"Kalau kau terus fb-an, aku takkan datang ke rumahmu lagi !"
Paul memaki dengan nada tinggi dan suara yang menggetarkan bumi.
Diandra hanya diam menahan amarah yang mulai menyelubunginya seketika.
Ditutupnya notebook dan berkata dengan santai.
"Silahkan, pintuku selalu tak pernah terunci untuk kau masuki maupun enyah dari kehidupanku, bebas-bebas aja." Diandra memandangi wajah itu lekat, wajah yang dulu amat dicintainya yang sudah sekian bulan Diandra tak lagi punya rasa yg dulu pernah ada kerna sebaris pengkhianatan Paul.
Paul makin geram, wajahnya mengeras menyiratkan kekesalan yang berlebihan.
"Coba kau pikir, Diandra...mana ada orang fb-an sampe subuh, kecuali orang sinting dan ga punya kerjaan !"
"Lalu apa perdulimu Paul, apakah aku mengganggu kenyamanan hidupmu atau kau sekedar tak suka melihat aku tertawa."
Diandra masih tetap menjaga datar suaranya.
"Dasar perempuan setan, kau !"
"BESOK AKU AKAN PISAH DARIMU, DASAR PEREMPUAN TAK TAHU DIUNTUNG ...CUIHHH...! "
Paul berteriak kesetanan sambil meludahi Diandra.
"Kau ingat, Paul...kau yang memintaku untuk berhenti bekerja dan menunggui sangkar pernikahan kita, kuturuti ! pun ketika pengkhianatanmu yang bertubi-tubi dan hampir saja merenggut nyawaku, kulupakan sudah dan kini kau melarangku untuk sekedar fb-an, memenjara pula fikiranku ? maaf, aku tak lagi ingin menurutimu...dan jangan pernah kau ancam aku, kerna aku tak pernah takut pada ancaman dan tak pernah takut akan kelaparan jika kau tinggalkan..coba katakan apa saja yang sudah kau beri padaku..rumah, mobil, atau deposito yang atas namaku ? zero Paul, semua kupercayakan padamu kerna aku dulu amat mencintaimu dan tak pernah inginku mengambil sedikitpun apa-apa kecuali sebentuk kasih sayang darimu, yang kemudian kau khianati...sejak itu aku belajar untuk tak lagi berpusat pada dirimu, ku nikmati hari-hariku tanpa pernah harapkan apa-apa lagi darimu..jika kini kau memilih pergi, pergilah sejauh mungkin dariku kerna memang itu yang hati kecilku harapkan sejak lama, sulit untuk mempercayai apalagi mencintaimu seperti dulu. Pengkianatanmu padaku, telah meruntuhkan apa yang kupercayai dari cinta yang kukira suci."
Diandra berkata tanpa sedikitpun air mata, padahal biasanya dia amat cengeng.
Diandra sudah benar-benar lelah menghadapi larangan demi larangan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang,..resiko apapun akan dihadapinya demi menjaga keutuhan jiwanya, daya hidupnya..Diandra sudah cukup berkorban demi sebuah mahligai pernikahan, belum lagi kekerasan fisik dan mental yang dialaminya telah mengubahnya lebih kuat dari sebelumnya. Tak ada sedikitpun kesedihan dalam diri Diandra, hanya tekad kuat bahwa dia bisa sanggup lakukan apapun.
Paul bergegas menuju lemari pakaian, sibuk mencari-cari sesuatu, sementara Diandra duduk di kursi malas sambil menghembuskan asap rokoknya dengan geram. Di helanya nafas panjang-panjang, diingatnya kembali tiga tahun yang lalu kala Paul sempat menganggur dan kehidupan mereka amatlah sengsara, sampai buat makan saja mereka harus berbagi satu bungkus indomi dan Paul kadang membelikan Diandra nasi padang kesukaannya dan berbohong jika Paul sudah makan, manakala Diandra membuang sisa nasi padang tersebut ke tong sampah sempat Diandra memergokinya memungut bungkusan nasi itu dan memakannya diam-diam di dapur. Diandra amat murka, " Tadi kau bilang kau sudah makan Paul, kenapa kau berbohong padaku ? kita kan bisa memakan sebungkus nasi itu sama-sama !"
Paul hanya menjawab pelan, " Aku khawatir kamu kurang makan sebungkus nasi itu Diandra, biarlah aku memakan sisanya."
Diandra merasa amat trenyuh, sebegitu cintanya Paul pada dirinya dulu hingga rela memakan nasi bungkus yang sudah dibuangnya ke tong sampah.
Berdua mereka menghadapi sama-sama pahit getirnya perjuangan hidup, kadang ketika amat kelaparan Diandra menguatkan hatinya untuk meminjam hutangan dari para orang-orang terdekatnya meski harus menghadapi rasa malu yang hampir tak kuat lagi untuk ditanggungnya. Semua dijalaninya dengan ikhlas dan doa yang sungguh-sungguh agar Paul bisa kembali bekerja kerna Diantra tetap tak diijinkan untuk mencari pekerjaan. Hal itulah yang membuat Diandra selalu memaafkan Paul, ketulusan cintanya dulu selalu diingatnya.
Kini kehidupan mereka sudah tak sesuram dulu, Paul mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidangnya dan perlahan-lahan sudah bisa sedikit membahagiakan orang tua. Namun godaan memang selalu datang tak terduga, Paul kemudian berulah. Sudah beberapa kali Diandra diterror oleh wanita-wanita yang mengaku kenalan Paul dan memberitahukan kenyataan yang begitu pahit, bahwa wanita tersebut siap mengirim bukti-bukti perselingkuhan Paul yang menggila. Namun Diandra tak mau terlihat lembek di hadapan wanita-wanita tersebut, diabaikannya saja segala kiriman dan dihapusnya langsung tanpa pernah melihat bukti-bukti itu kerna Diandra sadar dia takkan kuat untuk melihatnya, jiwanya terlalu rapuh untuk itu.
Namun untuk meninggalkan Paul, Diandra pun tak cukup punya alasan, bagaimanapun Paul pernah ada saat dia butuh, pernah amat dicintainya, pernah berkorban untuknya. Diandra bukan tipe perempuan yang lupa akan balas budi dan kebaikan hati, dia cenderung selalu mengingat hal baik dan melupakan saja sesuatu yang buruk.
Hingga hal sepele semacam fesbuk mengusik amarah Paul, dan Diandra tak mampu lagi untuk sekedar merayu atau apapun, kerna dia tidak suka membohongi dirinya sendiri. Diputuskannya untuk membiarkan saja Paul pergi dari kehidupannya dan Diandra akan mulai menapaki jalan hidupnya sendiri. Diusapnya bekas ludah Paul yang mengenai rambutnya, dicukupkannya hinaan itu sampai disini.

0 komentar:
Posting Komentar