Rabu, 04 Mei 2011

Bakiak Versus High Heels

Maatahari menggantang semesta. 
Bakiak butut terseok-seok menyusuri gang-gang buntu, sekedar mencari es kelapa untuk menuntaskan dahaganya.
"Dasar sompreett, mentang-mentang gue butut dan produk jadul..kagak ada lagi yang mau make gue kecuali Dee sontoloyo itu, gue sampe heran knapa juga sih tuh anak setia banget sama gue..padahal udah berkali-kali gue sengaja bikin jatoh dia di jalanan berlumpur, masih aja gue dipelihara, sial emang !" dengan wujud penyak penyok bakiak butut itu mengeluh pada rerumputan yang eneg liat tingkahnya.

Dari arah jalan raya yang penuh jeglongan, terlihat High heels mengkilap sibuk ngebacot sambil ngomel gak jelas, memaki pemerintah yang gak becus benerin jalan raya.

"Setan alas, wewe gombel...percuma aja gue bayar pajak, kalo jalanan kagak keurus kayak gini...sialan !"

Bakiak butut memperhatikan tingkah High heels itu sambil terkikik-kikik kegirangan, dia selalu saja kesetanan hepi kalo temennya yang sok "up to date" itu kena musibah.

"Knapa lo High heels sarap...ngomel-ngomel aje kayak petasan orang kawinan...bhuahahahaha !" 
"Eh Bakiak somplak, lo kagak makan bangku sekolahan yee, orang susah bukannya dibantu malah di ketawain...dasar kodok budug !" High heels makin dongkol melihat Bakiak itu mentertawakan dirinya.

"Makanya...udah gue bilang ngapain lo operasi plastik jadi High heels segala, mending wujud lo yang dulu itu..sendal jepit emak-emak..lebih keren dan asik di mata gue, murah pula..bisa dibeli dan di senengin siapa aja !" Bakiak tiba-tiba curhat colongan, mumpung lagi ada kesempatan mematahkan argumen si bakiak yang membanggakan dirinya sebagai produk paling okay sejagad.

High heel langsung melengos pura-pura budeg.
"Bakiak colmet gue tersayang, sini gue kasih tahu ya...jaman sekarang emang gak kayak dulu lagi, kalo dulu sah-sah aja lo kemana-mana bawa wujudlo yang tersohor itu, Bakiak jaman emak gue muda emang lagi naik daun, tapi coba deh lo ke mall-mall atau ke gedung-bertingkat di daerah Sudirman, apa lo kagak jengah dianggap makhluk langka !" dengan sotoynya High heel menukas.

"Halah, kagak pake ! sekali bakiak tetep bakiak ! hidup bakiak ! " Bakiak teriak-teriak persis penghuni RSJ.
High heels cuma bisa mengurut dada melihat tingkah teman sekaligus musuh bebuyutannya itu.

"Terserah lo ajalah, kalo lo bahagia dengan wujud Bakiak bututlo, silahkan aja..tapi jangan sirik kalo gue diidam-idamkan sama semua perempuan, lo tau kan...Violet seleb dadakan itu cinta mati sama gue...weeee !"
High heels sibuk membanggakan dirinya yang udah dilamar sama Violet untuk jadi pasangan hidupnya sampe ajal memisahkan mereka. Terbayang di pelupuk matanya, Violet akan menguras dompet dalam-dalam untuk perawatan dirinya agar tak bocel.

Hari berganti malam, dari rumah Dee juragan becak yang meditnya tiada duanya, terdengar suara gaduh.
"Dasar Bakiak jelmaan setan !" kagak tau diuntung lo yee, gue udah setia sampe modyiaar sama lo.. tapi lo bikin pacar gue kesandung sampe babak belur, mulai sekarang gue kagak mau pake lo lagi...silahkan lo bermukim di tong sampah !"
"Tuiiiiiiing.....Glotakk!!!" dengan tubuh berkelontangan kena hantam tong sampah, Bakiak menjerit pilu..tak disangkanya Dee sahabat jiwanya dan satu-satunya harapannya di masa depan untuk menaikkan pamornya lagi agar bisa disukai masyarakat, dengan kejam membuangnya hanya lantaran kejailan dirinya bikin perhitungan pada pacar Dee yang di ketahui persis emang buaya darat.

