Senin, 10 Januari 2011

Kau hidupku,Jenny


Siang berpayung mendung.
Aku menangis disudut kamar. Merutuki kebodohanku yang lemah dan selalu saja mengalah pada keadaan. "Jenny,dimana kamu..aku rindu ,kau pasti dengan mudah bisa membesarkan hatiku kala ku sedih. Namaku Jenna,dan kembaranku Jenny. Aku lahir lebih dulu dari Jenny,selisih 7 bulan. Menurut orang-orang yang lahir lebih dulu adalah adik,sementara yang lahir belakangan adalah kakak. Aku dan Jenna sangat bertolak belakang. Sifatku selalu saja mengalah,pendiam,cenderung tertutup dan nilaiku di Sekolah biasa-biasa saja. Sementara Jenny keras kepala,pembangkang,mudah bergaul dengan siapa saja dan tergolong anak yang cerdas. Kami saling menyayangi,jarang sekali berselisih faham. Kalaupun ribut,itu hanyalah sebatas kekesalan Jenny yang melihatku diam saja kala ada orang yang menjahiliku. 
"Kamu gak boleh diam saja kalo dijahatin orang,Jenna..kamu akan diinjak-injak mereka kalau hanya selalu diam dan membisu,bahkan melototpun kau tak berani. Aku tak selalu ada disampingmu untuk membelamu !" Jenny kembali memarahi aku untuk yang kesekian kali.
"Dia gak jahat,kok Jenny..hanya jahil sedikit,aku yakin hatinya baik kau kan tahu dia kerap membantu anak-anak jalanan itu dengan mengajarkan mereka baca tulis, aku yakin hatinya sungguh mulia." Aku berdalih membela Ariel,pacarku kala itu.

Jenny hanya mendengus kesal mendengar pembelaanku. Hanya kepada Jenny aku berani sedikit marah,itupun karena aku yakin dia takkan balik melotot padaku. Tapi kepada siapapun diluar Jenny,aku selalu saja melempem. Mama yang bertabiat galak menyayangiku karna aku sangat penurut,sementara Papa yang penyabar cenderung memanjakan Jenny.

Selepas SMU,kami berdua melanjutkan kuliah. Jenny sebenarnya enggan kuliah di Universitas yang sama denganku. Dia sangat tertarik pada psikology,sastra dan filsafat. Sementara aku masih bimbang tentang apa yang paling kuinginkan dalam hidup. Namun akhirnya kami berdua tak bisa mengelak manakala kedua orang tua kami mendaftarkan pada Universitas yang sama,supaya kami bisa saling menjaga. Begiitu kata Papaku.
Jenny selalu terlihat berbeda denganku,dia bersikeras tak mau ada yang tahu kalau kami kembaran. Jika aku menguncir rambutku,Jenny langsung menggerai rambutnya dan menutupi mukanya dengan make up tebal,dengan nuansa gothic. Hingga terlihat amat beda denganku yang terkesan sangat 'perempuan' dengan make up tipis dan lipstik berwarna pink. Kami selalu bertukar peran,hingga teman-teman di luar lingkungan kampus sering terkecoh. Baru saja perkuliahan berlangsung satu semester,Jenny terlibat adu mulut yang cukup serius dengan mama, Jenny merasa terkekang jika jam malam untuknya di berlakukan. Sementara kegiatannya diluar amat padat,mulai dari sanggar seni dan bergabung dengan aktifis kampus semuanya ia lakoni tanpa kenal lelah. Jenny memang senang bergaul selalu berfikiran maju,tak seperti aku yang hanya suka berdiam diri dirumah menghabiskan waktu dengan sederet novel Shidney Sheldon atau Sophie Kinsella.

Di malam ketika Jenny memutuskan untuk hengkang dari rumah,Aku hanya bisa terisak pelan. Percuma saja membujuk Jenny tetap tinggal dirumah,betapapun aku yakin dia menginginkannya. Aku membantunya mengepak sebagian bajunya dalam koper,dan ijazah untuk nanti Jenny mencari pekerjaan. Dia sudah tak mau lagi melanjutkan kuliah,dan memutuskan untuk mencari pekerjaan apapun yang dia bisa lakukan untuk bertahan hidup jauh dari kekangan orang tua. Seraya berjanji untuk terus berkirim kabar.
"Sekarang atau nanti kita tetap akan berpisah,Jenna..tak usah bersedih,aku kan selalu ada untukmu dan menyayangimu meskipun hanya dari jauh. Jangan lagi jadi Jenna yang cengeng,berjanjilah kau akan membuat mama dan papa bangga." Jenny memelukku erat dan kami saling berurai air mata,menangisi perpisahan yang terasa sangat berat buat kami berdua.

Jenny kabur dari rumah dan aku memaksanya untuk membawa seluruh uang tabunganku untuk bekalnya hidup sementara belum mendapatkan pekerjaan,awalnya Jenny menolak tegas,dia tak mau merepotkan aku tapi kali itu aku mengancamnya tak akan membiarkannya pergi dan akan mengadukannya pada orang tua kami kalau dia sampai tak menerimanya. Aku tahu persis dia hanya punya sedikit tabungan,dia selalu royal pada teman-temannya dan sering pergi ketempat-tempat baru yang bahkan namanya saja aku baru mengetahuinya dari majalah.

Sepeninggal Jenny nilaiku merosot tajam,aku kehilangan pegangan. Bagaimanapun jennny yang selalu mengerjakan semua tugas-tugasku di kampus. Aku semakin menarik diri dari pergaulan,sampai akhirnya bertemu dengan Dhani. Berpacaran selama 3 bulan dan memutuskan untuk menikah. Seminggu sebelum pernikahan berlangsung, aku bertemu dengan Jenny. Dia bekerja disalah satu 'One Stop Entertainment' di Jakarta. Sewaktu aku perlihatkan foto Dhani pacarku,matanya langsung membelalak terkejut.
"Jenna,kau mau menikah dengan orang macam begini ? Hampir tiap malam kulihat dia mabuk-mabukan bersama teman-temannya di Bar Zeus,dan namanya sudah tak asing lagi sebagai playboy cap kadal ! Tolong kau pertimbangkan lagi keinginanmu menikah dengannya,Jenna ..kau toh baru 20 tahun,ngebet amat sih mau kawin segala ! " Jenny mendelik sambil merengut menatapku tajam.
"Aku tahu,Jenny..Dhani pun bercerita kalau dia dulu cowo yang badung,namun dia berjanji untuk berubah,Jenny..karena dia sangat mencintai aku. " Aku berkata tak kalah sengit.
"Duh,Jenna..Jenna..kau masih saja tolol kalau menyangkut urusan cowok,tak semudah itu manusia bisa berubah dari perilakunya yang sudah mendarah daging,Jenna..Aku hanya tak ingin kau disakiti olehnya. Aku pernah mendengar dia mencampakkan begitu saja cewek yang pernah jadi pacarnya karena hamil diluar nikah,dan menurut cerita yang beredar,cewek itu sekarang frustasi berat dan nekat menggugurkan kandungannya yang sudah berusia 5 bulan. Dan kini cewek itu dikeluarkan dari kampusnya dan terlibat narkoba karna patah hati sama si Dhani calon suamimu itu,kamu ingin bernasib sama,Jenna ?"
"Tapi itu kan masa lalunya,Jenny..belum tentu Dhani yang meninggalkannya,kan bisa saja cewek itu yang kegatelan karna bingung anak siapa yang ada di rahimnya,makanya Dhani mencampakkannya." 
"Terserah kau sajalah,Jenna..itu hidupmu,yang jelas kalau sampai Dhani berani macam-macam akan kuhabisi dia dengan kedua tanganku meskipun untuk itu aku harus masuk penjara,aku sangat menyayangimu Jenna lebih dari aku menyayangi diriku sendiri."
"Makasih,Jenny..aku yakin Dhani akan jadi suami yang terbaik buatku kelak." Kami saling berangkulan dan kulihat Jenny tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Berjanjilah kau tak akan melupakan aku,Jenna." bisik Jenny lirih.



"Makanlah sedikit,Jenna...supaya kau bisa cepat sembuh," Mama membujukku untuk makan siang. Seminggu telah berlalu sejak pemakaman Jenny, ternyata dia benar Dhani adalah bajingan yang tak layak untuk aku nikahi, baru dua hari kami menikah dan Jenny memergokinya masuk kamar hotel dengan seorang perempuan indo cantik. Lalu Jenny mengikutinya dan menunggu mereka keluar dari kamar hotel hingga mereka keluar dan Jenny yang kalap memakinya sambil menyambit Dhani dengan vas bunga,namun malang baginya Dhani serta merta menampar dan menendangnya keras hingga Jenny terpelanting dan tubuhnya terjatuh terguling di tangga hingga nyawanya tak dapat tertolong lagi. Berkali-kali aku pingsan di pemakaman Jenny ,sehari kemudian mama terpaksa memeriksakan aku ke Dokter karena tubuhku yang terkena demam tinggi dan selalu saja mengigau memanggil-manggil Jenny. 
Dalam tidurku kerap kali kulihat Jenny tersenyum padaku sambil berkata," Kau kuat Jenna,aku akan selalu ada disampingmu dan menjagamu,jangan khawatirkan apapun." Dan aku berteriak mencoba menggapainya,"Kau hidupku,Jenny..jangan tinggalkan aku lagi." Dan aku terbangun dengan bersimbah keringat diiringi tatapan keprihatinan dari orang tuaku.
"Selamat jalan,Jenny ..kau selalu ada di hatiku meski raga kita terpisah kau menyatu dalam darahku." Sejak hari itu aku berubah,tak lagi jadi Jenna yang lembek. Aku bertekad untuk membuat Jenny bangga dengan kemandirianku.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog