Loretta terbangun dengan wajah pias. Pandangannya menyapu seluruh dinding kamar dan plafon. Tak ditemui sosok sahabatnya yang selalu menemani harinya.
"Nong, muncullah...aku sangat merindukanmu !"
Loretta berteriak dalam hati diiringi lelehan air matanya.
Sejak mamanya mengecet ulang dinding kamar dan plafonnya, sahabat yang selalu dipanggilnya Nong, raib menghilang. Padahal mereka sudah berteman sejak lama sekali, sejak Loretta masih mengenakan seragam TK.
Loretta memang tak mempunyai banyak teman, di lingkungan sekitar dia selalu dijuluki "anak bawang" karena cenderung penakut dan pembawaannya yang pendiam. Tapi Loretta tak pernah mempersalahkannya, selama Nong sahabat sejatinya selalu ada untuk menemani hari-harinya dan meredakan sedihnya. Loretta memang suka sekali berdiam dalam kamarnya, karena dia selalu bisa menjumpai Nong disana. Nong selalu muncul pada retakan dinding kamarnya atau pada sisa rembesan bocor di plafonnya. Nong pun bisa muncul dalam berbagai bentuknya yang lucu, hingga sering sekali Loretta tertawa-tawa senang jika Nong muncul dalam bentuknya yang baru. Terkadang Nong menyerupai peri lengkap dengan kedua sayap dan tongkat kecilnya, lain waktu berubah jadi sosok kakek tua dengan janggut yang menjuntai lengkap dengan kerut-kerut di wajahnya. Pernah pula Nong menyerupai boneka teddy bear kesayangannya, dan seribu bentuk lainnya. Namun Loretta selalu senang dan gembira karena Nong selalu menghiburnya dan menemaninya bermain sambil bercakap-cakap seru.
Tapi mama nya tak mengerti itu, mamanya hanya mendelik galak setiap kali Loretta menceritakan tentang sahabat baiknya dan menyuruhnya tutup mulut hingga Loretta tak berani untuk bercerita apa-apa lagi pada mamanya.
Hari demi hari dilalui Loretta dengan kesedihan yang mendalam, prestasi sekolahnya menurun drastis sejak Nong hilang. Loretta makin menarik diri di lingkungan, dia merasa makin kesepian dan tak ada lagi tempat untuk mengungkapkan sejuta gundah yang menghinggapinya. Sampai suatu ketika papa nya memberikan komik Nina, dan sewaktu membacanya di temuinya Nong disana jadi seorang tokoh dalam komik tersebut dengan rambut tergerai hitam panjang dan satu jumput rambut berwarna putih di sisi kirinya. Tapi dalam komik tersebut Nong sebagai nenek sihir yang baik hati dan dijauhi lingkungan karena dianggap penyebab timbulnya segala macam malapetaka hingga Nong pun di kejar dan diburu oleh penduduk desanya.
Nong pun sembunyi dalam kamar Loretta, karena dia nenek sihir dia bisa memasuki ruang paralel yang tidak dimengerti oleh orang kebanyakan.
Loretta pun riang bukan kepalang, dia berjanji akan selalu menjaga Nong dari siapapun yang jahat bahkan dengan nyawanya sendiri dia akan pertaruhkan. Namun nong dengan lembut membelai rambutnya.
"Loretta, kau makin menanjak dewasa dan tak perlu kehadiranku lagi di sisimu karena masih banyak anak-anak kecil lain yang butuhkanku, lihatlah dunia luar begitu berpelangi dan berwarna. Kelak kau akan jatuh cinta pada seorang pria dan mungkin akan patah hati tapi jangan bersedih karena semua itu hanya lika liku hidup yang mesti kau jalani. Berbuat baiklah pada semua orang yang kau temui, betapapun mungkin mereka telah menyakiti hatimu."
"Tidak Nong, dunia luar amat kejam padaku, mereka selalu mengolok-olok dan menghinaku tidak seperti kau yang selalu baik padaku!" kedua bola mata Loretta mulai berkaca-kaca. Tak diinginkannya Nong kembali pergi dari hidupnya.
"Loretta sayang, ingat satu hal bahwa aku akan selalu menemanimu disini dalam hati dan pikiranmu setiap kali kau berbuat baik pada dirimu, dan sesamamu. Tapi aku akan langsung menghilang kalau kau berbuat jahat..ingat itu." Nong berkata sambil memeluknya hangat hingga Loretta tertidur dalam dekapannya.
Sekian tahun berlalu dan Loretta beranjak dewasa, seorang om nya tinggal bersamanya. Om Adi, begitu dia memanggilnya, adik dari papanya. Sering sekali mereka ditinggal berdua dalam rumah karena mama dan papanya sibuk bekerja, dan Loretta lebih sering menghabiskan waktu dengan Om Adi. Sampai pada suatu ketika sewaktu Loretta bercanda sambil main kelitikan dengan Om Adi, tiba-tiba Om Adi menindih tubuhnya dan menciuminya dengan nafas yang memburu. Loretta hendak protes tetapi bibir Om adi yang basah melumat habis bibirnya. Kedua tangan dan kaki Loretta memberontak namun tenaga Om adi lebih kuat, sampai Loretta menyadari ada benda keras yang menikam selangkangannya hingga bibirnya menjerit tertahan. Terus dan terus om Adi menghujamkan benda keras itu tanpa memperdulikan tangisannya bahkan terlihat menyeringai penuh hasrat. Beberapa menit berlalu dan om Adi terkulai lemas diatas tubuhnya.
"Jangan kau ceritakan hal ini pada siapapun, Loretta..atau aku akan membunuh mamamu yang pelit itu." desis om Adi pelan sambil mengancingkan bajunya dan melotot ke arah Loretta.
Loretta merasa terhina, tak disangka nya om Adi yang awal mulanya begitu baik dan sering sekali memberikan hadiah-hadiah kecil padanya bisa begitu amat jahat dan menyakiti fisik dan jiwanya.
Loretta marah dan menaruh dendam pada om Adi, tapi dia kembali terngiang ucapan Nong di telinganya.
Suatu ketika om Adi memasuki kamarnya kembali sambil menenteng senapan angin dan memamerkan burung mati hasil buruannya.
"Lihat burung ini, Loretta..mamamu akan bernasip sama jika kau berani lancang mengadukan perbuatanku kemarin !"
"Duduk sini cantik, oh Loretta tubuhmu makin indah saja !" sambil berkata begitu om Adi meraih pinggangnya dan menyurukkan kepalanya ke arah dadanya. Spontan Loretta menendang om Adi dan berlari keluar kamar. Tapi om Adi tak kalah cepat, ditarikya kaki Loretta hingga tubuhny jatuh berdebum ke lantai.
"Om, aku mau keluar..mengapa kau selalu menggangguku !" Loretta merasa bahwa om Adi akan mengulangi perbuatannya kemarin. Dan terjadilah peristiwa serupa, kebenciannya pada om Adi makin besar. Loretta harus menghentikan perbuatan om Adi.
Waktu terasa lama sekali berjalan, Loretta penasaran apakah racun tikus yang dibubuhkannya pada juice sirsak yang di minum om Adi akan bisa mengakhiri nyawanya. Sehari berlalu dan tak terjadi apa-apa,tiba-tiba Loretta menangis tersedu.
"Nong, apakah aku jahat karena membalas perbuatan om Adi padaku ?" Loretta menyesal dalam hati dan berharap racun tikus itu tak membuat om Adi meninggal, namun dia pun tak ingin om Adi terus menerus melakukan perbuatan laknatnya. Loretta berharap saat itu Nong muncul di depannya dan memberitahu apa yang harus dilakukannya.
"Datanglah Nong, aku tak bisa atasi ini sendiri !"

0 komentar:
Posting Komentar