"Dee..Dee..kalo aja lo tau siapa pacar lo yang sesungguhnya, lo gak bakalan tega menelantarkan gue kayak gini...mana tong sampah ini bau banget , belom lagi kalo tikus-tikus berkumis itu datang..bakalan habis tubuh semok gue kena perkosa gigi-gigi runcingnya...apes bener nasip gue!"  suara ratapan Bakiak terdengar membelah malam dengan riuhnya.

Tak berapa lama kemudian terdengar deru mesin mobil di jalan raya.
"Weeeesss...Klonteng!!!" tiba-tiba High heels mendarat dengan mulus di samping Bakiak butut dengan wajah merah padam menahan jengkel sambil mengaduh ngelus-ngelus body ringseknya.

Serta merta Bakiak butut terbahak-bahak melihat High heel yang senasip dengan dirinya.
"Bhuahahahaha...knapa lo High heels, katanya udah dilamar sama Violet untuk nemenin dia sepanjang hidupnya, ngapain lo nyangsang di sini ?" Bakiak bertanya dengan wajah sumringah sambil diam-diam mengucap sukur karena ada yang menemaninya di tong sampah berbau bacin tersebut.
"Bakiak, emang bener katalo waktu itu yaak...mau apapun bentuk alas kaki, tetap aja tempatnya di bawah, begitu ancur, udah pasti dibuang...salah gue juga percaya aja sama bacotnya si Violet itu...huhuhu!" sambil menangis lebay High heels menyusut air matanya.
"Pan udah gue bilang, lo sama gue tuh selevel martabatnya...sama-sama bikin orang kejengkang dengan sol kita yang tebel...kagak percaya sih lo !" dengan lugas dan penuh keyakinan diri, Bakiak sekonyong-konyong menoyor High heels dengan gemasnya.

"Iya deh Bakiak, mulai sekarang gue mau percaya kata-kata lo...daripada puyeng,mending kita ke pabrik sendal jepit di Bekasi yuuk, kali-kali aja pemiliknya mau merubah wujud kita jadi sendal jepit kayak dulu lagi, hidup kita pasti akan lebih nyaman dan kurasa tak ada manusia yang tak membutuhkannya !" ujar High heels.

"Tumben otaklo encer, High heels...biasanya lo bloon kayak si Violet, kesambet setan apaan lo ?" tanya Bakiak.

Dengan hidung kembang kempis menahan geer, High heels berkata dengan malu-malu.
"Ah, Bakiak jangan gitu dong...jelek-jelek gini kulit gue impor dari Jepang loh, pastinya pinter...kan tau makanan orang jepang adalah ikan yang mengandung omega buat pertumbuhan otak, emangnya lo makanannya tempe mlulu !" High heel berkata setengah meledek.
"Halaah, gausah banyak cingcong deh...brangkat sekarang aja yuuk, keburu malem !" sahut Bakiak.
"Yuukmareee...kita kemon !"

Sambil bergandengan tangan, Bakiak butut dan High heels  bernyanyi-nyanyi riang menyusuri jalan raya sambil berharap keajaiban terjadi dan tubuh mereka kembali menjadi sendal jepit yang disukai semua kalangan. 
Suara gaduh mereka berdua membuat pohon-pohon di sekitar muntaber saking muaknya melihat dua alas kaki itu berjalan bersisian, pemandangan yang langka di tengah semaraknya ibu kota Jakarta.
Sesampainya di Jalan Thamrin, terlihat demo memacetkan jalan raya. 
"Oiya, gue lupa kalo hari ini hari buruh..pastinya pabrik-pabrik pada tutup semua takut di demo!" kata Bakiak dengan muka pucat.
"Hah!" kenapa lo gak bilang daritadi !" sia-sia dong perjalanan kita barusan !" sontak High heels menghempaskan tubuhnya tiba-tiba pada halte terdekat. Mereka berdua terduduk lemas menyadari kenyataan pahit tersebut.. Dengan wajah putus asa keduanya saling terdiam sambil berharap ada tukang beling yang lewat dan berbaik hati mau memelihara mereka.


---------------------------------------THE END--------------------------------------------------


ps; cerita ini di buat  atas usul colmetku tercinta OEDIE JOHN, yang masih setia dengan bakiak brengseknya.....penyebab utama benjol dan memar di jidat penulis

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog