Jumat, 07 Januari 2011

INDIGO


Gelap melingkupi segala.
Maharani menekuk lututnya dibadan,bahunya terguncang menahan isakan. Untuk kesekian kalinya kekasihnya menampar wajahnya, mukanya biru lebam dan bengkak. Disudut bibirnya ada percikan darah yang mengering, dan sama sekali lupa dia untuk menyekanya. 
Yudi,pacarnya amat murka kala Rani,begitu dia biasa dipanggil menyuruhnya untuk tak pergi ke club malam tersebut. Padahal Rani hanya mendengar mata batinnya, dan dia merasa bahwa akan ada yang terjadi namun dia tak yakin itu apa. yang satu dia yakini pastilah suatu bencana. Dan Rani tak mau Yudi seseorang yang amat dikasihinya mengalami celaka.
Pernah suatu ketika  mereka sehabis bercumbu habis-habisan di kamar kos Yudi, Rani menceritakan perihal mimpinya. Tentang kegundahannya,namun Yudi malah membentaknya garang.
"Stop berbicara tentang mimpi-mimpi sialanmu itu, aku sudah muak Rani !" dengan nada tinggi Yudi memakinya.
"Maafkan aku Yudi, kukira kau mencintaiku dan mau mendengar ocehanku." sahut Rani lirih.
"Rani, aku sayang kamu tapi benci dengan kelakuanmu yang aneh. Cobalah bertindak sebagaimana cewek lainnya yang berbicara tentang pakaian,film,sinetron, atau apalah yang normal." kata Yudi melunak.
"Oke sayang, aku tak tahu jika hal itu mengganggumu." kata Rani getir.
"Siapapun tak akan betah jadi pacarmu Rani jika kau terus membicarakan hal-hal yang diluar nalar." cibir Yudi.
Kembali Rani hanya menyimpan apa yang ada di kepalanya, dan bersungguh-sungguh dalam hati untuk tak membicarakannya lagi dengan Yudi.
Maharani sedari kecil beda dengan anak kebanyakan, dia begitu mandiri, memiliki keinginan yang kuat,jarang sekali sakit, mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Secara emosi,Rani amat mudah bereaksi hingga tak jarang mengalami kecemasan,depresi atau stress.
Rani kecil sesungguhnya memiliki bakat yang luar biasa namun hilang begitu saja karna tak ada yang faham akan dirinya, dan mungkin sedikit salah pengasuhan.
Pernah suatu ketika Rani kelas dua SMP, karna tergolong anak yang pintar maka dipilih menjadi bendahara kelas,otomasis Rani memegang seluruh keuangan. Namun dirumah, Rani amat kesepian. Sesungguhnya dia pun tak keberatan main sendiri,namun perilaku kakeknya yang waktu itu masih hidup sungguh membuatnya muak. Rani tahu bahkan yakin kakeknya dari papa nyalah penyebab mamanya muntah darah sampai ber ember-ember. Namun yang Rani tak faham mengapa orang-orang yang amat dia kasihi begitu tega saling menyakiti. Lalu dengan membawa uang milik teman-teman sekelasnya Rani kabur dari rumah hanya membawa satu tas yang berisi dua stel pakaian dan buku catatan kecil. Rani memang kerap mencatat apa saja yang dia rasa spesial  dihatinya.
Rani pun mulai mengenal dunia luar, dunia yang amat ramai dan bising menurutnya. Namun dia merasa diterima, Seringkali Rani hanya duduk nongkrong saja di sebuah kantin di sebuah mall dan berkenalan dengan preman-preman disana. Menurut Rani mereka tidaklah jahat,hanya keadaan yang mengubah mereka menjadi tukang pemalak,maling,bahkan garong. Rani selalu berfikir bahwa smua orang adalah baik,meskipun Rani kerap di nasehati mamanya.
"Rani,kau sudah mulai besar hati-hati dengan pergaulan diluar sana jangan mudah percaya dengan orang yang tak kau kenal,salah bergaul nanti kau akan meyesal. Kau mau bunting duluan seperti Mesyi tetangga sebelah rumah itu ? tentu tidak kan,belajarlah yang rajin Rani dan buat papamu bangga."
Rani sesungguhnya ingin belajar dengan lebih giat,namun pikirannya susah sekali fokus jika ada sesuatu yang mengganggunya. Sewaktu gurunya di kelas menerangkan pelajaran,Rani malah bisa menebak dengan pas kelakuan gurunya yang 'gay' dan berkelebatlah gambaran-gambaran apa yang dilakukan guru tersebut. Hingga Rani merasa jijik karenanya. 
Rani sesungguhnya pecinta kedamaian, hatinya sedemikian welas asih namun dia sangat membenci segala perintah. Mengapa semua orang tak bisa berbuat adil pada manusia yang lainnya dan menyuruh sesama dengan kasih bukan dengan hardik yang membuat Rani malah semakin memberontak. Padahal dia hanya butuh di cintai. 
Di Sabtu malam yang naas itu akhirnya Rani bersikeras untuk menemani Yudi kekasihnya pergi ke club Retro di bilangan Lapangan Tembak. Perasaannya sungguh amat tidak tenang namun dia tidak bisa membiarkan segala apa terjadi jika memang benar akan terjadi tanpa dirinya disamping Yudi, segala doa dilantunkan sepanjang perjalanan. Ironis memang, Rani pun mengetahui hal itu. Namun dia yakini segala doa akan melindungi dirinya dan orang yang di cintainya.
Sampai disana suasana sudah riuh oleh suara musik yang berdentum memekakkan telinga Rani. Namun tak jua bisa menghilangkan kilasan-kilasan aneh di kepalanya dan Rani amat tersiksa oleh hal itu, tapi Rani tak mau menunjukkan emosinya pada siapapun dan memberitahukan perihal apa yang dia lihat karna dia tak mau sekali lagi dibilang 'gila' .
Disudut Bar terlihat Bartender memainkan botol atau lebih sering di sebut 'jugling', memutar-mutar dan melemparkan botol itu ke udara sambil menyemburkan api yang di hasilkan dari alkohol dalam botol minuman keras tersebut. 
"Mau minum apa,sayang ? yang agak 'strong' sedikit ya,aku mau 'have fun' malam ini." Yudi bertanya sambil mendaratkan ciuman basah yang sedikit membuat Rani jengkel.
"Apa-apaan sih kamu Yudi,kan sudah kubilang jangan pernah menciumku di depan umum !" emosi Rani tersulut dan merasa dilecehkan.
Saat itu juga waitress datang mengantarkan minuman. Dan menghidangkan tequila yang langsung di tegak Rani dengan kalut. 
Yudi pun langsung ikut menenggaknya, tak lama kemudian teman-teman mereka berdatangan. Ada seorang perempuan baru ikut dalam rombongan mereka yang di ketahui Rani adalah seorang penyanyi. Yudi terlihat sumringah menyapanya dan begitu bersalaman dengan perempuan itu Rani langsung tahu bahwa pernah ada kisah diantara Yudi dan Sisca,nama perempuan itu. Malam makin 'panas'.  Yudi dan Sisca terlihat makin lengket dan Rani hanya menatapnya sambil tersenyum. 
"Kau Yudi membangkitkan setan dalam diriku yang sudah mati-matian aku coba tidurkan !" bisiknya geram. 
Wajah Rani memancarkan sinar jahat dan bengis yang tidak biasanya.
Sambil berjalan tenang Rani teringat kala tadi pipinya di gampar hanya karena mencegah sesuatu terjadi pada diri pacarnya. Dan dia sangat tidak menyukainya. Dirasanya seolah ruangan club mengecil menjadi satu titik. Targetnya Yudi dan perempuan sialan tersebut. Diambilnya sepitcer 'long island' ditangan kiri dan tangan kanannya menggenggam pisau lipat yang selalu ada di tasnya. Beringsut pelan dia menuju ke meja dimana Yudi dan perempuan setan itu berada,dengan gerakan cepat dan akurat Rani menyiramkan air tersebut kekepala Yudi sekaligus melibas tali dress Sisca hingga kembennya melorot dan sekilas pandang Rani bisa melihat muka Sisca yang merah padam karna malu. 
"Mampus kau Sis !" batinnya Geram. Jangan sekali-kali ada yang mengganggu hak milikku atau kubuat hidupnya bagai di neraka. Rani berkata dalam hati.
Seketika itu juga Rani mencekek leher Yudi dan berkata dengan sadis." Kau akan menyesal telah membuatku malu di hadapan semua !" bisik Rani lirih namun sanggup untuk membuat muka Yudi pias tanpa darah.
Yudi sempat terperangah heran dengan kekuatan Rani yang seolah bukan dia yang melakukannya, sambil menahan sakit yang mencengkram lehernya. Yudi mengambil gelas coca cola dan memecahkannya kekepala Rani yang tidak berkedip sedikitpun hanya kilatan marah yang kuat terpancar dari mata Rani,dan Yudi sempat merasa amat takut. Sungguh tak dikenalinya lagi Rani yang pendiam dan penurut. Tak lama Rani berkelebat keluar ruangan sambil menyambar konci mobil Yudi. Dan Yudi pun langsung mengejarnya dengan marah. 
"Wooi setan ! sini lo !  dasar perempuan sial !" Yudi berteriak membuat pengunjung club tersebut dengan reflek menepi dan memberikannya jalan untuk mengejar Rani.
Yudi berhasil menangkapnya di tempat parkir dan meninju muka Rani kuat-kuat hingga pelipis Rani robek dan berdarah. Rani pun tak mau kalah dan dia menendang selangkangan Yudi dan meraup kepala Yudi untuk di jedotkan ke dinding tempat parkir itu sambil mencakarnya membabi buta. Lalu berari kencang kearah mobil yang langsung dilarikannya kencang tanpa arah tujuan,hanya satu diotaknya harus membalas dendam pada Yudi yang telah semena-mena memperlakukannya bagai sampah. Dan dia ingat mobil Yudi baru saja di cat ulang, tanpa fikir panjang di surukkannya mobil itu ke arah sebuah mobil lain yang tengah terparkir dijalan raya tanpa memperdulikan nasibnya sendiri yang mungkin saja bisa cedera. Sungguh saat itu dia tak takut mati.

Dunia sontak gelap gulita,Rani kemudian mendengar suara-suara orang berteriak panik. 
Badannya pun diseret keluar dari mobil yang mengeluarkan asap tersebut, Rani langsung tersadar dan membuka mata dengan perih yang menusuk-nusuk sekujur tubuhnya. Kepalanya terkulai di bahu salah seorang pemuda yang menolongnya. Ekor matanya  melihat ternyata ada mobil lain juga yang menabraknya dari belakang. Dan dia melihat Yudi juga tengah dikeluarkan dari mobil 'jimni jangkrik' yang entah kepunyaan siapa tersebut dengan kepala berlumuran darah. Sungguh mengenaskan.

Hatinya menjerit pilu.
"Yudi,inilah jawaban atas mimpiku namun kau tak jua mau mendengarnya dan lihat apa yang terjadi kini. Coba kau mau mendengar ucapanku dan tidak pergi ke club sialan tersebut tentu nasibmu tak begini rupa." Rani berbisik pelan dalam hatinya. Hingga ambulan membawa tubuhnya menembus kepekatan malam. Angin enggan bertiup, dedaunan menunduk layu seolah turut bersedih atas prahara yang terjadi.


                                                                                   **********


: indigo adalah warna dalam spectrum elektromagnetik,menempatkan diri diantara biru dan ungu.nila.
  indigo adalah traiblazers, orang-orang yang mengejutkan manusia kedalam kesadaran dan menghasut perubahan. Dan berada di bumi untuk mengajarkan cara kasih dan damai. Istilah ini menunjukkan suatu makhluk yang sadar koneksinya dengan sumber Ilahi dan memilih untuk hidup dalam harmoni dengan mengetahui kebenaran.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog