Rabu, 04 Mei 2011

Sosok Samar di balik Jeruji

Bukan kali pertama Laura mengamati gerak gerik Sophie, perempuan kurus bermata teduh namun tak pernah sekalipun terlihat senyuman di wajahnya. Baru sekitar lima bulan lalu Sophie pindah ke sebelah rumahnya, dan selama itu pula tak pernah di dapatinya seorangpun teman yang bertandang, bahkan sanak saudara pun tidak. 

"Hai Sophie, hendak berangkat kerja ?" 
"Oh, Laura ..masih sibuk memberi minum tanaman-tanamanmu yaa, mereka pasti amat bersyukur karena kau yang memelihara mereka!"  Sophie menjawab seolah bisa menyelami perasaan tanaman yang sedang kusiram pagi itu. 
Salah satu sebab Laura mulai menyukainya. 
Pagi itu Sophie pergi lengkap dengan setelan blazernya warna hitam, tas Guess  merah keluaran terbaru yang kulihat dalam katalog dan stiletto merah dengan tali. Penampilan yang pas untuk membawakan acara berita di televisi. Terlihat pembantunya tergopoh-gopoh membawakan diktat tebal dan satu tas besar yang entah berisi apa ke dalam Cherooke merah. Mobil yang sepantasnya cocok tuk di kendarai laki-laki.

Malamnya Laura memenuhi janji untuk "hang out" bersama teman lelaki yang baru sekitar sebulan di kenal dan sangat gigih melakukan pendekatan dengannya. Mereka janjian di Embrio Bar kemang, Laura menolak untuk di jemput karena belum terlalu bisa mempercayai siapapun yang belum terlalu lama di kenalnya. Pengalaman berpacaran dengan psikopat sinting membuatnya lebih berhati-hati. 
Suasana bar begitu riuh dan menghentak, terlihat abg berpakaian amat minim bertingkah agak menyakitkan mata. Berciuman dengan "panas" di sudut bar. Laura melengoskan pandang, enggan melihatnya.

"Kenapa kau terlihat bete laura, kepingin yaa seperti mereka ?" dengan mendelik jengkel, Laura hanya diam dan mendengus sebal.
Dengan sekali teguk diminumnya bacardi sprite, mengambil rokok dan menghembuskannya lalu gelas kedua berisi kahlua cream diminumnya juga untuk meredakan bosan.
Nat, teman lelaki Laura ternyata adalah sosok yang lumayan kharismatik. Pesonanya lumayan membius Laura pada pandangan pertama. Namun kali kedua ini mulai terlihat membosankan, pembicaraan yang diusung hanya seputar pekerjaannya sebagai pemilik show room mobil dan naik turun penjualannya, juga kerusuhan dan demo-demo yang memacetkan jalan. Nat tidak suka membaca, dia sangat membenci buku. Laura langsung lemas begitu mengetahuinya. Sementara Laura amat menyukai novel. Perbincangan mereka menjadi buntu, syukurlah saat itu didalam bar, setidaknya Laura masih bisa menikmati musik yang memekakkan telinga itu, dengan bantuan alkohol tentu saja.
Gelas ke lima, Laura mulai merasa enteng dan mual. Dengan terhuyung-huyung menuju ke toilet tuk memuntahkan isi perutnya. Nathan mengejarnya dan memapahnya ke toilet. memijat tengkuk laura pelan hingga keluar semua cairan pahit yang memabukkan itu sambil membisikkan kata-kata rayuan yang tak dihiraukan Laura, karena minuman tersebut sungguh membuat kepalanya berputar. 
Dalam toilet yang bersih itu, Nat mulai melakukan "flirting" pada Laura. Menciumi tengkuknya, pipi dan mendaratkan ciuman basah yang sama sekali tak dinikmati Laura. Betapa ingin Laura menyuruhnya untuk enyah saja, namun tubuhnya terlalu lemas untuk itu. Sampai ketika Nat mulai membuka kancing dadanya, Laura tersentak dan menguatkan diri keluar dari toilet itu. 
Makin merah padam muka Laura ketika ternyata di luar pintu toilet sudah ada sekitar lima orang yang menunggu dengan pandangan sebal. 
"Get a room!" salah satu dari mereka berkata dengan setengah teriak.
Laura tak ambil perduli, langsung berlari keluar dari bar itu dan mencegat taksi untuk pulang.
Tanpa membersihkan make up seperti yang biasa dilakukannya sebelum tidur, Laura langsung merebahkan diri di kasur dan tertidur dengan lelap.
Sinar matahari mengintip dari kisi jendela dan aroma kopi buatan mbok paryem membangunkan Laura dari tidurnya. Dirasakannya kepalanya masih "hang over" sisa alkohol semalam, Laura langsung bergegas ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi lalu pergi keteras sambil menenteng laptop dan kopi di kedua belah tangan.

Terdengar suara motor di hidupkan, rupanya Sophie tengah memanaskan mesinnya. 
"Hai Sophie, sudah mau berangkat lagi..kau amat sibuk rupanya ya ?"
"Ah, tidak laura..hanya mau melakukan survey ke beberapa tempat, kulihat kau pulang sendirian subuh tadi tapi tampaknya terlalu mabuk untuk melihatku yang sedang duduk di teras sini !" 
Sophie berkata sambil menaikkan satu alisnya dengan sedikit senyum misterius di wajahnya.
"Ya, seorang cowo brengsek mencoba mengambil keuntungan dari mabukku semalam, tapi aku berhasil kabur dan bersyukur bahwa ternyata dia bukan pria yang tepat !" 
Laura menyahut enteng sambil meredakan emosi yang sebenarnya mulai menghinggapinya jika mengingat kejadian semalam.

Jelang siang itu Sophie terlihat bercelana jeans dan kaos hitam dengan tas ransel, sepatu sneaker, dan berambut cepak setengah basah. Penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Mobilnya pun tak ada, hanya sepeda motor butut dengan suara yang meraung-raung. Laura terperangah, betapa mudah Sophie berganti penampilan seperti itu.
"Kamu kerja dimana, Sophie ?
"Kerjaku di semesta, membantu kaum pinggiran untuk mendapatkan apa yang selayaknya mereka dapatkan. Sesekali membuat artikel di majalah dan koran, apa saja untuk menyambung hidup dan menggaji pembantu !" Sophie berkata dengan sedikit senyum di bibirnya, pemandangan yang langka buat Laura

"Keluargamu dimana, Sophie ?
"Keluargaku di Semarang, dan aku pindah ke Jakarta karena mamaku meminta untuk segera menikah sebab menurutnya anak perempuan kodratnya harus di rumah dan mengurus suami dan anak-anak, sementara aku belum siap untuk itu, kau lihat sendiri aku lebih senang hidup sendiri tanpa beban mental yang mungkin buatku jadi gila nantinya. 

Laura menemukan sesuatu yang di sembunyikan di mata Sophie, kesedihan yang samar. 
Hari berjalan dengan lambat, Nat kembali mendekati Laura dan melakukan seribu cara untuk meminta maaf. Laura akhirnya mau memaafkan, karena menurutnya jika seseorang telah meminta maaf maka tak ada alasan untuk tak memaafkan. Kesalahannya yang kedua.

"Laura, kau cinta padaku ?" Nat bertanya sambil menggenggam tangan Laura.
"Entahlah, menurutmu bagaimana ?" Laura balik bertanya sambil melemparkan pandangan kosong ke arah pohon palem di teras.
"Boleh aku mencium bibirmu, Laura ?"
Laura mendengus kesal.
"Kenapa sih kaum laki-laki selalu saja membuat pernyataan cinta di akhiri dengan pertukaran air liur di bibir, dan kurasa akan berlanjut ke situasi yang kalian inginkan !" 
"Apa maksudmu Laura ? " Aku mencintaimu, sayang...mengapa kau selalu berfikiran buruk tentangku, jika tak bolehpun tak apa, aku tak memaksamu, honey !" Nat menukas sambil memasang muka polos seperti anjing yang kehilangan tulang, dan Laura jatuh iba.
"Oh, sorry Nat..hanya saja pengalaman burukku dengan sejumlah pria memaksaku tuk selalu waspada, wajar saja, kan ?"
"Ya, aku mengerti, honey....tapi kau harus berusaha mempercayai seseorang, apakah kau tak bisa lihat kesungguhanku ?" Nat melepaskan genggamannya, sorot matanya memancarkan pandangan geram dan dingin.
"Jika kesungguhan yang kau maksud adalah mencoba mencumbuiku di tiolet bar, kurasa sudah sepatutnya aku tak mempercayaimu !" 
"Padahal aku mulai mencintaimu, Laura..kalau saja kau tak menolakku begitu rupa, kurasa kita bisa sama-sama menikmati permainan ini!" 
"Permainan apa maksudmu, Nat ?" 
 Tiba-tiba Nat membekap mulut Laura, menamparnya hingga terhempas di sofa dan menindih tubuhnya.
Laura terkesiap dengan darah yang membasahi bibirnya. Tangan kanannya refleks menjangkau vas bunga yang terletak di meja tamu, dengan sekuat tenaga dihantamkannya ke kepala Nat, hingga membuat kening Nat robek dan sedikit berdarah.
"PEREMPUAN SUNDAL !" kau kira tubuh lemahmu bisa melawanku, heh !"
"DUGHH !"
Nat meninju rahang dan wajah Laura berkali-kali sambil menyeringai lebar.
"Hayo, lawan aku perempuan setan !" 
Laura sudah tak punya tenaga, kepalanya terasa limbung dengan kerlap-kerlip bintang yang seolah mengitarinya.

Tanpa di duga darimana datangnya, Sophie terlihat merenggut tubuh Nat dan memakinya dengan suara yang tak pernah di dengar Laura sebelumnya.
"LELAKI BIADAB, MAU APA KAU BANGSATT !!!"
"Oh, ada satu lagi bunga yang ingin kuhisap rupanya, kemari manis..kau ingin merasakan juga kejantananku, heh!" dengan senyum bengis Nat berkata dengan suara pelan tapi menakutkan. Dicengkramnya leher Sophie, lalu Sophie menendangnya di selangkangan hingga Nat mengaduh kesakitan. Tapi tak mengurangi kekuatannya, di hajarnya Sophie berkali-kali dan Laura dengan kepala masih pening spontan mengambil pisau yang terletak di meja makan lalu mendekat ke arah Sophie dan menikam pinggang Nat dengan seluruh kekuatannya. Nat pun tumbang sambil mendesis kesakitan, Laura yang diliputi emosi mencabut pisau itu dari pinggang Nat dan menghujamkan sekali lagi ke jantungnya. 
"Mati kau bangsat !" dengan tangan masih memegang pisau yang berlumuran darah Laura mendekati Sophie sambil terisak.
"Sophie, mengapa kau tak lapor polisi dan malah melawan Nat sendirian ?" 
Terlihat senyum di wajah Sophie, terlihat cantik lebih dari biasanya.
"Laura, aku bangga padamu..jangan sekali-kali kau biarkan siapapun menyakitimu, bahkan orang terkuat dan berkuasa sekalipun !"
"Tapi Sophie, aku mungkin tlah membunuhnya, masuk penjara dan semua akibat kebodohanku yang begitu mudah mempercayai laki-laki !"
"Segala sesuatu terjadi karena memang terjadi Laura, kau hanya membela dirimu !"

Kemudian Sophie menggenggam tangan Laura yang masih gemetar memegang pisau dan berlumuran darah, dilemparnya pisau itu jauh-jauh.

Tiga bulan berlalu, setelah kejadian itu Sophie mendekam di penjara karena ngotot bilang kepada pihak yang berwajib bahwa dia yang membunuh Nat karena marah melihat kejahatannya. Dengan teratur dan rasa bersalah yang terus menghinggapi, Laura rutin mengunjungi Sophie di rumah tahanan. 

"Mengapa kau lakukan itu Sophie, mengapa kau mengakui kejahatan yang tak kau lakukan ?" tak sanggup Laura menahan laju air matanya jika menjenguk Sophie di penjara.
"Stop crying, Laura...aku bosan hidup di luar sana, semua penuh kemunafikan..kuharap di dalam sel ini aku bisa mencari makna hidup yang sesungguhnya, toh aku bisa setiap saat berhubungan dengan dunia luar melalui laptop dan hape, tak ada bedanya Laura !"

Sepulangnya dari rumah tahanan itu, Laura mendapat berita yang mengejutkan. Ternyata Sophie adalah seorang anak Danjen Kopassus tapi sudah lama memutuskan untuk hengkang dari keluarganya karena tau betul seluk beluk pemerintahan yang membuatnya muak, dari penyerobotan tanah milik perorangan bahkan suatu kelembagaan semua bisa terjadi karena ada pertalian kepentingan yang sudah mengakar kuat. Sophie sangat membenci ayahnya, yang pernah masuk berita sampai koran mancanegara perihal membungkuknya ayahnya di hadapan seorang anak penguasa negri ini yang bahkan sudah berpulang.  Terlihat jelas bagaimana kehormatan dan kewibawaan seseorang jatuh karena balas budi, karena konon ayahnya dulu di biayai pendidikannya oleh salah satu bekas penguasa negara ini. Sungguh menyedihkan.

Laura tak mengerti mengapa Sophie sampai bertindak sefrontal itu dan mengingkari keluarganya. Tapi yang Laura mengerti kini adalah betapa Sophie perduli padanya dan bersedia berkorban untuknya. Laura mulai mencintainya, ada perasaan hangat ingin selalu memeluk tubuh Sophie meski dia menyadari bahwa Sophie adalah seorang perempuan, sama seperti dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog