Rabu, 04 Mei 2011

April Biru

Siang terik jelang senja, batinku tertikam sembilu luka. 
Sahabat jiwaku,  yang di pundaknya terletak segala legamnya kesedihan. Adakah pernah ditularkannya percikan pedih itu pada sahabatnya, Tidak ! dia selalu mendongkel semangat, betapapun jiwa mungkin tersayat oleh cinta yang tak pernah hampiri tuk sekadar susut peluhnya.

Dengan santainya, seorang durjana dengan tutur seolah dewa kabarkan petualangan bakaran syahwat sahabat jiwaku. Dan aku tersentak, mengapa bisa seorang manusia hakimi tindak lelakon tanpa mengenal siapa sahabatku sesungguhnya, lepas dari salah atau benar yang dilakukannya pada ujung selangkangannya sendiri.

Sebengal dan senista apapun, sahabatku tetaplah sahabat. Kan kuperjuangkan kehormatannya semampu nyawaku menyangganya. Karena ia telah ajarkan bagaimana perih bersanding dengan ketabahan, bagaimana luasnya hati bisa mengalahkan rimbunan dengki. 

Duhai sang pencela, kusodorkan leherku tuk kau tebas dan gelindingkan sesukamu tuk gantikan martabat sahabatku yang kau injak tanpa berkaca siapa sejatinya dirimu sendiri di balik mulut harimaumu.

Sahabatku terkasih, usahlah segala sedih kau simpan dalam rongga dadamu sendiri, yang kini kutahu semakin tanak oleh pendar segala uji yang hunuskanmu dari empat penjuru bumi, ada aku disini bawakanmu segenggam penerimaan yang usah kau ragu taklah ia kan tercerabut oleh apa yang terjadi saat ini dan di ujung detak nadi. Tetaplah kau sahabat sejatiku, kini dan sampai dunia berakhir nanti. 

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog