pernahkah kau dengar, desir angin yang bertiup kala bunga menunduk khidmad terhunus rindunya pada kumbang yang lahap habis sari madunya. bertolak dari buaian menuju sangkar penjelmaan tetirah para dewa yang berasik mashuk menggulung sahaya nya tuk tunduk di ujung telapak mereka. sebut saja ia tuli atau membuta pada jeritan hatinya sendiri, diabaikannya khianat yang tebas kerongkongan dan sumbat aliran udara hingga buatnya tersungkur dalam tangis tak berkesudahan.
serentak rinai hujamkan perih di tiap pori melesak jauh iris iris nadi hingga yang tertinggal hanyalah nyeri di ulu hati. mengapa tak bisa, sejenak tinggalkan saja lara itu di belakang, toh ia tak lebih dari alang alang yang halangi pandang. saat kelopak membuka, disana ada cahaya berpelangi ribuan cerita. hujan tahta kan janjinya pada bumi tuk selalu mendinginkan suasa

0 komentar:
Posting Komentar