betapa noda tetaplah hitam
takkan terhapus meski larut dengan garam
takkan menepi meski renda dengan tawa
tak pantas diri menerima bahagia
kulihat ke sebalik cermin
diriku lebih cemar dari air comberan
busuk lelakon lebih bacin dari sampah jalanan
tak sanggup aku menatap kedepan
ajari aku berani tatap matahari
tuk meraup malam sepeninggal dia pergi
sudahi saja mimpi buruk sampai disini
bilakah itu mungkin
atau hanya asa tertiup angin
atau inilah hukuman
bagi jemariku yang jalang
rangkul bulan seolah keindahan
tak sadar itu hanya merupa bayangan

0 komentar:
Posting Komentar