Dengan langkah gontai dan pesimis yang mengental, Violet mulai mengumpulkan ingatan tentang seorang sosok yang berarti besar pada perkembangan jiwa, dan hasratnya untuk menulis. Entah apa kado yang pantas di berikan untuk seorang yang dianggap Violet pahlawan, guru, sahabat, dan kakak laki-laki yang selama ini selalu memompa semangatnya untuk meluapkan emosi Violet yang kadang tak terkontrol. Bli Wayan, begitu Violet memanggilnya telah mendorongnya sampai batas maksimal untuk menorehkan berjuta-juta aksara lewat puisi, cerpen maupun cerbung.
Meski pada awalnya Violet sempat kepincut dengan pesona si Bulukan ( ..ups...panggilan sayang Vio, Tari dan Dee) tapi semua kisah berakhir tanpa siapapun merasa tersakiti ataupun ditampik, dengan bijaknya Bli Wayan mengayomi Vio lewat janjinya bahwa dia akan menjadi sahabat sejati Vio, yang saat-saat itu merupakan masa yang dianggap Vio adalah yang paling berkesan.
Pernah suatu ketika Vio membuat puisi yang ada kata petir nya, serta merta Bli Wayan mengolok-oloknya dengan memanggilnya Dewi Petir, meski awalnya agak sebal dengan kekejamannya, namun lama kelamaan Vio entah mengapa mulai menyukai nama itu.
BLETOKKKK...!!!
Sebuah bakiak mendarat mulus di kening Vio.
"Colmeett...Lo ngelamun aja sih, buruan bikin kado buat Bli...muke gile lo, liat noh fans nya die udah bererot ngasih ucapan selamat, masa kita sebagai penghuni lawas pondok merana santai-santai aje sih !" Dee menggerutu sambil manyun lebay.
"Somprettttt ....dasar kudanil centil, kodok bangkong, upil kera !!!
"Lo kagak tau apa gue lagi setengah mampus nih mikirin kado yang tepat buat Bli, malahan di timpuk bakiak. Sesekali timpuk pake dollar kek biar gue nyengir...rrggghhhh!" dengan muka merah padam menahan geram Violet berlari ke dapur dan sibuk mencongkel hidung dalam-dalam seraya bertekad kali ini tidak boleh gagal untuk memasukkan gumpalan upil yang menjijikkan yang baru saja diperoleh dari hidungnya kedalam gelas kopi Dee.( sukuriiin......wkwkwkkwk )
"Ada apa sih ribut-ribut, gimana udah selesai belum rembukan bikin kado buat Bli !" dengan langkah ringan Tari duduk manis sambil memamerkan rangkaian puisi dan cerita mini pribadinya kepada Dee dan Vio.
"HAAHH !!! udah selesai bikinnya nih, trus kita berdua gimana dong, Tari ?"
Dengan muka pucat Dee dan Vio saling berpandang-pandangan dongo.
Seketika itu juga Dee dan Vio langsung lari tergopoh-gopoh untuk menyelesaikan kado terbaik yang bisa dipersembahkan kepada Bli mereka, meskipun mereka tau persis bahwa Bli amat mengharapkan kado yang berupa uang tunai, konon untuk menambah modal produksi untuk buku novel teranyar dan perdana dari anak didik beliau yang paling disayang, yaitu D'Lebay. *siap2 dijutekin fans Bli yang lain*
Apalagi yang paling pantas untuk sebuah kado ulangtahun, selain doa yang tulus dari sahabat terbaik di seluruh semesta, tentu butiran doa yang tak putus-putus, bukan. Seperti itu pula, Dewi petir ngeles dalam hatinya ketika otaknya menyuruh untuk pergi ke mall dan membeli kado untuk Bli. GUBRAAAAakkkksss...
Selamat Ulang Tahun Bli Wayan sahabat sejatiku, semoga kesuksesan, kesehatan dan kebahagiaan selalu menaungi langkahmu :)
Mundur kebelakang
Berhelai halaman tak terbilang kenang
Kutemui kau bermendung awan gelap
Duka berkelambu tawa
Berpegang erat jantung burai darah luka
Kau genggam hati cerabut mimpi
Sodorkan pena tuk aku papar segala
Jadikan abjad pengobat nestapa
Tunjuk jalan lurus;daki angan ke puncak asa
Meski getir pahit nyinyir renda setiap langkah
Padiku selalu merunduk tak pernah ia berpongah

0 komentar:
Posting Komentar