dengan nada tinggi dan suara yang menggetarkan bumi.
Diandra hanya diam menahan amarah yang mulai menyelubunginya seketika.
Ditutupnya notebook dan berkata dengan santai.
"Silahkan, pintuku selalu tak pernah terunci untuk kau masuki maupun enyah dari kehidupanku, bebas-bebas aja." Diandra memandangi wajah itu lekat, wajah  yang dulu amat dicintainya yang sudah sekian bulan Diandra tak lagi punya rasa yg dulu pernah ada kerna sebaris pengkhianatan Paul.

Paul makin geram, wajahnya mengeras menyiratkan kekesalan yang berlebihan.
"Coba kau pikir, Diandra...mana ada orang fb-an sampe subuh, kecuali orang sinting dan ga punya kerjaan !"
"Lalu apa perdulimu Paul, apakah aku mengganggu kenyamanan hidupmu atau kau sekedar tak suka melihat aku tertawa."
Diandra masih tetap menjaga datar suaranya.
"Dasar perempuan setan, kau !"
"BESOK AKU AKAN PISAH DARIMU, DASAR PEREMPUAN TAK TAHU DIUNTUNG ...CUIHHH...! "
Paul berteriak kesetanan sambil meludahi Diandra. 
"Kau ingat, Paul...kau yang memintaku untuk berhenti bekerja dan menunggui sangkar pernikahan kita, kuturuti ! pun ketika pengkhianatanmu yang bertubi-tubi dan hampir saja merenggut nyawaku, kulupakan sudah dan kini kau melarangku untuk sekedar fb-an, memenjara pula fikiranku ? maaf, aku tak lagi ingin menurutimu...dan jangan pernah kau ancam aku, kerna aku tak pernah takut pada ancaman dan tak pernah takut akan kelaparan jika kau tinggalkan..coba katakan apa saja yang sudah kau beri padaku..rumah, mobil, atau deposito yang atas namaku ? zero Paul, semua kupercayakan padamu kerna aku dulu amat mencintaimu dan tak pernah inginku mengambil sedikitpun apa-apa kecuali sebentuk kasih sayang darimu, yang kemudian kau khianati...sejak itu aku belajar untuk tak lagi berpusat pada dirimu, ku nikmati hari-hariku tanpa pernah harapkan apa-apa lagi darimu..jika kini kau memilih pergi, pergilah sejauh mungkin dariku kerna memang itu yang hati kecilku harapkan sejak lama,  sulit untuk mempercayai apalagi mencintaimu seperti dulu. Pengkianatanmu padaku, telah meruntuhkan apa yang kupercayai dari cinta yang kukira suci."
Diandra berkata tanpa sedikitpun air mata, padahal biasanya dia amat cengeng.
Diandra sudah benar-benar lelah menghadapi larangan demi larangan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang,..resiko apapun akan dihadapinya demi menjaga keutuhan jiwanya, daya hidupnya..Diandra sudah cukup berkorban demi sebuah mahligai pernikahan, belum lagi kekerasan fisik dan mental yang dialaminya  telah mengubahnya lebih kuat dari sebelumnya. Tak ada sedikitpun kesedihan dalam diri Diandra, hanya tekad kuat bahwa dia bisa sanggup lakukan apapun. 

Paul bergegas menuju lemari pakaian, sibuk mencari-cari sesuatu, sementara Diandra duduk di kursi malas sambil menghembuskan asap rokoknya dengan geram. Di helanya nafas panjang-panjang, diingatnya kembali tiga tahun yang lalu kala Paul sempat menganggur dan kehidupan mereka amatlah sengsara, sampai buat makan saja mereka harus berbagi satu bungkus indomi dan Paul kadang membelikan Diandra nasi padang kesukaannya dan berbohong jika Paul sudah makan, manakala Diandra membuang sisa nasi padang tersebut ke tong sampah sempat Diandra memergokinya memungut bungkusan nasi itu dan memakannya diam-diam di dapur. Diandra amat murka, " Tadi kau bilang kau sudah makan Paul, kenapa kau berbohong padaku ? kita kan bisa memakan sebungkus nasi itu sama-sama !"
Paul hanya menjawab pelan, " Aku khawatir kamu kurang makan sebungkus nasi itu Diandra, biarlah aku memakan sisanya."  
Diandra merasa amat trenyuh, sebegitu cintanya Paul pada dirinya  dulu hingga rela memakan nasi bungkus yang sudah dibuangnya ke tong sampah.
Berdua mereka menghadapi sama-sama pahit getirnya perjuangan hidup, kadang ketika amat kelaparan Diandra menguatkan hatinya untuk meminjam hutangan dari para orang-orang terdekatnya meski harus menghadapi rasa malu yang hampir tak kuat lagi untuk ditanggungnya. Semua dijalaninya dengan ikhlas dan doa yang sungguh-sungguh agar Paul bisa kembali bekerja kerna Diantra tetap tak diijinkan untuk mencari pekerjaan. Hal itulah yang membuat Diandra selalu memaafkan Paul, ketulusan cintanya dulu selalu diingatnya. 
Kini kehidupan mereka sudah tak sesuram dulu, Paul mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidangnya dan perlahan-lahan sudah bisa sedikit membahagiakan orang tua. Namun godaan memang selalu datang tak terduga, Paul kemudian berulah. Sudah beberapa kali Diandra diterror oleh wanita-wanita yang mengaku kenalan Paul dan memberitahukan kenyataan yang begitu pahit, bahwa wanita tersebut siap mengirim bukti-bukti perselingkuhan Paul yang menggila. Namun Diandra tak mau terlihat lembek di hadapan wanita-wanita tersebut, diabaikannya saja segala kiriman dan dihapusnya langsung tanpa pernah melihat bukti-bukti itu kerna Diandra sadar dia takkan kuat untuk melihatnya, jiwanya terlalu rapuh untuk itu.
Namun untuk meninggalkan Paul, Diandra pun tak cukup punya alasan, bagaimanapun Paul pernah ada saat dia butuh, pernah amat dicintainya, pernah berkorban untuknya. Diandra bukan tipe perempuan yang lupa akan balas budi dan kebaikan hati, dia cenderung selalu mengingat hal baik dan melupakan saja sesuatu yang buruk. 
Hingga hal sepele semacam fesbuk mengusik amarah Paul, dan Diandra tak mampu lagi untuk sekedar merayu atau apapun, kerna dia tidak suka membohongi dirinya sendiri. Diputuskannya untuk membiarkan saja Paul pergi dari kehidupannya dan Diandra akan mulai menapaki jalan hidupnya sendiri. Diusapnya bekas ludah Paul yang mengenai rambutnya, dicukupkannya hinaan itu sampai disini.

Ular Beludak

kau lebih licik dari ular beludak !
lemparkan fitnah seolah aku haram jaddah
sudah lupakah kehormatan yang kau tanggal
dengan jiwaku sebagai tumbal 

tertawalah sayang
jadikan bodohku sebagai simbol kejantananmu
biarkan sahaja kuperam mimpi
hingga ajal menyeretku pergi

dan jiwa yang dungu ini
masih saja mencintaimu
atas segala yang kau coreng di mukaku
ampuni aku tuhan

Sorot

hatiku sorot hatimu
dalam ruang kosong yang riuh
penuh gegap tawa simpul canda
berderai derai diatas rayu puja

kau culik lagi
hati kembang yang berselimut sepi
kau sibakkan lagi
kain getas penghalang dua sisi

selusup ku jauh ke liang bunga teratai
yang kau lempar bersamaan dengan mata rantai
cinta teronggok di palung hati merupa bangkai
enggan kulongok meski selalu kubuai

Bersidekap

tangan silang sengketa 
tegakkan fikir para raja
jabang bayi tergeletak meronta hiba tuk kembali ke pelukan ibu
cuaca kalut, tak sedikitpun bergerak patut

disibaknya lembar kisah yang hentakkan jemari
tak temui diri yang menghela desah kecewa
sudah begini suram awan menenggelam badai
hendak kemana kekasihku kan sampai !

sementara pertanyaan tak beroleh jawaban
hanya ingatkan semburat luka pada sebutir kenangan

"padamu nak, kulihat jiwa yang begitu agung"

terseok meski darah mengalir dari sela takdir
selalu saja ibu terhujam
terseret arus masa lalu yang selalu memenjara jiwa
dimana engKAU !

semua kata yang tuding diri coreng arang di pelupuk mata
tak kupercaya sedikit jua
kau udara bagi paru ku yang menjura
memanah rasa yang kau bikin binasa
namun tetap melembutkan detak 
cinta di penghujung senja 
bilakah kau hadir lagi bawa bahagia
atau kembali sodorkan luka

isak hanya meributkan suasa
berpuralah bahagia
atau kau gali kuburmu dipelintir nestapa
apa aku bisa
sementara rasa bersidekap enggan bicara

About this blog