Senin, 04 April 2011

Bocah Kecil

Bocah kecil itu masih asyik melihat ke ujung jalan, diingatnya ucapan ibunya malam tadi, "Ayahmu kan datang nak, tunggulah sebentar dan bersabarlah !"

Mata nya  berbinar penuh harap dan sejuta mimpi gelayuti akar pikirannya. dibenaknya terhampar berlembar-lembar tanya, " seperti apa rupa ayahku, apakah mirip denganku atau aku lebih menyerupai ibuku.."

tatapannya menerawang jauh ke sudut cakrawala, dalam otaknya tergambar sosok ayahnya yang pastilah sangat luar biasa kerna ibunya amat mencintainya, tak ada hari yang dilewatinya sejak kecil tanpa kisah-kisah tentang kepahlawanan ayahnya dan welas asihnya terhadap mereka yang kurang beruntung,  dan air mata yang menetes dari dua bola mata dan bibir ibunya yang bergetar menahan rindu akan hadirnya sang ayah.

pernah bocah itu menanyakan kepada ibunya, " jika ibu mencintai ayah dan ayahpun sayang pada ibu, mengapa ibu selalu menangis, bukankah cinta seharusnya membuat bahagia ?"
ibunya menjawab dengan senyum yang di kulum dan mata yang berkaca kaca, " anakku sayang, tangisan ibu tak melulu tentang kesedihan ataupun kedukaan, ia lahir dari rasa syukur yang berlebih kerna ibu bisa tetap merasakan cinta dari ayahmu meski sosoknya tak lagi ada di samping kita, nak.."

si bocah dengan kepolosannya menukas, " apakah ibu tengah berbohong padaku ? karena aku tak pernah menangis jika aku bahagia, aku tertawa-tawa dan tersenyum pada semua temanku dan aku pasti menangis jika lututku terluka ataupun  ada teman teman yang mengejek atau menggangguku. aku tak percaya, bu !"
bocah itu merajuk sambil mencebikkan bibirnya yang semerah delima.

"ayo ikut ibu nak, akan ibu tunjukkan sesuatu."
di gandengnya jemari kecil bocah itu, dibawanya menyusuri pantai dan dipungutnya sebuah kerang.
mereka berdua duduk di bawah pohon kelapa di pesisir pantai itu, rambut ibunya meriap-riap terbawa angin dan mengenai mata bocah itu.
"ibu, mataku kelilipan, perih sekali !"
bocah itu meringis dan matanya berkerjap kesakitan.
"maafkan ibu, nak."  diikat dan disanggul rambutnya, di kecup kening bocah itu sambil di elusnya kedua pipinya yang ranum.
"kau lihat kerang ini, dia pun kerap menjerit kesakitan kala sebutir pasir mengoyak dagingnya yang lembut. namun kerang selalu bersabar hingga air mata yang membalut pasir itu merubahnya jadi sebutir mutiara yang mahal harganya, begitupun dirimu anakku. kesabaran tidaklah berbatas, bertahanlah semampu tubuhmu bisa menahannya dan biarkan Tuhan yang memberikan upah atas semua kesabaranmu dan jangan mengeluh atas semua sakit yang kau derita kerna sesudahnya kau akan menerima kebahagiaan yang tak terhingga bahkan tak pernah di bayangkan oleh manusia lainnya."

"tapi anak-anak lain sering mengejekku, ibu...mereka bilang aku tak punya ayah, dan aku tak layak bermain dengan mereka." bocah itu terisak sambil memeluk tubuh ibunya.

"anakku sayang, kerang mutiara pun sering diejek oleh kawan-kawannya kerna mau saja bersabar oleh tikaman pasir yang mencolok matanya, tapi lihatlah yang terjadi..kerang-kerang yang tak sabaran itu hanya jadi santapan manusia di kedai-kedai seafood pinggir jalan. dan mutiara yang bertahan oleh kesabarannya akhirnya berbuah sebutir mutiara yang berkilau dan mampu membuat senang siapapun yang memandangnya, hidupmu adalah pilihanmu anakku."

terbitlah senyum bocah itu seterang sinar matahari pagi, difahaminya kini mengapa ibunya selalu menangis. ditatapnya lautan yang seolah tak bertepi dan diyakininya kini ayahnya kan datang bersama gulungan ombak samudra, berdua mereka berangkulan menatap ujung semesta raya, sebutir doa dan sebaris pengharapan menggelinding dari bibir ibunya. bocah itu bernama 'puisi' yang tak sempat mengenal ayah kandungnya.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog